Kanal24, Malang – Dalam rangka mendukung SDG 13 dan SDG 17, kawasan hutan pendidikan tidak hanya membutuhkan pepohonan untuk tetap lestari. Aktivitas manusia di dalamnya juga membawa persoalan lain yang tak kalah penting, yakni sampah. Ketika pengunjung dan sivitas datang membawa berbagai kebutuhan dari luar kawasan, sampah pun berpotensi tertinggal dan menjadi beban lingkungan.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam Global Care Week di Pendopo UB Forest, Buntoro, Malang, Senin (5/10/2026). UPT UB Green Campus bersama UPT Pengelola Kawasan Hutan Universitas Brawijaya, LyondellBasell Advanced Polyolefins (LYB), Desa Hijau, dan iLitterless mendorong pengelolaan sampah sekaligus memperkuat upaya penghijauan melalui penanaman bibit dan penyediaan fasilitas pemilahan sampah.
Baca juga:
AKSARA BERDAYA 2026 Dorong Ruang Digital Aman
Sampah Jadi Persoalan di Kawasan Hutan
Kepala UPT Pengelola Kawasan Hutan Universitas Brawijaya, Dr. Mochammad Roviq, mengatakan sampah menjadi salah satu persoalan krusial yang dihadapi kawasan hutan, termasuk UB Forest.

Sebagai kawasan hutan pendidikan, UB Forest menjadi ruang berbagai aktivitas tridarma perguruan tinggi. Kehadiran mahasiswa, sivitas akademika, dan pengunjung secara tidak langsung turut membawa sampah dari luar kawasan.
“Tidak kita pungkiri bahwa setiap aktivitas itu sebagian besar pasti membawa sampah dari luar. Inilah yang sebenarnya kami berharap dengan kolaborasi hari ini LYB dan UB Green Campus bisa membantu kami dalam memecahkan permasalahan sampah yang dibawa ke hutan,” ujar Dr. Roviq.
Karena itu, pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan larangan membuang sampah sembarangan. Dibutuhkan fasilitas sekaligus sistem yang membuat pengunjung memiliki pilihan untuk mengelola sampah dengan benar.
Penanaman dan Pemilahan Jadi Satu Kesatuan
Selain persoalan sampah, Global Care Week juga diisi dengan penanaman sejumlah bibit di kawasan UB Forest. Dr. Roviq menjelaskan kegiatan tersebut menjadi bagian dari kewajiban kawasan hutan pendidikan untuk terus melakukan rehabilitasi dan penanaman.
Menurutnya, keberadaan tanaman memiliki fungsi ekologis yang lebih luas, mulai dari menyediakan pakan bagi satwa liar, menjaga ketersediaan air, hingga membantu mengurangi degradasi lahan.
“UB Forest sebagai hutan pendidikan memiliki kewajiban untuk selalu melakukan rehabilitasi dan penanaman. Artinya ini adalah langkah kita untuk meningkatkan biodiversitas,” jelasnya.
Di sisi lain, UB Forest juga menerima bantuan tempat sampah dengan sistem pemilahan. Fasilitas tersebut membedakan sampah organik, anorganik, dan sampah berbahaya.
Dr. Roviq menilai keberadaan fasilitas tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan memilah sampah bagi pengunjung kawasan.
Menurutnya, ketika sampah sudah dipilah, material tersebut tidak harus berakhir sebagai limbah. Sampah plastik, misalnya, dapat dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna bahkan berpotensi mendatangkan pendapatan bagi masyarakat.
LYB Siapkan Program Lima Tahun
Presiden Direktur PT LyondellBasell Advanced Polyolefins , Dr. Rakhma Febriani, mengatakan bantuan yang diberikan dalam Global Care Week merupakan bagian dari program yang dirancang berkelanjutan.

Bantuan tersebut mencakup tempat sampah terpilah dan bibit tanaman. Menurutnya, fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu pengunjung membuang sampah sesuai kategorinya sekaligus memperkaya vegetasi di kawasan UB Forest.
“Dengan itu maka adalah suatu inisiasi jadi kegiatan awal supaya seluruh pengunjung dari UB Forest ini bisa memanfaatkannya dengan pembuang sampah pada tempatnya,” ujarnya.
Dr. Rakhma menegaskan kerja sama LYB dengan Universitas Brawijaya dapat mendukung SDG 17 serta pada kegiatan ini juga secara tidak langsung berkontribusi pada SDG 13, tidak berhenti pada kegiatan tersebut. Program lingkungan akan dikembangkan secara bertahap, mulai dari fasilitas pemilahan hingga pengolahan sampah.
“Ini adalah program berkelanjutan terus enggak akan berhenti. Sementara kami ada program jangka panjang selama 5 tahun dengan berbagai macam action yang kita lakukan bersama UB Forest dan juga UB Green Campus,” katanya.
Menurutnya, LYB juga akan melakukan pemantauan secara berkala sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam riset dan pengembangan teknologi. Harapannya, pengelolaan sampah di UB Forest tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi berkembang menjadi sistem yang mampu memberikan manfaat ekologis dan ekonomi secara berkelanjutan. (ern)













