Kanal24, Malang – Sebuah komentar di media sosial mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis. Namun, bagi orang yang menerimanya, kalimat tersebut bisa meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang. Persoalan inilah yang menjadi perhatian Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (BEM FTAB) Universitas Brawijaya (UB).
Melalui AKSARA BERDAYA 2026, BEM FTAB UB mengajak mahasiswa melihat kembali batas antara kebebasan berekspresi dan pelecehan di ruang digital. Kegiatan bertema “Pelecehan Digital pada Kolom Komentar dalam Berbagai Platform Media Sosial” tersebut digelar di Gedung Widyaloka UB, Jumat (2/10/2026).
Baca Juga:
UB Ukur Persepsi Integritas, Perkuat Budaya Antikorupsi di Kampus
Pelecehan Digital Masih Dinormalisasi
Ketua Pelaksana AKSARA BERDAYA 2026, Hayu Tarisa Khanza, mengatakan kegiatan utama dikemas dalam bentuk talk show bersama narasumber yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Rangkaian tersebut ditujukan untuk membuka ruang diskusi mengenai persoalan pelecehan digital yang masih ditemukan di media sosial.

“Untuk rangkaiannya, rangkaian utamanya pastinya ada talk show dengan narasumber kita, kemudian ada sesi tanya jawab juga. Itu sih yang paling utama,” ujar Hayu.
Kegiatan ini menargetkan sekitar 300 peserta. Menurut Hayu, jumlah tersebut diharapkan dapat memperluas pembahasan mengenai bagaimana pengguna media sosial berinteraksi dan menyampaikan komentar secara bertanggung jawab.
Ia menilai, persoalan pelecehan digital tidak dapat dipandang sebatas tulisan atau komentar yang selesai setelah dikirim. Kalimat yang ditulis tanpa mempertimbangkan dampaknya dapat memengaruhi kondisi psikologis penerima, bahkan berpotensi meninggalkan trauma.
Karena itu, AKSARA BERDAYA 2026 diharapkan dapat mendorong peserta untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial sekaligus memahami bahwa setiap interaksi digital memiliki konsekuensi.
BEM FTAB Bangun Kesadaran
Menteri Kontra Dominasi Gender BEM FTAB UB 2026, Falisha Mutiara Febrianne, menjelaskan pemilihan tema tersebut berangkat dari masih ditemukannya pelecehan seksual di kolom komentar yang justru dianggap sebagai hal biasa.

“Kami pengin membentuk kesadaran dari masyarakat, terutama di Universitas Brawijaya sendiri, bahwa hal-hal tersebut tidak bisa dinormalisasikan,” jelas Falisha.
Menurutnya, persoalan tersebut sejalan dengan fokus Kementerian Kontra Dominasi Gender BEM FTAB UB yang turut menangani isu kekerasan seksual dan perundungan. AKSARA BERDAYA 2026 kemudian menjadi salah satu langkah untuk membawa pembahasan tersebut ke ruang yang lebih dekat dengan keseharian mahasiswa, khususnya media sosial.
Dalam pelaksanaannya, BEM FTAB UB juga memberikan dukungan terhadap proses persiapan kegiatan, baik dari sisi pendanaan maupun dukungan kepada panitia. Dukungan tersebut diberikan agar kegiatan dapat dipersiapkan secara matang sekaligus menjadi ruang belajar bagi panitia dalam mengangkat isu pelecehan digital.
Wujudkan Ruang Aman dan Inklusif
Falisha berharap pembahasan dalam AKSARA BERDAYA 2026 tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Kesadaran yang dibangun diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berinteraksi secara langsung maupun saat menggunakan media sosial.
“Kami berharap terutama di lingkup Universitas Brawijaya terlebih dahulu memiliki ruang lingkup yang aman, yang inklusif, baik itu di media sosial maupun kesadaran di real life,” kata Falisha.
Harapan serupa juga disampaikan Hayu. Ia ingin peserta tidak hanya memahami bentuk-bentuk pelecehan digital, tetapi juga semakin bijak dalam menggunakan media sosial. Kesadaran tersebut penting agar pengguna memahami bahwa komentar yang dianggap sederhana dapat memberikan dampak panjang bagi orang lain.
Melalui AKSARA BERDAYA 2026, BEM FTAB UB berupaya mendorong perubahan cara pandang terhadap interaksi di ruang digital. Pelecehan tidak lagi dianggap sebagai candaan atau sesuatu yang wajar, tetapi perlu disikapi dengan kesadaran, empati, dan tanggung jawab. (gal)













