Kanal24, Malang – Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) mendorong perguruan tinggi untuk tidak hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan akademik, tetapi juga pengalaman dalam menyelesaikan persoalan nyata. Pemanfaatan AI semakin meluas di berbagai sektor, termasuk pemerintahan dan layanan sosial, sehingga kebutuhan terhadap talenta digital yang mampu memahami sekaligus menerapkan teknologi menjadi semakin penting.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu fokus dalam AI Talent Framework (AITF) 2026 Batch 2, hasil kolaborasi Universitas Brawijaya (UB), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Kementerian Sosial (Kemensos). Workshop AITF digelar di Malang, Senin (5/10/2026), dengan membahas pengembangan solusi berbasis AI untuk membantu pemantauan aktivitas siswa Sekolah Rakyat jenjang SD dan SMP. Kegiatan tersebut menjadi forum untuk memvalidasi kebutuhan sebelum mahasiswa mengembangkan prototype yang akan diuji di lapangan.
Baca juga:
AKSARA BERDAYA 2026 Dorong Ruang Digital Aman (BERITA 1)
UB Kembangkan AI untuk Sekolah Rakyat
Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., menjelaskan AITF merupakan program pengembangan talenta digital yang telah berjalan dalam beberapa batch. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengerjakan persoalan nyata yang berasal dari kebutuhan pemerintah maupun dunia industri.
Pada pelaksanaan sebelumnya, mahasiswa UB terlibat dalam pengembangan solusi untuk kebutuhan pengawasan judi online yang kemudian telah dimanfaatkan oleh Komdigi. Pada 2026, kolaborasi AITF diperluas dengan melibatkan tiga perguruan tinggi, yakni UB, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Politeknik Negeri Padang.
Untuk AITF 2026 Batch 2, UB mendapat use case dari Kemensos yang berkaitan dengan Sekolah Rakyat. Use case tersebut memiliki perbedaan dengan proyek sebelumnya karena sasaran yang dikembangkan kali ini adalah siswa jenjang SD dan SMP.
“Kalau sebelumnya adalah Sekolah Rakyat untuk tingkat SMA, yang sekarang ini tingkat SD dan SMP,” ujar Tri.
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Komdigi, Dr. Gunawan Hutagalung, S.T., M.T., mengatakan kebutuhan terhadap sistem monitoring tersebut berkaitan dengan karakteristik Sekolah Rakyat yang menerapkan sistem asrama.
Kondisi tersebut membuat pengawasan aktivitas siswa menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat. Teknologi AI diharapkan dapat membantu wali asrama melakukan pemantauan secara lebih efektif tanpa harus terus-menerus mengawasi layar kamera secara manual.
Prototype Monitoring Berbasis AI
Solusi yang dikembangkan mahasiswa diarahkan menjadi prototype sistem monitoring berbasis AI. Sistem tersebut nantinya diharapkan mampu mengenali aktivitas tertentu melalui kamera pengawas dan memberikan peringatan apabila ditemukan kondisi yang berada di luar batas pengawasan yang telah ditentukan.
“Konsepnya aplikasi, tapi itu berbasis AI sehingga kemudian bisa dideteksi apakah ini kegiatan yang masih dalam batas yang kita tolerir ataukah itu sudah di luar kontrol kita dan itu akan memberikan alert kepada para wali asrama,” jelas Gunawan.
Menurutnya, sistem tersebut juga akan diintegrasikan dengan kamera pengawas yang sudah tersedia. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemantauan CCTV secara terus-menerus oleh petugas.
Meski demikian, pengembangan sistem tidak hanya mempertimbangkan aspek teknologi. Karena objek pemantauan merupakan siswa SD dan SMP, aspek psikologis dan perlindungan anak juga menjadi pertimbangan dalam proses perancangan.
Gunawan menegaskan bahwa teknologi harus dikembangkan sesuai kebutuhan dan karakteristik lingkungan Sekolah Rakyat. Karena itu, proses validasi menjadi bagian penting sebelum prototype diterapkan.
Prototype yang dihasilkan mahasiswa selanjutnya direncanakan untuk diuji coba di wilayah Bogor, Bekasi, dan Depok. Tahap tersebut menjadi kesempatan untuk menguji apakah sistem yang dikembangkan benar-benar mampu menjawab persoalan di lapangan sekaligus melihat kebutuhan penyempurnaan sebelum digunakan lebih luas.
AITF Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja
Ketua Pelaksana AITF 2026, Rizal Setya Perdana, S.Kom., M.Kom., Ph.D., mengatakan workshop tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan solusi yang dikembangkan mahasiswa sesuai dengan persoalan yang dihadapi pemilik masalah.
Dalam workshop, pihak Kemensos memaparkan use case yang menjadi dasar pengembangan. Mahasiswa kemudian berdiskusi dan melakukan tanya jawab untuk memperjelas kebutuhan sistem. Proses tersebut dilakukan agar solusi yang dirancang tidak hanya tepat secara teknis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pengguna.
“Workshop ini fokusnya supaya apa yang ingin kita kerjakan selanjutnya itu memang benar-benar sesuai. Karena apabila requirement-nya tidak tepat, sistem yang dihasilkan nanti akan bermasalah,” kata Rizal.
Mahasiswa yang mengikuti AITF juga mendapatkan pendampingan dari dosen serta tim Komdigi. Pendampingan tersebut memungkinkan mahasiswa memperoleh umpan balik selama proses pengembangan, termasuk ketika menghadapi kendala teknis maupun ketika perlu menyesuaikan rancangan dengan kebutuhan pemilik masalah.
Tri menilai pengalaman mengerjakan proyek nyata menjadi bekal penting bagi mahasiswa di tengah perubahan dunia kerja akibat perkembangan AI. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki transkrip nilai maupun sertifikasi, tetapi juga membutuhkan pengalaman menerapkan teknologi untuk menyelesaikan persoalan konkret.
“Makanya kemudian kami memberikan enrichment atau pengayaan dalam bentuk terekspos dengan masalah-masalah riil di dunia industri dan pemerintahan,” jelas Tri.
Gunawan menambahkan bahwa pengalaman proyek AI dapat menjadi nilai tambah bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja. Kemampuan mengadopsi AI untuk mendukung pekerjaan, merumuskan strategi, serta menyelesaikan persoalan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan.
Melalui AITF 2026 Batch 2, kolaborasi UB, Komdigi, dan Kemensos tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan prototype teknologi bagi Sekolah Rakyat, tetapi juga membangun pengalaman mahasiswa dalam mengembangkan solusi AI yang relevan dengan kebutuhan nyata.(ffn)













