Kanal24, Malang – Potensi lokal Desa Kejapanan, Kabupaten Pasuruan, mulai diarahkan menjadi bagian dari pengembangan wisata edukatif yang melibatkan masyarakat. Penguatan tersebut dilakukan melalui pendampingan model bisnis dan sumber daya manusia (SDM) untuk mengembangkan Eduwisata Taman Lumbung Pangan Nusantara.
Tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya (UB) melaksanakan pendampingan di Aula Satria Majura, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Senin (5/10). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Focus Group Discussion (FGD) yang telah dilaksanakan pada 18 Juli 2026.
Baca Juga:
Flu Bukan Sekadar Batuk dan Demam, Kenali Tanda Bahayanya
Potensi Desa Dipetakan untuk Eduwisata
Kegiatan dimoderatori oleh Dr. Abd. Qadir Muslim, S.Pd.I., M.Pd., dan diawali dengan sambutan Kepala Desa Kejapanan Randi Saputra. Ia menyampaikan harapan agar pengembangan eduwisata dapat mendukung kemajuan desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui keterlibatan usaha lokal.
Desa Kejapanan memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata edukatif. Salah satunya adalah 93 rumah tangga pembuat pia yang berpotensi terlibat dalam aktivitas eduwisata sekaligus memperkuat usaha masyarakat.
Potensi lainnya berasal dari sektor pendidikan. Desa Kejapanan memiliki 32 sekolah yang terdiri atas 24 taman kanak-kanak dan delapan sekolah dasar. Keberadaan sekolah tersebut dapat menjadi salah satu pasar awal bagi pengembangan eduwisata, khususnya untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas.
Ketua Tim Doktor Mengabdi UB, Mukhammad Kholid Mawardi, S.Sos., M.AB., Ph.D., menyampaikan materi “Pengembangan Model Bisnis Eduwisata Taman Lumbung Pangan Nusantara”. Ia mengajak peserta menghubungkan berbagai aset desa menjadi pengalaman wisata edukatif yang memiliki nilai ekonomi dan sasaran pengunjung yang jelas.

Pemetaan tersebut dilakukan menggunakan Business Model Canvas (BMC). Peserta diajak mengidentifikasi berbagai komponen yang dibutuhkan untuk membangun model bisnis eduwisata, termasuk menentukan segmen pengunjung yang potensial.
Segmen tersebut mencakup sekolah dari dalam maupun luar desa, rombongan study tour, perusahaan di kawasan industri, serta kelompok pengunjung lainnya. Pemaparan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama peserta.
Pengelola Disiapkan Layani Wisatawan
Selain model bisnis, kesiapan pengelola menjadi bagian penting dalam pengembangan Eduwisata Taman Lumbung Pangan Nusantara. Penguatan SDM diperlukan agar kegiatan wisata dapat berjalan secara mandiri dan memberikan pelayanan yang baik kepada pengunjung.
Materi “Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengelola Eduwisata” disampaikan Misbahuddin Azzuhri, S.E., M.M., Ph.D. Materi tersebut menekankan kesiapan pengelola dalam menjalankan pelayanan sehari-hari sekaligus pentingnya pembagian peran antarunsur masyarakat.
Pengelolaan eduwisata diarahkan melibatkan koordinator eduwisata, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Karang Taruna, PKK, kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta pemerintah desa.
Penguatan kapasitas juga mencakup pemerataan kemampuan memandu, peningkatan keterampilan digital, pengurangan ketergantungan terhadap beberapa penggerak, serta regenerasi melalui keterlibatan generasi muda.
Tim Doktor Mengabdi UB turut memperkenalkan standar dasar kepemanduan. Pengelola diarahkan mampu menyambut pengunjung, menjelaskan objek yang dapat diamati, mendampingi wisatawan ketika mencoba aktivitas, menangani keluhan, serta menjaga keselamatan selama kunjungan.
Kemampuan tersebut diharapkan membuat pengelola mampu memberikan pelayanan secara mandiri sekaligus menciptakan pengalaman wisata yang informatif dan nyaman bagi pengunjung.
Peserta Praktik Rancang Model Bisnis
Setelah menerima materi, peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mempraktikkan penyusunan Business Model Canvas sebagai rancangan pengembangan eduwisata.
Setiap kelompok memetakan komponen model bisnis berdasarkan potensi dan kondisi Desa Kejapanan. Hasil diskusi kemudian dipresentasikan kepada peserta lainnya dan mendapatkan masukan dari Tim Doktor Mengabdi UB.
Praktik tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menerapkan langsung materi yang telah disampaikan. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai model bisnis, tetapi juga menyusun gagasan berdasarkan potensi lokal yang tersedia.
Pengembangan Eduwisata Taman Lumbung Pangan Nusantara selanjutnya diharapkan mampu menghubungkan kegiatan pertanian, pembelajaran, dan usaha lokal dalam satu pengalaman wisata berbasis masyarakat.
Melalui penguatan model bisnis dan SDM, Tim Doktor Mengabdi UB berharap eduwisata di Desa Kejapanan dapat berkembang secara berkelanjutan. Keterlibatan berbagai unsur masyarakat juga diharapkan memperluas manfaat ekonomi sekaligus mendorong kemajuan desa. (gal)













