Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menyiapkan 100 mahasiswa untuk menjadi first responder dalam menghadapi situasi darurat di lingkungan kampus. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan sistem Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) serta pengembangan Emergency Medical Team (EMT) berbasis universitas.
Penguatan tersebut akan dilakukan melalui workshop yang dijadwalkan pada 18–19 Oktober 2026. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga diarahkan untuk membangun sistem tanggap darurat yang terintegrasi di tingkat universitas.
Baca juga:
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Kalahkan Thailand
Perkuat Sistem Respons Darurat
Lingkungan perguruan tinggi memiliki beragam aktivitas yang berpotensi menghadirkan risiko, mulai dari kegiatan perkuliahan, praktikum, penelitian, hingga aktivitas organisasi dan kegiatan lapangan. Kondisi tersebut membutuhkan sistem keselamatan yang mampu bekerja secara cepat ketika terjadi keadaan darurat.
Karena itu, pengembangan EMT menjadi salah satu bagian penting dalam penguatan kesiapsiagaan UB. Sistem tersebut diharapkan mampu menghubungkan unsur medis, keselamatan, keamanan, hingga sivitas akademika dalam satu mekanisme respons yang lebih terkoordinasi.
Workshop ini menargetkan tersusunnya protokol operasional EMT yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menghadapi keadaan darurat. Selain itu, UB juga menargetkan terbentuknya sistem manajemen K3L yang lebih terstandarisasi di tingkat universitas.
Dengan sistem tersebut, penanganan keadaan darurat tidak hanya bergantung pada respons setelah insiden terjadi. Upaya pencegahan, mitigasi risiko, kesiapsiagaan, hingga pemulihan juga menjadi bagian dari sistem keselamatan yang dibangun.
100 Mahasiswa Jadi Garda Awal
Pembentukan 100 first responder menjadi salah satu target utama program. Mahasiswa yang mendapatkan pembekalan diharapkan mampu memberikan respons awal ketika terjadi kondisi darurat sebelum bantuan lanjutan datang.
Posisi mahasiswa dinilai strategis karena mereka merupakan bagian terbesar dari komunitas kampus. Aktivitas mahasiswa juga berlangsung di berbagai lokasi dan waktu, sehingga keberadaan first responder dapat memperluas jangkauan sistem tanggap darurat universitas.
Dalam kondisi tertentu, mahasiswa yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian dapat menjadi pihak pertama yang melakukan tindakan awal. Mereka diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan praktis untuk menghadapi situasi darurat serta mengetahui prosedur yang harus dilakukan untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.
Pembentukan first responder sekaligus mendorong perubahan cara pandang terhadap keselamatan kampus. K3L tidak hanya menjadi tanggung jawab unit atau petugas tertentu, tetapi menjadi bagian dari kesadaran seluruh sivitas akademika.
Selain membentuk 100 mahasiswa, program ini juga menargetkan peningkatan kapasitas personel serta penyusunan dan distribusi dua jenis buku panduan komprehensif. Panduan tersebut diharapkan menjadi acuan praktis dalam menghadapi berbagai situasi darurat di lingkungan UB.
Menuju Kampus Tangguh Bencana
Pengembangan EMT dan penguatan K3L menjadi bagian dari upaya UB mewujudkan perguruan tinggi yang tangguh menghadapi bencana dan krisis. Kampus tangguh tidak hanya dituntut mampu merespons ketika kejadian berlangsung, tetapi juga memiliki kemampuan mengurangi risiko serta memulihkan aktivitas setelah terjadi gangguan.
Melalui program ini, UB juga mendorong peningkatan standar keselamatan agar semakin selaras dengan praktik internasional. Salah satu arah pengembangannya adalah penyelarasan dengan standar seperti ISO 45001 serta praktik EMT global.
Peningkatan standar tersebut diharapkan memperkuat keamanan lingkungan akademik sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat. Sistem keselamatan yang baik juga menjadi modal penting bagi UB dalam membangun lingkungan yang aman bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, peneliti, maupun komunitas internasional.
Tidak berhenti pada aspek keselamatan internal, sistem K3L dan EMT yang semakin kuat juga membuka peluang kolaborasi dengan institusi lain, termasuk mitra internasional. Bidang mitigasi bencana, manajemen krisis, kesehatan kerja, hingga kesehatan mental menjadi bagian yang dapat dikembangkan melalui kerja sama tersebut.
Pada akhirnya, penguatan K3L dan EMT diarahkan untuk membangun budaya keselamatan yang berjalan secara berkelanjutan. Pengetahuan dan keterampilan tanggap darurat diharapkan tidak berhenti di ruang workshop, tetapi diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan kampus.
Melalui pembentukan first responder, penyusunan protokol EMT, standardisasi sistem K3L, serta penyediaan panduan tanggap darurat, UB menempatkan kesiapsiagaan sebagai bagian penting dari penguatan kampus tangguh. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi agar sivitas akademika mampu mencegah risiko, merespons keadaan darurat dengan cepat, dan kembali beraktivitas secara efektif setelah menghadapi krisis. (ern)













