Kanal24, Malang – Pernah mendapatkan hasil yang sebenarnya cukup baik, tetapi justru sibuk memikirkan satu kesalahan? Atau merasa pencapaian hari ini masih belum sebanding dengan orang lain? Kebiasaan tersebut bisa menjadi gambaran seseorang yang terlalu keras terhadap dirinya sendiri. Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai self-critical, yaitu ketika seseorang terus menilai diri secara negatif dan terlalu fokus pada kekurangan.
Menjadi kritis terhadap diri sendiri sebenarnya bukan hal buruk. Evaluasi dapat membantu seseorang belajar dari kesalahan. Namun, ketika kritik berubah menjadi kebiasaan menyalahkan diri, proses tersebut justru bisa melelahkan.
Baca Juga:
8 Game Horor 2026 yang Wajib Masuk Wishlist, Berani Main Sendirian?
Saat Pencapaian Tak Pernah Terasa Cukup
Orang yang terlalu self-critical sering kesulitan menikmati pencapaiannya sendiri. Ketika berhasil menyelesaikan pekerjaan, perhatian justru tertuju pada bagian yang dianggap kurang.
“Seharusnya aku bisa lebih baik.”
“Aku tadi salah.”
“Kenapa orang lain bisa, sedangkan aku tidak?”
Pikiran seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus berulang, seseorang dapat terbiasa melihat dirinya melalui kekurangan.
Media sosial juga dapat memperkuat kebiasaan tersebut. Melihat pencapaian orang lain setiap hari membuat seseorang mudah membandingkan kehidupannya dengan apa yang muncul di layar. Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Proses, kegagalan, dan masalah di balik sebuah pencapaian tidak selalu terlihat.
Kritik Diri Bukan Berarti Harus Menjatuhkan Diri
Kritik terhadap diri sendiri tetap diperlukan. Persoalannya bukan pada evaluasi, melainkan bagaimana evaluasi tersebut dilakukan. Daripada mengatakan, “Aku memang gagal,” seseorang dapat mengubahnya menjadi, “Bagian mana yang belum berjalan baik dan apa yang bisa diperbaiki?”
Perubahan sederhana dalam cara berbicara kepada diri sendiri dapat membantu melihat kesalahan secara lebih realistis. Kesalahan tetap diakui, tetapi tidak dijadikan alasan untuk memberikan label negatif terhadap diri sendiri.
Riset juga menunjukkan hubungan antara self-criticism dan kondisi psikologis. Sebuah meta-analisis terhadap 49 studi longitudinal menemukan bahwa self-criticism berkaitan dengan berbagai hasil psikologis dan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam proses psikoterapi.
Di sisi lain, pendekatan self-compassion atau sikap penuh pengertian terhadap diri sendiri menunjukkan potensi untuk mengurangi kebiasaan mengkritik diri. Meta-analisis terhadap 19 penelitian dengan 1.350 peserta menemukan intervensi berbasis self-compassion menghasilkan penurunan self-criticism dibandingkan kelompok kontrol. Meski demikian, peneliti juga mencatat kualitas studi yang tersedia masih beragam.
Belajar Memberi Ruang untuk Diri Sendiri
Menghargai diri bukan berarti mengabaikan kekurangan. Justru, seseorang tetap dapat mengakui kesalahan tanpa terus menghukum dirinya sendiri. Cobalah melihat kembali hal-hal kecil yang sudah berhasil dilakukan. Menyelesaikan pekerjaan, berani mencoba setelah gagal, atau tetap menjalani aktivitas ketika sedang lelah juga merupakan bagian dari proses.
Tidak semua perkembangan harus terlihat besar. Jika suara dalam kepala lebih sering mengatakan “kamu kurang” daripada “kamu sudah berusaha”, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak. Bukan untuk berhenti berkembang, tetapi untuk belajar berkembang tanpa terus menjatuhkan diri sendiri.
Sebab, memperbaiki diri tidak selalu harus dimulai dari kritik. Kadang, perubahan justru dimulai ketika seseorang belajar memperlakukan dirinya dengan lebih manusiawi. (ndr)













