Kanal24, Malang – Gunungan berisi makanan, buah, sayuran dan hasil bumi kerap muncul dalam perayaan Maulid Nabi di sejumlah daerah. Sajian tersebut ditata bertingkat hingga menyerupai gunung dan biasanya ditempatkan di tengah rangkaian acara sebelum dibagikan kepada masyarakat.
Bagi masyarakat yang menjalankannya, gunungan bukan sekadar tumpukan makanan. Ada rasa syukur dan semangat berbagi yang ikut dibawa dalam tradisi tersebut. Proses menyiapkannya juga menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul dan bekerja bersama.
Baca Juga:
Cara Sederhana Menyegarkan Otak di Tengah Aktivitas Padat
Gunungan dalam Tradisi Maulid
Gunungan dibuat dari berbagai bahan yang tersedia di lingkungan masyarakat. Buah, sayuran, nasi, jajanan tradisional hingga hasil pertanian dapat digunakan dan disusun sesuai kebiasaan masing-masing daerah.

Tidak ada bentuk yang benar-benar sama untuk setiap wilayah. Gunungan dapat menyesuaikan hasil bumi, makanan khas dan kreativitas warga yang membuatnya. Perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari warna tradisi Maulid di Indonesia.
Proses pembuatannya biasanya dilakukan secara bersama-sama. Warga menyiapkan bahan, memasak, menghias hingga menyusun makanan menjadi satu gunungan. Kegiatan ini membuat tradisi tidak hanya berlangsung ketika acara dimulai, tetapi sudah terasa sejak tahap persiapan.
Setelah selesai, gunungan ditempatkan di lokasi perayaan. Masyarakat kemudian mengikuti rangkaian kegiatan seperti pembacaan selawat, doa bersama atau pengajian sebelum makanan dibagikan.
Maulid sendiri menjadi bagian dari tradisi keagamaan masyarakat untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam perkembangannya di Indonesia, peringatan tersebut hadir dengan beragam bentuk budaya lokal, termasuk penggunaan gunungan dalam sejumlah tradisi masyarakat Jawa.
Dari Syukur hingga Berbagi
Bagian yang paling menarik perhatian biasanya terjadi ketika gunungan mulai dibagikan. Di sejumlah daerah, warga mengambil makanan yang telah disusun, bahkan ada yang melakukannya dengan cara berebut.
Di balik suasana tersebut terdapat kebiasaan berbagi rezeki. Makanan yang sebelumnya dikumpulkan dan disusun bersama kemudian dinikmati kembali oleh masyarakat.
Nilai berbagi juga terlihat dari keterlibatan warga dalam menyiapkan gunungan. Sajian yang digunakan dapat berasal dari kontribusi masyarakat, kemudian dikumpulkan menjadi satu bentuk yang dinikmati bersama.
Karena itu, gunungan tidak berhenti sebagai bagian dari dekorasi perayaan. Tradisi tersebut mempertemukan unsur keagamaan dengan kehidupan sosial masyarakat.
Warga dapat bertemu dalam satu kegiatan, bekerja bersama dan mengikuti rangkaian Maulid dalam suasana yang lebih dekat. Kebiasaan sederhana ini turut menjaga silaturahmi di lingkungan masyarakat.
Berbeda Daerah, Berbeda Makna
Tradisi gunungan Maulid berkembang dalam berbagai bentuk. Salah satu yang dikenal luas adalah Grebeg Maulud di Yogyakarta. Dalam tradisi tersebut, gunungan berisi hasil bumi dan makanan menjadi bagian dari prosesi yang kemudian diperebutkan masyarakat.
Tradisi gunungan juga dapat ditemukan dalam perayaan Maulid di daerah lain dengan bentuk yang berbeda. Ada yang menggunakan buah dan sayuran, sementara daerah lainnya menonjolkan makanan tradisional serta hasil pertanian setempat.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perayaan Maulid di Indonesia berkembang bersama budaya lokal. Nilai keagamaannya tetap menjadi bagian utama, sementara bentuk perayaannya menyesuaikan kebiasaan masyarakat.
Tradisi seperti ini juga memberi ruang bagi generasi muda untuk mengenal budaya di lingkungannya. Mereka dapat terlibat dalam proses pembuatan atau sekadar melihat langsung bagaimana sebuah tradisi dijalankan.
Di tengah perubahan zaman, bentuk gunungan tentu dapat mengalami penyesuaian. Bahan makanan dan cara penyajiannya bisa berubah mengikuti perkembangan masyarakat. Namun, semangat gotong royong dan berbagi tetap dapat dipertahankan.
Gunungan Maulid pada akhirnya bukan hanya sajian yang menarik perhatian saat perayaan berlangsung. Di dalamnya terdapat kebiasaan warga untuk berkumpul, bekerja bersama dan berbagi dengan sesama.
Tradisi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana peringatan Maulid Nabi berkembang dalam budaya masyarakat Indonesia. Selama maknanya terus dipahami dan dikenalkan kepada generasi berikutnya, gunungan dapat tetap menjadi bagian dari kekayaan tradisi Nusantara.(gal)













