Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menekankan pentingnya tanggung jawab penerima beasiswa dalam memanfaatkan dukungan pendidikan dari Dana Abadi UB. Beasiswa tersebut diharapkan tidak hanya membantu mahasiswa menyelesaikan studi, tetapi juga mendorong mereka berkontribusi bagi kampus setelah lulus.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., dalam Pembekalan Penerima Beasiswa Dana Abadi Semester Ganjil 2026 yang berlangsung di Ruang Sidang Lantai 8 Gedung Rektorat UB, Sabtu (3/10/2026).
Dr. Setiawan mengatakan, pembekalan diberikan untuk memastikan penerima memahami bahwa beasiswa merupakan amanah dari pemberi beasiswa yang harus digunakan sesuai tujuan utama, yakni menunjang keberlangsungan studi.
Baca juga:
Orangtua Perlu Jadi Ruang Aman agar Anak Tak Jadikan AI Tempat Curhat

“Beasiswa ini merupakan amanah yang diberikan oleh si pemberi beasiswa kepada si penerima beasiswa. Amanah untuk kepentingan studinya,” ujar Dr. Setiawan.
Menurutnya, penerima perlu memanfaatkan beasiswa secara tepat agar dukungan tersebut benar-benar membantu mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Penggunaan yang tidak sesuai peruntukan dikhawatirkan justru berdampak terhadap keberlangsungan studi penerima.
Dr. Setiawan menambahkan, UB berharap penerima Dana Abadi menunjukkan perkembangan akademik yang baik, mampu menyelesaikan studi tepat waktu, serta aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.
“Kalau mereka studinya lancar, bisa lulus tepat waktu dan aktif juga di kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, itu bagus sekali manfaatnya bagi kepentingan UB,” katanya.
Seleksi Ketat, Peminat Capai Ribuan
Sekretaris Divisi Penggunaan Hasil Pengembangan Dana Abadi UB, Ilhamuddin Nukman, S.Psi., M.A., menjelaskan bahwa program Dana Abadi memiliki tingkat peminat yang cukup tinggi.

Menurutnya, jumlah pendaftar Dana Abadi secara keseluruhan telah mencapai ribuan mahasiswa. Dalam setiap periode seleksi, pendaftar dapat mencapai sekitar 400 hingga 600 mahasiswa, sementara jumlah penerima yang ditetapkan jauh lebih terbatas.
“Dana Abadi memberikan UKT secara penuh. Kemudian biaya hidup juga tiap bulan diberikan cukup besar kepada adik-adik, sehingga dilihat menjadi beasiswa yang cukup menonjol di antara yang lain,” jelas Ilhamuddin.
Selain dukungan biaya pendidikan dan biaya hidup, penerima juga memperoleh pendampingan berkelanjutan. Program tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya menerima bantuan finansial, tetapi juga mendapatkan pendampingan untuk membantu mempersiapkan kelulusan.
Dalam proses seleksi, UB mempertimbangkan sejumlah indikator. Prestasi akademik menjadi salah satu pertimbangan utama, disusul prestasi nonakademik, aktivitas organisasi, serta kondisi kebutuhan mahasiswa.
Ilhamuddin menyebut mahasiswa dengan IPK tinggi mendominasi pendaftar. Meski persyaratan awal menetapkan batas IPK tertentu, proses seleksi tetap dilakukan secara kompetitif karena jumlah pendaftar jauh lebih besar dibandingkan kuota yang tersedia.
“Kita harus sortir yang paling tinggi. Rata-rata saya melihat IPK-nya itu 3,8, 3,7, bahkan ada yang 3,9,” ungkapnya.
Penerima Dievaluasi Selama Masa Pembinaan
Setelah menerima beasiswa, mahasiswa tetap mengikuti proses evaluasi. UB memantau perkembangan akademik, kehadiran dalam pembinaan, keterlibatan dalam kegiatan, serta perkembangan mahasiswa secara keseluruhan.
Ilhamuddin mengatakan, penerima juga tidak diperbolehkan mendapatkan pendanaan ganda dari beasiswa lain. Evaluasi dilakukan untuk memastikan penerima tetap memenuhi ketentuan program hingga menyelesaikan studinya.
Penurunan IPK tidak otomatis membuat mahasiswa kehilangan beasiswa. UB masih memberikan toleransi selama penurunan tersebut berada dalam batas yang wajar. Namun, penurunan yang signifikan akan menjadi bahan evaluasi dan pendampingan.
“Kita selalu ingatkan, kalau ada penurunan, ayo problemnya apa sehingga jadi penurunan dan kita bisa evaluasi secara berkelanjutan,” katanya.

Bangun Jejaring Alumni dan Donatur
Ilhamuddin menambahkan, kontribusi penerima Dana Abadi tidak berhenti setelah mereka menyelesaikan studi. UB berharap para penerima nantinya menjadi bagian dari jejaring alumni yang turut memperkenalkan keberadaan Dana Abadi kepada masyarakat.
Mereka diharapkan dapat menjadi brand ambassador yang memperkenalkan program tersebut kepada pemangku kepentingan sekaligus membangun jejaring dengan alumni penerima Dana Abadi lainnya.
Dalam jangka panjang, UB juga berharap alumni yang telah berhasil dapat kembali berkontribusi terhadap keberlanjutan Dana Abadi.
“Biasanya kalau kita lihat di luar negeri, alumni-alumni yang mendapatkan manfaat dari perguruan tinggi biasanya mereka akan menjadi donatur bagi perguruan tingginya,” tutur Ilhamuddin.
Ia mengatakan, keberlanjutan Dana Abadi menjadi bagian dari cita-cita besar UB untuk memperluas akses beasiswa bagi mahasiswa. Salah satu target yang ingin didorong adalah semakin banyak mahasiswa UB yang dapat memperoleh dukungan pendidikan.
“Big dream-nya akan ke sana. Kita berharap 30 persen mahasiswa UB itu harus bisa diberikan beasiswa,” ujarnya.
Menurut Ilhamuddin, penguatan Dana Abadi pada akhirnya diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi mahasiswa sekaligus memperkuat ekosistem alumni dan kampus.
Dengan demikian, penerima beasiswa tidak hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, tetapi juga bagian dari mata rantai keberlanjutan program pendidikan UB di masa mendatang. (nid)














