Kanal24, Malang – Mobil listrik menawarkan teknologi yang semakin berkembang dengan sistem perawatan yang berbeda dari kendaraan bermesin pembakaran. Namun, persoalan dapat muncul ketika kendaraan memasuki usia lebih tua. Salah satunya berkaitan dengan biaya perbaikan baterai yang dapat memengaruhi kelayakan kendaraan untuk tetap digunakan.
Kepala Bosch Mobility Aftermarket Rupert Hoellbacher menyoroti persoalan tersebut dalam wawancara dengan Automobilwoche yang dipublikasikan pada Jumat (25/9/2026). Ia memperingatkan bahwa biaya perbaikan atau penggantian baterai yang tidak ekonomis dapat membuat usia kendaraan menjadi lebih pendek.
Baca Juga:
Transisi Energi Butuh SDM Kompeten, Indonesia Kejar Net Zero 2060
Biaya Baterai Jadi Tantangan Mobil Listrik Tua
Baterai merupakan salah satu komponen utama sekaligus bernilai tinggi pada kendaraan listrik. Ketika terjadi kerusakan pada baterai bertegangan tinggi, pemilik dapat menghadapi biaya perbaikan yang besar.
Hoellbacher secara khusus menyoroti kondisi mobil yang telah berusia sekitar enam hingga delapan tahun. Menurutnya, kerusakan baterai pada kendaraan dalam rentang usia tersebut saat ini dapat membuat kendaraan dianggap tidak ekonomis untuk diperbaiki.
Masalahnya bukan semata-mata terletak pada kemampuan baterai menyimpan energi. Nilai kendaraan yang terus menurun juga menjadi pertimbangan. Ketika biaya penggantian baterai mendekati atau bahkan melampaui nilai kendaraan, pemilik dapat memilih untuk tidak melakukan perbaikan.
Kondisi tersebut berpotensi membuat kendaraan yang komponen lainnya masih dapat berfungsi justru berhenti digunakan. Kendaraan kemudian dapat masuk proses pembongkaran atau berakhir sebagai kendaraan rongsokan.
Bosch menilai persoalan ini perlu mendapat perhatian seiring bertambahnya jumlah kendaraan listrik yang memasuki usia pakai lebih tua. Umur teknis kendaraan dan umur ekonomisnya dapat berbeda ketika biaya perbaikan komponen utama terlalu tinggi.
Perbaikan Baterai Jadi Kunci
Bosch melihat perbaikan baterai sebagai salah satu cara untuk menjaga kendaraan listrik tetap digunakan lebih lama. Kerusakan pada baterai tidak selalu harus berujung pada penggantian seluruh paket baterai.
Baterai kendaraan listrik terdiri dari sejumlah sel dan modul. Karena itu, diagnosis yang lebih terperinci dapat membantu teknisi mengetahui bagian yang mengalami masalah.
Bosch sendiri telah mengembangkan solusi perbaikan baterai tegangan tinggi untuk kendaraan tertentu. Sistem tersebut memungkinkan penggantian modul yang diperlukan tanpa mengganti seluruh komponen baterai. Bosch menyebut pendekatan tersebut dapat menghemat biaya dan sumber daya.
Pengembangan kemampuan diagnosis dan perbaikan juga membuka peluang bagi sektor aftermarket. Bengkel membutuhkan peralatan serta tenaga teknis yang mampu menangani sistem tegangan tinggi pada kendaraan listrik.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena kendaraan listrik memiliki kebutuhan perawatan yang berbeda dibandingkan mobil konvensional. Perawatan rutin mesin dan sejumlah komponen mekanis berkurang, sementara kebutuhan terhadap layanan baterai dan sistem elektronik semakin besar.
Di Indonesia, Bosch juga telah mengembangkan layanan perbaikan baterai kendaraan bertegangan tinggi. Bosch Car Service bahkan telah ditunjuk sebagai pusat perbaikan baterai tegangan tinggi CATL di Indonesia.
Daur Ulang Jadi Bagian Ekosistem
Persoalan baterai kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan perbaikan. Ketika baterai sudah tidak lagi layak digunakan pada kendaraan, proses penggunaan kembali dan daur ulang juga menjadi bagian penting.
Bosch mengembangkan teknologi untuk mendukung proses daur ulang baterai kendaraan listrik. Salah satu teknologinya memungkinkan baterai dikosongkan dan dinonaktifkan secara otomatis sebelum masuk ke tahap pembongkaran dan pengolahan material.
Bosch Rexroth juga mengembangkan solusi otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi proses daur ulang baterai. Sistem tersebut mencakup proses diagnosis kondisi baterai, pelepasan energi, hingga pembongkaran modul.
Dengan demikian, tantangan umur kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh daya tahan baterai. Biaya perbaikan, ketersediaan suku cadang, kemampuan bengkel, serta sistem daur ulang turut menentukan keberlanjutan kendaraan.
Peringatan Bosch pada akhirnya menyoroti persoalan ekonomi dalam perawatan mobil listrik. Jika baterai dapat diperbaiki atau diganti dengan biaya yang lebih terjangkau, kendaraan berusia lebih tua tetap memiliki peluang untuk digunakan lebih lama.
Hal tersebut menjadi penting agar perkembangan kendaraan listrik tidak hanya berfokus pada penjualan kendaraan baru. Ekosistem perawatan, perbaikan, penggunaan kembali, dan daur ulang baterai juga perlu berkembang seiring bertambahnya usia kendaraan listrik di jalan. (ndr)













