Kanal24, Malang – Lebih dari satu abad setelah spesies penguin terakhir dideskripsikan, ilmuwan kembali menemukan anggota baru dari keluarga penguin. Penemuan ini berasal dari populasi penguin gentoo yang selama ini dianggap masih berada dalam satu kelompok spesies.
Spesies tersebut ditemukan di Kepulauan Kerguelen, Samudra Hindia bagian selatan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Communications Biology pada Kamis, (23/4/2026), menetapkan nama ilmiah Pygoscelis kerguelensis untuk penguin gentoo tenggara. Temuan ini menjadi deskripsi spesies penguin baru pertama dalam lebih dari 100 tahun.
Baca Juga:
Sendok Pintar UB Hadirkan Sensasi Manis Tanpa Tambahan Gula
Empat Spesies Penguin Gentoo Teridentifikasi
Penguin gentoo selama ini umumnya dikenal dengan satu nama spesies, yaitu Pygoscelis papua. Namun, penelitian terbaru menemukan adanya empat garis keturunan evolusioner yang berbeda.
Keempat kelompok tersebut adalah gentoo utara, gentoo selatan, gentoo timur, dan gentoo tenggara. Para peneliti mengusulkan pengakuan terhadap keempatnya sebagai spesies berbeda berdasarkan bukti genetik, morfologi, ekologi, serta sejarah evolusi.
Penguin gentoo tenggara menjadi bagian penting dalam temuan tersebut. Populasinya hidup di Kepulauan Kerguelen yang terletak jauh dari daratan utama.
Secara fisik, perbedaan antarpopulasi penguin gentoo tidak selalu mudah terlihat. Karena itu, peneliti menggunakan analisis genom untuk mengidentifikasi hubungan evolusioner di antara kelompok tersebut.
Data genetik kemudian dibandingkan dengan karakter morfologi dan ekologi. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang konsisten pada keempat garis keturunan.
Temuan tersebut memperkuat bukti bahwa kelompok yang selama ini dianggap satu spesies sebenarnya memiliki sejarah evolusi yang berbeda.
Kehidupan di Pulau Terpencil Pengaruhi Evolusi
Kondisi geografis menjadi salah satu faktor yang berperan dalam perkembangan penguin gentoo. Populasi yang hidup di pulau-pulau terpencil menghadapi lingkungan berbeda dibandingkan kelompok yang berada di wilayah lain.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menemukan tanda seleksi evolusioner pada sejumlah gen. Gen tersebut berkaitan dengan pengaturan suhu tubuh, transportasi oksigen, metabolisme, dan perkembangan kerangka.
Perbedaan lingkungan dapat memberikan tekanan yang berbeda kepada setiap populasi. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi mendorong munculnya karakter evolusioner yang khas.
Kepulauan Kerguelen menjadi salah satu contoh wilayah yang memungkinkan terjadinya proses tersebut. Letaknya yang terpencil membuat populasi penguin di kawasan ini memiliki sejarah evolusi tersendiri.
Analisis ilmuwan menunjukkan bahwa empat garis keturunan gentoo telah mengalami pemisahan evolusioner selama ratusan ribu tahun. Meski demikian, aliran gen antarpopulasi masih terjadi pada periode tertentu.
Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa batas suatu spesies tidak selalu mudah dikenali hanya berdasarkan tampilan fisik. Informasi genetik dapat mengungkap sejarah evolusi yang tidak terlihat secara kasatmata.
Temuan Baru Bawa Implikasi bagi Konservasi
Penemuan Pygoscelis kerguelensis tidak hanya menambah satu nama dalam daftar spesies penguin. Hasil penelitian juga memberikan informasi baru mengenai bagaimana perubahan lingkungan dapat memengaruhi masing-masing garis keturunan.
Para peneliti memproyeksikan kehilangan habitat yang cukup besar pada tiga garis keturunan. Kelompok tersebut meliputi gentoo utara, timur, dan tenggara.
Sementara itu, gentoo selatan diproyeksikan memiliki kemungkinan memperluas wilayah habitatnya. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perubahan lingkungan tidak memberikan dampak yang sama kepada seluruh kelompok.
Informasi ini penting dalam kajian konservasi. Populasi yang sebelumnya digabung sebagai satu spesies dapat memiliki kondisi habitat dan tekanan lingkungan yang berbeda.
Dengan mengidentifikasi empat spesies, penelitian terhadap populasi dan habitat dapat dilakukan secara lebih spesifik. Data tersebut juga dapat membantu memahami kebutuhan konservasi setiap kelompok.
Penemuan penguin gentoo tenggara sekaligus menunjukkan bahwa keragaman hayati masih dapat tersembunyi di wilayah terpencil. Perkembangan teknologi genetika membantu ilmuwan melihat perbedaan yang sebelumnya sulit dikenali.
Temuan ini menambah pengetahuan tentang evolusi penguin sekaligus memperlihatkan pentingnya pemetaan keanekaragaman hayati secara lebih mendalam. (ndr)













