Kanal24, Malang – Ketika menghadapi masalah, anak tidak selalu tahu kepada siapa harus bercerita. Di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan teknologi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini juga bisa menjadi ruang untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan.
Namun, kemudahan tersebut tidak semestinya membuat hubungan anak dan orangtua semakin jauh. Orangtua tetap memiliki peran penting sebagai tempat pertama yang memberikan rasa aman dan didengar. Psikolog klinis dan keluarga Pritta Tyas Mangestuti menyampaikan hal tersebut dalam diskusi bersama OpenAI di Jakarta, Rabu (30/09/2026).
Baca Juga:
Brawijaya SDG’s Summit 2026 Dorong Mahasiswa Jadi Penggerak Pembangunan Berkelanjutan
Rasa Aman Membuka Ruang Cerita Anak
Bagi anak, keberanian untuk bercerita tidak hanya bergantung pada persoalan yang dihadapi. Cara orangtua merespons cerita juga menentukan apakah anak akan kembali membuka diri.
Respons berupa kemarahan, omelan, atau penghakiman dapat membuat anak merasa tidak nyaman. Apalagi ketika cerita yang disampaikan berkaitan dengan kesalahan atau persoalan yang sulit mereka pahami sendiri.
Karena itu, orangtua perlu memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan cerita hingga selesai. Orangtua juga dapat menahan reaksi spontan ketika mendengar sesuatu yang mengejutkan.
Sikap tersebut membantu anak memahami bahwa rumah merupakan tempat yang aman untuk berbicara. Anak tidak harus selalu memiliki jawaban yang benar ketika menyampaikan persoalannya.
Kondisi ini menjadi semakin penting ketika anak memasuki masa praremaja dan remaja. Pada fase tersebut, anak mengalami berbagai perubahan yang dapat memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri dan lingkungan.
Kedekatan Tak Harus Lewat Percakapan Serius
Membangun kedekatan dengan anak tidak selalu membutuhkan percakapan panjang. Hubungan yang terbuka justru dapat dimulai dari kegiatan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Orangtua dapat mengajak anak makan bersama, membeli makanan, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang disukai. Momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi secara lebih alami.
Percakapan yang muncul dalam suasana santai juga membuat anak tidak merasa sedang diperiksa. Dari situ, orangtua dapat mengenali perubahan perilaku maupun hal yang sedang dipikirkan anak.
Selain itu, orangtua perlu memahami perkembangan anak, termasuk perubahan emosional dan fisik yang terjadi pada masa pertumbuhan. Pemahaman tersebut membantu orangtua memberikan respons yang sesuai.
Dengan mengenali fase perkembangan anak, orangtua tidak mudah mengartikan setiap perubahan sebagai bentuk pembangkangan. Anak pun memiliki kesempatan untuk merasa dipahami.
Hindari Komunikasi yang Terasa Menghakimi
Cara bertanya menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan. Pertanyaan yang diberikan secara bertubi-tubi dapat membuat percakapan terasa seperti interogasi.
Orangtua dapat memulai pembicaraan dengan menceritakan pengalaman mereka sendiri. Cara tersebut dapat membuat komunikasi terasa lebih setara dan membuka peluang bagi anak untuk ikut bercerita.
Pritta menekankan pentingnya orangtua memahami gejolak emosi dan perubahan fisik anak. Kedekatan juga dapat dibangun melalui aktivitas bersama dan komunikasi yang tidak menghakimi.
Pendekatan tersebut bukan berarti orangtua harus melarang anak menggunakan AI. Teknologi tetap dapat dimanfaatkan untuk mencari informasi dan membantu berbagai kebutuhan.
Namun, ketika anak menghadapi persoalan pribadi, kehadiran orang yang mampu mendengarkan dan memberikan empati tetap dibutuhkan. AI dapat memberikan respons berdasarkan informasi yang tersedia, sedangkan hubungan keluarga memberikan ruang emosional yang berbeda.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar mencegah anak berbicara dengan AI. Yang lebih penting adalah memastikan anak mengetahui bahwa mereka memiliki tempat untuk kembali ketika menghadapi persoalan.
Hubungan tersebut dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Mendengarkan tanpa menghakimi, meluangkan waktu, dan memberi ruang untuk bercerita dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kedekatan orangtua dan anak.
Di tengah perkembangan AI yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, komunikasi keluarga tetap menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak. (ndr)













