Kanal24, Malang – Pembangunan berkelanjutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda dinilai memiliki ruang besar untuk ikut mengedukasi masyarakat, menciptakan inovasi, hingga menawarkan solusi atas persoalan sosial dan lingkungan.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Brawijaya SDG’s Summit 2026 yang digelar Universitas Brawijaya (UB) di Ruang Jamuan Lantai 6 Gedung Rektorat UB, Rabu (23/9/2026). Akademisi, pemerintah, dan pegiat energi bersih menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menerjemahkan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) ke kehidupan sehari-hari.
Baca juga:
FH UB Perkuat Kesadaran K3 untuk Wujudkan Lingkungan Kerja Aman
Edukasi SDGs Perlu Dekat dengan Gen Z
Influencer sekaligus clean energy enthusiast, Natasha Kenira, menilai edukasi mengenai pembangunan berkelanjutan perlu dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan generasi Z.

Dengan latar belakang teknik kelautan, Natasha membawa isu energi sebagai salah satu pembahasan dalam forum tersebut. Menurutnya, kebutuhan energi terus meningkat sehingga generasi muda perlu memahami pentingnya peralihan menuju energi terbarukan.
“Generasi muda itu harus terus diedukasi ya tentang kebutuhan energi terutama. Karena semakin ke sini kebutuhan energi itu semakin meningkat tapi kita mau enggak mau harus tetap bisa switching ke energi terbarukan yang jauh lebih ramah lingkungan,” ujar Natasha.
Menurutnya, kampanye mengenai keberlanjutan tidak harus dilakukan oleh figur publik. Mahasiswa juga dapat mengambil bagian melalui media sosial maupun lingkungan sekitar.
Ia berharap semakin banyak mahasiswa yang ikut menyampaikan isu keberlanjutan dengan cara yang mudah diterima anak muda.
“Enggak cuma dari segi energi, tapi dari segi apa pun ya,” tambahnya.
SDGs Menyentuh Kehidupan Sehari-hari
Dosen UB sekaligus GIS enthusiast, Adipandang Yudono, mengatakan SDGs perlu dipahami bukan hanya sebagai agenda global, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, terdapat 17 tujuan dan 169 target dalam SDGs yang mencakup berbagai persoalan. Mulai dari pengentasan kemiskinan, keadilan sosial, hingga pembangunan kehidupan yang lebih layak.
Dalam konteks perkotaan, agenda tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan dan kehidupan masyarakat. Pembangunan juga perlu memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, sekaligus lingkungan.
“Bagaimana kita bisa hidup mempergunakan konteks sosial dan ekonomi, tetapi tetap memperhatikan masalah lingkungan hidup dan yang mana nantinya sumber daya tersebut masih bisa dilanjutkan oleh generasi di bawahnya lagi,” jelas Adipandang.
Ia juga menekankan prinsip no one left behind. Menurutnya, pembangunan perlu memastikan seluruh kelompok dapat bergerak bersama menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam kondisi yang penuh perubahan dan ketidakpastian, mahasiswa sebagai generasi muda memiliki peran untuk menjaga agar aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan tetap berjalan beriringan.
Mahasiswa Jadi Mitra Pembangunan
Asfa Agustina Nusba Aini dari Bappeda Kota Malang menilai pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat perlu berbagi peran.

Menurutnya, perubahan perilaku tidak dapat terjadi secara instan. Dibutuhkan penggerak yang dapat mendorong munculnya inovasi dan solusi untuk persoalan yang ada di masyarakat.
“Dalam pembangunan berkelanjutan itu kan kita enggak bisa jalan sendiri-sendiri. Kita harus bersama-sama baik pemerintah, akademisi, dalam hal ini teman-teman mahasiswa, siswa, bahkan masyarakat ini harus berbagi peran,” tuturnya.
Asfa juga melihat mahasiswa tidak lagi cukup ditempatkan sebagai objek pembangunan. Mahasiswa dapat terlibat langsung sebagai co-creator dalam agenda SDGs.
“Mahasiswa saya rasa bukan hanya sebagai objek kalau sekarang ya, tapi sudah saatnya berperan aktif, dalam artian bersama-sama untuk mungkin kaitannya sebagai co-creator dalam SDG atau pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Peran tersebut dapat dilakukan melalui edukasi, inovasi, maupun kontribusi solusi atas persoalan yang muncul di lingkungan masyarakat.
Keterlibatan generasi muda tersebut menjadi penting karena pembangunan berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang kondisi saat ini, tetapi juga keberlanjutan sumber daya dan kualitas kehidupan generasi berikutnya.
Melalui Brawijaya SDG’s Summit 2026, isu tersebut dibawa ke ruang diskusi yang mempertemukan mahasiswa dengan akademisi, pemerintah, dan pegiat isu keberlanjutan. Ruang kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak gagasan dan aksi mahasiswa dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. (ern)













