Kanal24, Malang – Perjalanan menuju energi berkelanjutan tidak hanya membutuhkan teknologi pembangkit yang semakin maju. Di balik perubahan tersebut, Indonesia juga perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami, mengembangkan, dan mengoperasikan teknologi energi sesuai kebutuhan masa depan.
Kebutuhan itu menjadi sorotan dalam Seminar Nasional, Pra-Musyarawah Nasional dan ALSA Leadership Training XXXIII yang digelar ALSA Local Chapter Universitas Brawijaya di Gedung Auditorium Universitas Brawijaya, Kamis (24/9/2026). Kesiapan SDM, perkembangan teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi dan industri menjadi bagian penting dalam mendukung transisi energi menuju target Net Zero Emission 2060.
Baca Juga:
Rokok Ilegal Makin Marak, Gudang Garam Tahan Naikkan Harga
Kompetensi SDM Jadi Fondasi Transisi Energi
Kepala BPSDM Kementerian ESDM Prahoro Julianto mengatakan tantangan Indonesia dalam menghadapi era energi berkelanjutan bukan hanya berkaitan dengan jumlah tenaga kerja. Menurutnya, kebutuhan utama berada pada kesiapan SDM yang memiliki kompetensi dan kualifikasi sesuai dengan perkembangan sektor energi.

Pemerintah perlu terlebih dahulu mengidentifikasi teknologi yang akan digunakan dalam pengembangan energi baru dan terbarukan. Dari pemetaan tersebut, kebutuhan kompetensi dapat ditentukan sehingga SDM yang disiapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan teknologi dan industri.
Prahoro menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam proses tersebut. Universitas Brawijaya dinilai dapat berkontribusi melalui pendidikan, riset, serta penyiapan tenaga terampil yang mampu mendukung perkembangan sektor energi.
Ia berharap perguruan tinggi dapat menjadi salah satu penyumbang SDM untuk pengembangan sektor energi. Kontribusi tersebut tidak hanya melalui tenaga terampil, tetapi juga pemikiran dan pendekatan yang relevan dengan tantangan energi di masa depan.
Penguatan kompetensi juga dapat dilakukan dengan menyesuaikan ketersediaan teknologi. Jika teknologi yang dibutuhkan sudah dikembangkan di Indonesia, riset, paten dan kesiapan industri perlu diperkuat. Sementara jika teknologi belum tersedia, peningkatan kemampuan SDM dapat dilakukan melalui pendidikan maupun pemagangan di perusahaan yang memiliki keahlian terkait.
Teknologi Perkuat Target Net Zero
Dari sisi industri, VP Technology Development PLN Nusantara Power Ir. Ardi Nugroho mengatakan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung target Net Zero Emission 2060.

PLN Nusantara Power telah mengembangkan sejumlah teknologi energi terbarukan, termasuk PLTS berkapasitas 192 MW serta PLTS terapung 100 MW yang sedang berjalan. Pengembangan PLTS hybrid dengan PLTD juga menjadi salah satu pembahasan, bersama teknologi carbon capture and storage serta teknologi nuklir.
Menurut Ardi, tantangan pengembangan teknologi salah satunya berada pada aspek investasi. Setiap teknologi memiliki karakteristik dan technology provider yang berbeda sehingga diperlukan komunikasi dan kerja sama antara perusahaan, investor serta penyedia teknologi.
Dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, Ardi melihat sejumlah sumber energi masih memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia. Potensi tersebut mencakup tenaga air, PLTS land base dan floating, energi angin, green hydrogen hingga pembangkit listrik tenaga nuklir.
Pengembangan berbagai teknologi tersebut membutuhkan dukungan sumber daya yang memadai, baik dari sisi investasi, fasilitas maupun tenaga yang memiliki kompetensi untuk mengoperasikan teknologi pembangkit.
Kolaborasi Siapkan SDM Energi Masa Depan
Kebutuhan tenaga kompeten membuat kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam proses transisi energi. Ardi menilai sinergi PLN Nusantara Power dengan kampus, lembaga institusi dan pemilik teknologi diperlukan untuk menyiapkan SDM yang mampu mengoperasikan, memelihara dan merawat pembangkit dengan teknologi yang semakin kompleks.
Kolaborasi tersebut juga dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan pengembangan kompetensi di perguruan tinggi. Dengan demikian, mahasiswa dan calon tenaga kerja memiliki kesempatan untuk memahami perkembangan teknologi yang akan digunakan dalam sektor energi.
Prahoro menambahkan, pengembangan SDM perlu menyesuaikan perubahan generasi yang akan memasuki dunia kerja. Kehadiran Generasi Z dan Generasi Alpha membuat metode pembelajaran dan pengembangan kompetensi perlu disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan mereka.
Perkembangan artificial intelligence (AI) dan robotika juga menjadi bagian dari perubahan tersebut. Prahoro mendorong generasi muda yang akan masuk ke sektor strategis, termasuk energi, untuk mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi digital.
Menurutnya, kemampuan menggunakan AI perlu diiringi kemampuan berpikir dan menghasilkan produktivitas. Perubahan teknologi membuat SDM perlu terus meningkatkan kemampuan agar dapat mengambil peran dalam pola kerja yang semakin terdigitalisasi.
Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi dan industri menjadi bagian penting untuk memastikan transisi energi tidak berhenti pada pengembangan teknologi. Kesiapan SDM yang kompeten diperlukan agar berbagai inovasi dapat diterapkan, dikembangkan dan mendukung perjalanan Indonesia menuju target Net Zero Emission 2060. (gal)













