Kanal24, Malang – Memasuki jenjang Pascasarjana, mahasiswa mulai dihadapkan pada pola pendidikan yang berbeda. Bukan hanya perkuliahan, mereka juga perlu menyiapkan riset, publikasi, serta kemampuan mengurai persoalan secara lebih mendalam. Gambaran tersebut diperkenalkan dalam Orientasi Pendidikan (ORDIK) Pascasarjana Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya, Senin (24/8/2026).
Bertempat di Ruang Auditorium Lantai 5 Gedung Pascasarjana FAST UB, kegiatan ini menjadi awal bagi mahasiswa S2 dan S3 untuk mengenal proses akademik yang akan dijalani. ORDIK tahun ini juga membahas penerapan kurikulum baru serta luaran penelitian yang perlu dipersiapkan mahasiswa selama masa studi.
Baca Juga:
UB Perkuat Pembinaan 124 Mahasiswa Penerima Dana Abadi
Pascasarjana Mendorong Mahasiswa Adaptif
Dekan FAST UB, Prof. Dr. Ir. Muhammad Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., mengatakan ORDIK menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memahami kurikulum, proses riset, hingga publikasi sejak awal.

Menurut Halim, pola pendidikan Pascasarjana memiliki tuntutan berbeda dengan jenjang sarjana. Mahasiswa S2 tidak hanya mencari tahu apa yang terjadi, tetapi juga perlu menemukan alasan di balik suatu persoalan. Sementara mahasiswa S3 diarahkan lebih jauh untuk menjelaskan bagaimana sebuah fenomena terjadi.
Karena itu, kemampuan metodologi, pemahaman filosofi keilmuan, pemecahan masalah, dan kerja sama menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Sikap adaptif juga dinilai menjadi bekal awal mahasiswa untuk mengikuti tuntutan akademik tersebut.
“Adaptif ini awal yang harus dilakukan karena dengan adaptif ini akhirnya bisa bergerak ke mana-mana,” ujar Halim.
Melalui ORDIK, FAST UB juga mendorong mahasiswa memiliki strategi studi agar mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu dan tidak berhenti di tengah jalan.
Kurikulum Baru, Publikasi Jadi Perhatian
Ketua Pelaksana ORDIK Pascasarjana FAST UB, Dr. Eko Nugroho, S.Pt., M.Sc., menjelaskan kegiatan tahun ini turut menyesuaikan penerapan kurikulum baru. Menurut Eko, sejak 2026 FAST UB mengikuti Permen Nomor 39 Tahun 2025 yang membuat jumlah SKS berubah dari sebelumnya 56 menjadi 39 SKS.

Penyesuaian tersebut juga berdampak pada mata kuliah, tugas akhir, dan proses akademik lainnya. Mahasiswa perlu memahami perubahan itu sejak awal agar dapat menyusun perjalanan studinya.
Eko menyebut ORDIK Pascasarjana memiliki fokus yang berbeda dengan pengenalan mahasiswa baru pada jenjang sarjana. Kegiatan lebih diarahkan pada pemahaman mengenai capaian akademik dan luaran yang harus dipenuhi selama studi.
Publikasi ilmiah menjadi salah satu luaran yang mendapat perhatian. Untuk S2 reguler, mahasiswa ditargetkan menghasilkan dua publikasi jurnal. Sementara S2 by research ditargetkan menghasilkan tiga publikasi, sedangkan mahasiswa S3 juga ditargetkan menghasilkan tiga publikasi.
“Dari ORDIK ini kita memberikan strategi-strategi bagaimana untuk mencapai itu tadi,” kata Eko.
Riset Diarahkan Menjawab Persoalan
Di samping tuntutan publikasi, FAST UB mengarahkan penelitian mahasiswa agar tetap berkaitan dengan persoalan nyata di bidang peternakan. Halim mengatakan penelitian S2 maupun S3 tetap harus memiliki dasar keilmuan, sekaligus memberikan dampak bagi masyarakat, industri, dan pemerintah.
Menurut Halim, ketahanan pangan menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Meski kondisi ketahanan pangan dinilai mengalami peningkatan, ketidakstabilan harga masih dirasakan peternak di tingkat bawah.
Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan teknologi dan penelitian yang dapat diterapkan di lapangan. FAST UB berharap riset mahasiswa dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus ikut menjawab persoalan yang dihadapi peternak.
Dengan pengenalan kurikulum, tuntutan publikasi, dan arah riset sejak awal, ORDIK Pascasarjana FAST UB menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memahami pola studi yang akan dijalani. Mahasiswa diharapkan dapat menyusun langkah akademiknya dengan lebih terarah hingga menyelesaikan pendidikan tepat waktu. (gal)














