Kanal24, Malang – Setelah melewati lebih dari lima tahun pendidikan, mulai dari masa preklinik hingga koas, sebanyak 101 lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) akhirnya resmi menyandang gelar dokter. Prosesi sumpah dokter menjadi penanda berakhirnya perjalanan pendidikan sekaligus awal tanggung jawab baru untuk mengabdi kepada masyarakat.
Prosesi Sumpah Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya digelar di Ballroom Grand Mercure Hotel, Kamis (27/8/2026). Bagi FK UB, sumpah dokter bukan sekadar seremoni kelulusan, tetapi menjadi pengingat bagi dokter baru untuk memegang teguh janji profesi yang telah diucapkan sepanjang menjalankan tugas.
Baca juga:
FH UB Bekali Mahasiswa Kenotariatan Tembus Jurnal SINTA 2
Sumpah Dokter Jadi Awal Tanggung Jawab Profesi
Dokter spesialis saraf konsultan sekaligus dosen FK UB, dr. Rodhiyan Rakhmatiar, Sp.S(K), menjelaskan bahwa pengucapan sumpah merupakan kewajiban yang harus dijalani setiap lulusan Program Studi Profesi Dokter sebelum menjalankan tugas sebagai dokter.

Menurutnya, prosesi tersebut menjadi momentum untuk kembali mengingatkan para dokter baru mengenai peran dan tanggung jawab mereka ketika nantinya berada di tengah masyarakat.
“Tujuannya tentu untuk mengingatkan kembali apa peran dokter nantinya ketika ada di masyarakat,” ujar Rodhiyan.
Sebanyak 101 dokter mengikuti prosesi pada periode ini. Mereka merupakan lulusan yang telah menjalani yudisium pada Juli 2026.
Rodhiyan mengatakan sumpah dokter secara rutin dilaksanakan setiap kali terdapat lulusan baru. Namun, jumlah lulusan yang cukup banyak membuat pelaksanaan periode ini terasa lebih meriah dibandingkan sebelumnya.
Persiapan acara juga dilakukan dengan melibatkan para lulusan. Mereka turut berkoordinasi dalam menyiapkan tempat, undangan, hingga menjadwalkan kehadiran pimpinan fakultas.
Bagi Rodhiyan, sumpah yang telah diucapkan harus menjadi pegangan para dokter baru dalam menjalani perjalanan karier.
“Harapannya penyelenggaraan sumpah ini menjadi titik balik bagi para lulusan baru. Mereka sudah resmi saat ini menyandang gelar sebagai seorang dokter dan tentu harus memegang teguh sumpah yang sudah diucapkan tadi,” katanya.
Ia berharap para dokter baru selalu mengingat bahwa sumpah tersebut merupakan janji yang diucapkan untuk kepentingan masyarakat.
Tantangan Dokter Baru Semakin Kompetitif
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FK UB, Dr. dr. Shahdevi Nandar Kurniawan, Sp.S(K), mengatakan sumpah dokter merupakan rangkaian wajib yang harus dilalui setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan kedokteran dan sebelum memasuki dunia kerja.

Menurut Shahdevi, dokter lulusan FK UB dibekali berbagai ilmu dan kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Bekal tersebut mencakup pengetahuan dan keterampilan agar lulusan mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.
Namun, lulusan dokter juga akan menghadapi persaingan yang semakin besar. Bertambahnya jumlah fakultas kedokteran di Indonesia turut meningkatkan jumlah lulusan dokter yang akan masuk ke dunia kerja.
“Lulusan dokter di Indonesia ini bertambah banyak dan ditambah dengan banyak fakultas kedokteran sehingga tantangan adik-adik nanti untuk dokter umum itu harus bersaing dengan lebih banyak saingannya,” ujar Shahdevi.
Tantangan juga muncul bagi lulusan yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis. Menurutnya, jumlah program studi spesialis yang tersedia belum sebanyak jumlah lulusan yang ingin melanjutkan pendidikan sehingga persaingan untuk memasuki jenjang tersebut juga menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, Shahdevi berharap para dokter baru terus mengembangkan diri setelah menyelesaikan pendidikan. Ia juga mendorong lulusan untuk tetap menjaga hubungan dengan almamater dan aktif dalam kegiatan alumni.
“Yang pertama tetap berbakti kepada orang tua tentunya. Kemudian menjunjung tinggi nama baik Fakultas Kedokteran, aktif dalam alumni dan juga tetap lanjutkan studinya lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Enam Tahun Perjuangan Haniel Berujung Sumpah Dokter
Bagi dr. Haniel Patra Utama, S.Ked., salah satu dokter yang disumpah, momen tersebut menjadi titik yang menandai berakhirnya perjalanan panjang pendidikan kedokteran.

Haniel mengaku bahagia sekaligus khidmat ketika akhirnya mengucapkan sumpah dokter. Setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan, ia merasakan bahwa perjuangannya benar-benar sampai pada satu titik yang selama ini ditunggu.
“Paling terasa sih senang ya, terus juga terasa lebih kayak khidmat gitu loh. Kayak kerasa, ‘Oh, ini tuh beneran nyata.’ Dan ternyata perjuangan atau upaya bertahun-tahun ini akhirnya beneran selesai sampai sini,” ungkapnya.
Ia memperkirakan total perjalanan pendidikannya hampir enam tahun. Masa preklinik ditempuh sekitar tiga setengah tahun, dilanjutkan dengan dua tahun koas, sebelum akhirnya sampai pada tahap sumpah dokter.
Masa koas menjadi salah satu bagian yang penuh tantangan. Haniel harus beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman, menghadapi berbagai berkas, serta menjalani ujian pada tahap akhir pendidikan, termasuk UKMPPD.
Meski demikian, keinginannya menjadi dokter tetap menjadi salah satu motivasi utama. Sejak awal, Haniel mengaku memiliki keinginan untuk membantu orang lain. Seiring perjalanan pendidikan, tujuan tersebut semakin terbentuk dan mendorongnya untuk terus belajar.
Setelah resmi menjadi dokter, Haniel memilih menjalani program internship sebagai langkah berikutnya. Ia juga memiliki rencana untuk kembali melanjutkan proses belajar di masa mendatang.
Di balik pencapaiannya, dukungan keluarga menjadi bagian penting dari perjalanan Haniel hingga akhirnya mengenakan status sebagai dokter.
“Terima kasih banyak karena sudah mendukung dari awal sampai akhir dan juga semoga bisa sehat selalu dan kita bisa bersama-sama terus,” tuturnya.
Kini, 101 lulusan FK UB memasuki fase baru. Sumpah dokter yang telah diucapkan menjadi pengingat bahwa gelar dokter bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab profesional yang akan mereka jalankan di tengah masyarakat. (ern)














