Kanal24, Malang – Suasana perumahan di RW 11 Villa Bukit Tidar, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, berubah menjadi ruang bernuansa tempo dulu. Beragam dekorasi budaya, anjungan daerah, hingga jajanan tradisional membawa warga dan pengunjung kembali mengenal kekayaan budaya Jawa Timur.
Kampung Klasik tersebut digelar warga RW 11 pada Rabu (26/8/2026) sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Melibatkan 18 RT, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya, tetapi juga membuka kesempatan bagi UMKM warga untuk ikut tampil dan mendapatkan ruang promosi.
Baca juga:
Riset Jangan Berhenti di Jurnal, Ubah Jadi Buku
18 RT Angkat Ragam Budaya Jawa Timur
Ketua Pelaksana Kampung Klasik, Sungging Vera Mrt., mengatakan kegiatan ini berangkat dari keinginan warga untuk memperkenalkan kembali budaya di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, kemajuan lingkungan dan kehidupan masyarakat tetap perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga budaya.
“Harapan kita atau dalam artian wacana kita yang seperti ini adalah memperkenalkan budaya. Jadi tema kita itu budaya,” ujar Sungging.
Kampung Klasik tahun ini menjadi pelaksanaan yang keempat. Konsep tersebut juga menjadi bagian dari upaya mempererat kebersamaan warga RW 11 yang terdiri atas 18 RT.
“Dari RW 11 ini ada 18 RT. Nah, harapan kita untuk Kampung Klasik itu kita kan 18 itu kan banyak semua karena ini tingkat perumahan yang sangat padat dan inginnya guyub rukun,” jelasnya.
Pada pelaksanaan kali ini, panitia memilih tema Jawa Timur. Setiap RT mendapatkan anjungan atau konsep rumah adat yang berbeda berdasarkan pembagian yang telah dilakukan panitia.
Beberapa budaya yang ditampilkan antara lain Ponorogo, Kangean, Samin dan Tengger. Keragaman tersebut dipilih untuk menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki kekayaan budaya yang luas.
“Di Jawa Timur itu banyak beraneka ragam suku. Ada suku Tengger, ada suku Samin. Mereka ini mempunyai struktur yang macam-macam, budaya yang beraneka ragam tapi tetap satu tujuan, tetap Bhinneka Tunggal Ika yaitu Indonesia,” katanya.
Menurut Sungging, pengenalan budaya menjadi semakin penting karena generasi saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat. Kampung Klasik diharapkan menjadi salah satu cara agar budaya tidak semakin jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Nuansa Tempo Dulu hingga Jajanan Tradisional
Konsep “klasik” dalam kegiatan ini merujuk pada suasana tempo dulu. Warga menerjemahkannya melalui dekorasi, anjungan budaya, hingga berbagai jajanan tradisional yang ditawarkan kepada pengunjung.

Sungging menjelaskan, istilah klasik digunakan untuk menggambarkan kembali suasana masa lalu dengan kemasan yang lebih menarik.
“Dalam artian klasik ini kan tempo dulu sebenarnya. Bahasa cuma dikerenkan menjadi klasik,” ujarnya.
Konsep tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung. Tiinarach, pengunjung sekaligus content creator asal Malang, mengaku langsung merasakan suasana berbeda ketika memasuki kawasan Kampung Klasik.
“Pertama lihat Kampung Klasik ini kayak seru banget, banyak UMKM. Terus habis itu di sini juga ngundang Pak Walikota,” katanya.
Menurut Tina, dekorasi dan jajanan yang dihadirkan membuat suasana tempo dulu terasa lebih kuat.
“Tema-temanya tuh kayak tempo dulu. Emang benar-benar desainnya itu tempo dulu. Terus habis itu di sini juga banyak UMKM, jajanan-jajanan tempo dulu. Jadi kayak rasanya itu flashback ke zaman-zaman lama,” ungkapnya.
Selain menjadi ruang untuk mengenalkan budaya, keberadaan stan UMKM juga memberi kesempatan bagi warga untuk memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung.
Tina menilai keterlibatan UMKM membuat kegiatan tersebut memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
“Pastinya bermanfaat sih karena di sini juga banyak stan-stan UMKM. Jadi kayak bisa memberdayakan warga-warga sekitar,” tuturnya.
Antusiasme masyarakat juga terlihat sejak pengunjung memasuki kawasan kegiatan. Tina menyebut suasana cukup ramai dan dipenuhi warga yang ingin melihat berbagai tampilan yang disiapkan.
Harapan Kampung Klasik Berlanjut dan Berkembang
Ketua Yayasan GWN, Lili Ulifah, berharap kegiatan seperti Kampung Klasik dapat diterapkan di wilayah lain. Menurutnya, pelestarian adat dan budaya perlu dimulai dari lingkungan masyarakat sendiri.

“Saya berharap seperti yang jenengan adakan itu akan diadakan di wilayah-wilayah lain,” ujar Lili.
Ia bahkan berharap kegiatan tersebut ke depan dapat dikembangkan menjadi perlombaan dengan penghargaan dari Pemerintah Kota Malang.
“Kalau bisa nanti akan menjadi perlombaan dan akan menjadi piala. Mungkin akan ada piala walikota,” katanya.
Bagi Lili, upaya mempertahankan budaya menjadi penting agar masyarakat tetap mengenal dan menghargai adat istiadat yang tumbuh di wilayah masing-masing.
“Yang menjunjung tinggi adat istiadat, budaya itulah yang harus dipertahankan,” tuturnya.
Sementara itu, Sungging mengakui persiapan Kampung Klasik membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Kegiatan tersebut dapat terlaksana melalui dukungan warga dari masing-masing RT, RW, kelurahan, hingga Pemerintah Kota Malang.
“Kalau untuk proses sangat lumayan panjang dan sangat capek dan sangat sibuk. Tapi alhamdulillah semua berkat doa, berkat dukungan baik itu dari warga RT RT masing-masing, dari Pak RW-nya, dari Pak Lurahnya,” ungkapnya.
Ia berharap Kampung Klasik tetap dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya dengan konsep yang semakin baik.
“Mudah-mudahan Kampung Klasik ini harapan saya tetap berjalan. Mudah-mudahan di kepanitiaan berikutnya yang lebih baik dari apa yang saya buat,” katanya.
Harapan serupa datang dari Tina. Ia ingin kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan yang terus berkembang, terutama dalam memberdayakan UMKM warga.
“Harapannya semoga Kampung Klasik ini setiap tahun bisa diadakan terus dan bisa semakin berkembang. Terus UMKM-nya juga semakin diberdayakan,” ujarnya.
Kampung Klasik RW 11 Villa Bukit Tidar pada akhirnya tidak hanya menghadirkan suasana tempo dulu. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara pelestarian budaya, kebersamaan warga, dan pemberdayaan UMKM dalam satu rangkaian kegiatan masyarakat. (ern)













