Kanal24, Malang – Limbah makanan dari dapur SPPG selama ini menjadi salah satu persoalan dalam pengelolaan sampah organik. Namun, melalui teknologi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), limbah tersebut dapat diolah kembali menjadi bahan baku yang berpotensi menghasilkan produk bernilai guna, termasuk bahan pakan ikan dan ayam. Model inilah yang dikembangkan Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) melalui program Insintech.
Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari Forum Kolaborasi Multipihak “Membangun Ekosistem Ekonomi Sirkular Berbasis Maggot Black Soldier Fly (BSF)” yang digelar di Ruang Aula Lantai 2 FTAB UB, Kamis (27/8/2026). Program yang didukung pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini akan menerapkan teknologi budidaya maggot di SPPG mitra kawasan Sawojajar, Kota Malang, sebagai model pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.
Baca Juga:
FTAB UB Ajak Warga Ketawanggede Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi
Limbah Makanan Masuk Siklus Produksi
Guru Besar bidang Teknik Lingkungan Agroindustri FTAB / Ketua UPT Green Campus, Prof. Sri Suhartini, STP, M.Env.Mgt, Ph.D., mengatakan teknologi tersebut memanfaatkan limbah makanan dari dapur SPPG, baik limbah dari proses persiapan bahan baku maupun makanan yang dikembalikan dari sekolah.

“Teknologinya sebenarnya relatif sederhana dan sudah banyak diimplementasikan di mana-mana. Hanya saja ada beberapa hal yang ingin kami tambahkan dalam kegiatan ini, bagaimana kita melatih intervensi teknologi kepada SPPG,” jelas Sri.
Penerapan teknologi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan maggot, tetapi juga membangun siklus budidaya yang dapat berlangsung secara berkelanjutan. Prosesnya dimulai dari penetasan telur, pembesaran maggot, hingga lalat BSF kembali menghasilkan telur.
“Budidaya maggotnya itu sendiri sampai mereka bisa mengubah telur menjadi magot kemudian menjadi lalat, dan lalat itu bertelur kembali yang kemudian akhirnya menjadi closed-loop system,” terang Sri.
Dengan pola tersebut, limbah organik dari dapur dapat kembali masuk ke dalam sistem produksi. Limbah yang sebelumnya menjadi beban pengelolaan diarahkan menjadi bahan baku untuk menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan kembali.
Maggot Berpotensi Tekan Biaya Pakan
Pengembangan FTAB UB tidak berhenti pada proses pengolahan limbah. Maggot BSF juga diperkenalkan sebagai bahan substitusi untuk pakan ikan dan ayam.
Sri menjelaskan, maggot BSF memiliki kandungan protein yang relatif tinggi sehingga berpotensi menggantikan sebagian bahan baku protein pada pakan. Pemanfaatannya diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku protein yang memiliki biaya relatif tinggi.
“Dengan adanya penambahan substitusi dari maggot ini harapannya adalah bisa menekan biaya untuk pakan,” ujarnya.
Universitas Brawijaya sebelumnya telah mengembangkan sejumlah produk pakan berbasis maggot untuk ikan nila, ikan lele, lobster, hingga ayam. Dalam program Insintech ini, teknologi tersebut akan diarahkan untuk mendukung kebutuhan pakan ikan lele dan nila di SPPG mitra.
Sri menyebut penggunaan maggot sebagai substitusi pakan berpotensi menekan biaya operasional. Pada pengembangan pakan lele yang telah dilakukan, efisiensi biaya disebut dapat mencapai sekitar 50 persen.
Selain maggot, hasil samping budidaya berupa kasgot juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pupuk organik. Dengan demikian, proses pengolahan limbah dapat menghasilkan lebih dari satu produk yang kembali dimanfaatkan.
SPPG Sawojajar Jadi Model
Penerapan awal teknologi dilakukan di SPPG mitra kawasan Sawojajar. Lokasi tersebut telah memiliki kolam ikan lele dan nila sehingga pemanfaatan maggot sebagai bahan pakan dapat diintegrasikan dengan aktivitas yang sudah berjalan.
“Karena programnya baru dimulai pertengahan tahun ini, ini akan diimplementasikan di SPPG mitra kami di daerah Sawojajar. Saat ini sudah proses pembenahan lahan untuk membangun tempat budidaya maggotnya,” kata Sri.
Kebutuhan pakan ikan yang cukup besar menjadi salah satu pertimbangan penerapan teknologi tersebut. Pada saat yang sama, mitra juga menghadapi kebutuhan untuk mengelola limbah makanan dari aktivitas dapur.
Melalui model ini, limbah SPPG diarahkan menjadi bahan baku budidaya maggot. Maggot kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pakan ikan maupun ayam, sementara kasgot dapat digunakan sebagai tambahan pupuk organik. Rangkaian tersebut menjadi bentuk penerapan konsep ekonomi sirkular di lingkungan mitra.
FTAB UB juga menyiapkan sekolah lapang dan pendampingan agar teknologi dapat dipahami serta diterapkan oleh mitra. Pengembangan ini turut diarahkan kepada masyarakat sekitar kampus melalui kolaborasi dengan Kampung Lingkar Kampus, UPT UB Green Campus, dan Dinas Lingkungan Hidup.
Melalui model tersebut, FTAB UB berupaya menunjukkan bahwa limbah makanan dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi. Dari limbah dapur, maggot dihasilkan untuk mendukung kebutuhan pakan, sementara produk sampingnya dapat dimanfaatkan kembali sehingga menciptakan sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan. (ndr)














