Kanal24, Malang – Karhutla tidak berhenti menjadi persoalan ketika api membakar hutan dan lahan. Asap yang dihasilkan justru membawa ancaman lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mata perih, tenggorokan terasa mengganjal, batuk hingga gangguan pernapasan menjadi sejumlah risiko yang dapat muncul ketika masyarakat terpapar kabut asap dalam waktu tertentu.
Ancaman tersebut bukan sekadar kekhawatiran. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terdampak langsung kabut asap akibat karhutla di tujuh provinsi berdasarkan data per 21 Agustus 2026. Wilayah terdampak meliputi Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Asap Bukan Sekadar Gangguan Penglihatan
Kabut asap sering kali pertama kali dianggap mengganggu karena jarak pandang berkurang atau udara terasa pengap. Padahal, persoalannya jauh lebih serius.

Asap kebakaran membawa partikel dan berbagai zat hasil pembakaran yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama ketika kualitas udara memburuk dan masyarakat tetap beraktivitas di luar ruangan.
Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah juga mengingatkan bahwa paparan asap karhutla dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan.
Artinya, mata yang terasa perih atau tenggorokan yang mulai tidak nyaman bukan sekadar efek dari “udara panas”. Bisa jadi tubuh sedang merespons kualitas udara yang memang sedang buruk.
ISPA Jadi Risiko yang Perlu Diwaspadai
Salah satu persoalan kesehatan yang banyak dikaitkan dengan paparan asap karhutla adalah infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.

Data Kemenkes menunjukkan tren kasus ISPA menjadi perhatian selama periode karhutla. Di Kalimantan Barat, misalnya, penderita ISPA tercatat mencapai 165.747 kasus sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026. Sementara Kalimantan Selatan melaporkan 18.423 kasus pada periode yang sama.
Dokter paru juga mengingatkan bahwa penderita penyakit pernapasan seperti asma perlu lebih berhati-hati karena paparan asap dapat memicu serangan akut.
Di sini, kebiasaan menganggap batuk atau sesak sebagai keluhan biasa perlu dipertanyakan.
Tidak semua gejala berarti kondisi darurat, tetapi mengabaikannya juga bukan pilihan yang bijak, terutama jika paparan asap terus berlangsung.
Kelompok Rentan Paling Perlu Dijaga
Risiko paparan asap tidak sama bagi semua orang.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan riwayat asma atau penyakit paru membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Kemenkes pada 26 Agustus 2026 kembali menekankan perlindungan terhadap kelompok rentan di wilayah terdampak karhutla.
Bahkan, dokter spesialis paru mengingatkan agar kelompok rentan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap.
Karena itu, anggapan bahwa tubuh sehat otomatis aman dari kabut asap juga tidak sepenuhnya tepat.
Tubuh yang sehat memang memiliki daya tahan lebih baik. Tetapi itu bukan berarti paru-paru mendapatkan izin untuk terus-menerus menghirup udara tercemar.
Masker dan Kualitas Udara Jadi Perhatian
Mengurangi paparan menjadi langkah penting ketika udara di sekitar mulai dipenuhi asap.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk menggunakan masker dan memantau kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah. Masyarakat juga dianjurkan menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi udara.
Logikanya sederhana.
Jika udara sedang buruk, mengurangi waktu berada di luar ruangan berarti mengurangi paparan. Jika aktivitas luar ruangan memang tidak bisa dihindari, perlindungan pernapasan menjadi semakin penting.
Yang perlu dihindari adalah kebiasaan baru bertindak setelah tubuh sudah memberikan sinyal keras.
Menunggu sampai sesak napas baru mencari perlindungan jelas bukan strategi pencegahan.
Jangan Anggap Asap sebagai Hal Biasa
Karhutla memang identik dengan persoalan lingkungan. Namun, ketika asap menyebar ke permukiman, sekolah, ruang kerja hingga fasilitas publik, persoalannya berubah menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Dampaknya bahkan bisa merembet ke aktivitas sehari-hari. Kabut asap telah mengganggu sejumlah aktivitas di beberapa wilayah, termasuk penerbangan dan kegiatan belajar mengajar.
Ini menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak berhenti di titik api.
Api berada di satu lokasi, tetapi asap dapat membawa dampaknya jauh lebih luas.
Karena itu, menjaga kesehatan saat karhutla tidak cukup hanya dengan bertanya apakah api sudah padam. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi udara dan gejala yang muncul setelah terpapar.
Melindungi Diri Sebelum Terlambat
Tidak semua orang bisa meninggalkan wilayah yang terdampak karhutla. Sebagian tetap harus bekerja, sekolah, mengurus keluarga, atau menjalankan aktivitas sehari-hari.
Karena itu, langkah perlindungan sederhana menjadi penting. Pantau kualitas udara, kurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi memburuk, gunakan masker yang sesuai, dan segera mencari bantuan medis jika muncul gangguan kesehatan yang berat atau memburuk.
Kemenkes sendiri terus memperkuat layanan kesehatan di wilayah terdampak, termasuk mengerahkan tenaga kesehatan dan logistik ke tujuh provinsi.
Pada akhirnya, karhutla bukan cuma cerita tentang hutan yang terbakar. Ada manusia yang harus menghirup udara setelah api menghasilkan asap. (ern)














