Kanal24, Malang – Mengolah limbah organik menjadi eco-enzyme membutuhkan waktu fermentasi hingga 90 hari. Dalam rentang waktu tersebut, kondisi lingkungan harus dijaga agar proses berlangsung optimal. Tantangannya, pemantauan yang masih dilakukan secara manual membuat perubahan suhu, kelembapan, maupun kadar gas tidak selalu terdeteksi sejak awal. Kondisi ini mendorong Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan SEEMS (Smart Ecoenzym Monitoring System), sistem kendali cerdas berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan proses fermentasi dipantau secara real time sekaligus merespons perubahan kondisi secara otomatis.
Tim dari Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik UB menyerahkan satu unit SEEMS kepada mitra integrated farming di Desa Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, pada 22 Agustus 2026. Kegiatan dipimpin Eka Maulana, S.T., M.T., M.Eng., bersama sejumlah dosen Teknik Elektro Fakultas Teknik UB dan tim mahasiswa.
SEEMS menggabungkan perangkat keras otomasi dengan perangkat lunak berbasis IoT. Sistem tersebut dirancang untuk mengotomatiskan proses pengkabutan (mist maker) sekaligus memantau kondisi fermentasi secara berkelanjutan. Dengan sistem ini, perubahan parameter dapat diketahui tanpa harus membuka wadah fermentasi secara berulang yang berisiko mengganggu proses anaerobik.
Tujuh Parameter Dipantau dalam Satu Aplikasi
Fermentasi eco-enzyme pada dasarnya membutuhkan kondisi yang terjaga selama proses berlangsung. Ketika pemantauan hanya mengandalkan pemeriksaan sesekali, perubahan kondisi di antara waktu pemeriksaan dapat terlewat.
SEEMS menjawab persoalan tersebut dengan tujuh parameter sensor utama, yaitu suhu udara, suhu cairan, kelembapan udara, tingkat keasaman (pH), kadar alkohol, kadar karbondioksida (CO2), serta volume atau level cairan fermentasi.

Seluruh hasil pengukuran ditampilkan secara langsung melalui aplikasi mobile SmartEcoEz, disimpan dalam basis data daring, dan dapat dipantau melalui gawai pengguna kapan saja dan di mana saja. Sistem juga dilengkapi peringatan dini (reminder) serta fitur diagnosis otomatis yang membantu pengguna mengetahui apakah proses fermentasi berjalan normal, membutuhkan perhatian, atau telah selesai.
Ketika parameter mulai menyimpang dari batas ideal, sistem dapat memberikan respons otomatis. Misalnya, ketika kadar alkohol menurun, suhu cairan tidak stabil, atau kelembapan ruang terlalu rendah, mist maker akan diaktifkan untuk membantu mengatur kelembapan ruang fermentasi.
Menurut Eka Maulana, persoalan utama dalam pembuatan eco-enzyme salah satunya adalah perubahan kondisi lingkungan yang tidak terdeteksi sejak awal.
“Pemeriksaan manual hanya memberikan gambaran sesaat, sedangkan proses fermentasi berlangsung selama 90 hari penuh dengan perubahan yang bisa terjadi kapan saja. Dengan SEEMS, kami menghadirkan sistem yang mampu memantau secara terus-menerus dan merespons secara otomatis, sehingga jarak antara munculnya masalah dan tindakan perbaikan bisa dipangkas drastis, bahkan dicegah sebelum terjadi,” ujarnya.
Dari sisi pengembangan, SEEMS tidak dibangun hanya sebagai perangkat monitoring. Tim merancang rangkaian kendali berbasis mikrokontroler ESP32-C3 SuperMini, mengintegrasikan Real Time Clock (RTC) DS3231 untuk penjadwalan presisi, melakukan kalibrasi tujuh sensor fermentasi, serta membuat sistem simulasi penekanan tombol agar mist maker dapat diaktifkan secara otomatis tanpa mengubah perangkat asli.
Seluruh rangkaian tersebut telah melalui uji coba lapangan sebelum perangkat diserahkan kepada mitra.
Teknologi Tidak Berhenti pada Sensor
Pengembangan SEEMS juga membawa pendekatan yang lebih luas. Tim tidak hanya memberikan perangkat keras dan perangkat lunak, tetapi memasukkan materi edukasi langsung ke dalam aplikasi.
Materinya mencakup pengertian dan manfaat eco-enzyme sebagai cairan ramah lingkungan, bahan yang digunakan seperti kulit buah, sayuran, gula, dan air, teknik fermentasi selama 90 hari, hingga cara pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut penting karena data sensor saja tidak otomatis membuat masyarakat mampu mengambil keputusan dalam proses fermentasi. Informasi dari sensor memberikan gambaran objektif mengenai kondisi lingkungan, sedangkan fitur edukasi dan diagnosis membantu pengguna memahami tindakan yang diperlukan dalam pemeliharaan sehari-hari.
Dengan demikian, teknologi ditempatkan sebagai alat bantu pengambilan keputusan, bukan sekadar perangkat pemantau.
Dari Limbah Dapur hingga Kompos
Program pengabdian ini juga menghubungkan pengolahan eco-enzyme dengan pengelolaan limbah organik secara terpadu di kawasan integrated farming PPGA Sirojul Quran Malang, Desa Landungsari.
Masyarakat mitra diberikan pemahaman untuk memilah sampah dapur, khususnya kulit buah dan sayuran, sebagai bahan baku eco-enzyme. Sementara ampas fermentasi dan daun kering dapat diolah menjadi kompos untuk menyuburkan tanah di kawasan integrated farming.
Artinya, pengelolaan tidak berhenti pada mengubah limbah organik menjadi eco-enzyme. Bahan baku, proses fermentasi, hasil akhir, hingga limbah padat dari proses tersebut diarahkan untuk tetap berada dalam satu siklus pemanfaatan.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung di kawasan integrated farming tersebut juga diisi sosialisasi program, demonstrasi pengoperasian alat, serta pendampingan penggunaan aplikasi pada ponsel. Kegiatan melibatkan dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan UB, dan masyarakat mitra.
Melalui kombinasi pemantauan real time, otomatisasi pengkabutan, edukasi pembuatan eco-enzyme dan kompos, serta pendampingan teknis berkelanjutan, program ini diarahkan agar masyarakat mitra dapat mengambil keputusan lebih cepat dan tepat dalam menjaga kualitas fermentasi, mengurangi risiko kegagalan produksi, dan memanfaatkan limbah organik secara maksimal.
Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat penerapan zero waste dan ekonomi sirkular di Desa Landungsari, termasuk dalam mendukung ketahanan lingkungan dan pertanian berkelanjutan.(Din)














