Kanal24, Malang – Cedera saraf tulang belakang atau spinal cord injury menjadi persoalan serius karena kerusakan pada jaringan saraf dapat memutus jalur komunikasi listrik antara otak dan anggota tubuh. Kondisi tersebut dapat berdampak pada gangguan fungsi motorik dan sensorik, sementara metode pengobatan konvensional masih memiliki keterbatasan dalam meregenerasi sel saraf. Tantangan ini mendorong pengembangan biomaterial yang tidak hanya biokompatibel, tetapi juga mampu mendukung kembali fungsi penghantaran sinyal listrik pada jaringan saraf yang rusak. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah hidrogel dengan polimer konduktif, yang menjadi fokus kolaborasi akademik Universitas Brawijaya (UB) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia.
Upaya tersebut dibahas dalam kuliah tamu internasional yang diselenggarakan Universitas Brawijaya pada 19–20 Mei 2026 secara hibrida dengan pusat kegiatan di Gedung MIPA Center, Universitas Brawijaya, Malang.
Baca juga : UB-Mahidol University Kembangkan Inovasi Kimia Hijau Berbasis Bunga Asoka
Forum ini menghadirkan Dr. Mohd Muzamir Mahat, pakar material medis dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia. Ia hadir sebagai pelaksana program setelah berhasil meraih dana hibah Adjunct Professorship Grant 2026 dari Universitas Brawijaya. Kegiatan dipandu oleh Dr. Masruri selaku tuan rumah (host) dari UB.
Mengapa Hidrogel Konduktif Dibutuhkan?
Tema utama forum adalah “Synthesis Conductive Polymer for Hydrogel with Functionality in Treated Spinal Cord Injured”. Materi membahas teknik sintesis polimer konduktif yang diintegrasikan ke dalam jaringan hydrogel.
Secara prinsip, hidrogel dapat menjadi material yang sesuai untuk aplikasi biomaterial karena dapat dirancang agar menyerupai lingkungan jaringan biologis. Dalam riset yang dibahas pada forum ini, penambahan polimer konduktif memberikan fungsi penting berupa kemampuan menghantarkan sinyal listrik.

Fungsi tersebut relevan dengan persoalan cedera saraf tulang belakang. Ketika jaringan saraf mengalami kerusakan, jalur komunikasi listrik antara otak dan anggota tubuh dapat terganggu. Teknologi hidrogel konduktif dikembangkan sebagai jembatan biokompatibel yang diharapkan dapat membantu memicu pemulihan fungsi motorik dan sensorik pasien.
Dr. Mohd Muzamir Mahat menjelaskan bahwa optimisme terhadap riset ini bertumpu pada sifat mekanis dan elektrikal material yang dikembangkan.
“Sintesis polimer konduktif dalam hidrogel ini memberikan fungsionalitas hantaran listrik yang menyerupai karakteristik biologis saraf manusia. Melalui riset bersama Universitas Brawijaya, kami optimistis intervensi medis ini dapat menjadi solusi aplikatif untuk memulihkan fungsi motorik pasien cedera saraf tulang belakang yang selama ini dinilai mustahil disembuhkan,” ujar Dr. Mohd Muzamir dalam paparannya di Gedung MIPA Center.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa riset biomaterial tidak berhenti pada pengembangan material baru. Ada kebutuhan untuk menemukan material yang memiliki karakteristik mekanis dan elektrikal yang sesuai dengan lingkungan biologis sehingga berpotensi diarahkan menuju aplikasi medis.
Adjunct Professorship Membuka Ruang Riset Lintas Negara
Kehadiran Dr. Mohd Muzamir di UB juga menjadi bagian dari strategi memperkuat jejaring akademik dan riset internasional melalui skema Adjunct Professorship.
Program ini menjadi ruang transfer pengetahuan sekaligus membuka peluang pengembangan riset lintas negara antara UB dan UiTM. Dalam rilisnya, kolaborasi tersebut diproyeksikan berlangsung dalam jangka panjang dan tidak berhenti pada penyelenggaraan kuliah tamu.
Dr. Masruri menegaskan bahwa kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun fondasi riset biomaterial yang memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut menuju kebutuhan medis.
“Kehadiran Dr. Mohd Muzamir melalui program Adjunct Professorship Grant 2026 ini merupakan momentum besar bagi MIPA UB. Kami tidak hanya berbagi ruang kelas di Gedung MIPA Center ini, tetapi sedang meletakkan fondasi riset biomaterial masa depan. Kolaborasi lintas negara seperti dengan UiTM sangat penting untuk mempercepat hilirisasi riset sains murni menjadi aplikasi medis nyata yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat,” pungkas Dr. Masruri.
Kolaborasi UB–UiTM melalui pengembangan hidrogel polimer konduktif memperlihatkan bagaimana penguatan jejaring akademik dapat diarahkan pada persoalan medis yang membutuhkan inovasi material. Riset biomaterial tersebut sekaligus membuka ruang bagi UB untuk memperkuat posisi riset sains menuju pengembangan teknologi yang memiliki relevansi dengan kebutuhan kesehatan.(Din)














