Kanal24, Malang – Kemandirian penyandang disabilitas menjadi salah satu aspek penting dalam membangun lingkungan sosial yang inklusif. Kemandirian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi juga mencakup kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, memperoleh pengalaman produktif, serta memiliki peluang membangun kemandirian ekonomi.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Brawijaya menghadirkan Program Mandaya di Wisma Disabilitas Nusantara, Kota Malang. Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini memadukan keterampilan vokasional, aktivitas kehidupan sehari-hari, literasi keuangan, dan kewirausahaan untuk mendukung kemandirian peserta sekaligus memperkuat kapasitas lembaga mitra.
Baca juga:
TaniHub Divonis, 3 Korporasi Bayar Rp364 Miliar
Mandaya Menjawab Tantangan Kemandirian Disabilitas
Penyandang disabilitas masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan kemandirian sosial dan ekonomi. Keterbatasan aksesibilitas serta belum meratanya kesempatan untuk memperoleh aktivitas produktif menjadi persoalan yang membutuhkan pendekatan pemberdayaan secara berkelanjutan.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian di Wisma Disabilitas Nusantara. Lembaga sosial yang membina kelompok penyandang disabilitas di Kota Malang tersebut masih menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan operasional karena sebagian kebutuhan lembaga bergantung pada dukungan donatur dan biaya pribadi pengurus.
Melihat kondisi tersebut, Tim PKM-PM UB merancang Program Mandaya dengan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan peserta. Program ini juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas lembaga mitra agar mampu mengembangkan kegiatan yang berpotensi memberikan manfaat sosial sekaligus ekonomi.
Tim Mandaya diketuai Anggie Fadhillah Dwiva dari Program Studi Teknik Bioproses, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Bioproses (FTAB). Anggota tim terdiri atas Jihan Prasetyawati dari Teknik Bioproses/FTAB, Khansa Izzatul Mujahidah dari Ilmu Gizi/FIKES, Sahma Ulina Simbolon dari Ekonomi, Keuangan, dan Perbankan/FEB, serta Yasminne Rahma Aulia Damaihati dari Psikologi/FISIP.
Program tersebut berada di bawah bimbingan Dr. Ika Adita Silviandari, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Keterlibatan mahasiswa dari sejumlah bidang keilmuan mendukung penyusunan program yang mencakup aspek keterampilan, aktivitas sehari-hari, kesehatan dan keselamatan kerja, ekonomi, hingga penguatan psikologis.
Tiga Tahapan Mandaya Bangun Keterampilan
Dr. Ika Adita Silviandari mengungkapkan Program Mandaya dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu Sosialisasi Mandaya, Daya Wirasa, dan Daya Niaga. Ketiganya disusun secara bertahap agar peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan yang diperoleh.
Sosialisasi Mandaya menjadi tahap awal untuk mengenali kebutuhan peserta dan kondisi mitra. Tim melakukan observasi serta membangun komunikasi dengan peserta dan pengelola Wisma Disabilitas Nusantara. Tahap ini menjadi dasar untuk memastikan kegiatan yang diberikan relevan dengan kebutuhan di lapangan.
Selanjutnya, peserta mengikuti Daya Wirasa yang berfokus pada pengembangan keterampilan. Materi yang diberikan mencakup pengenalan Instrumental Activities of Daily Living (IADL), kesehatan dan keselamatan kerja di dapur, serta pelatihan keterampilan vokasional.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan membuat dessert yang praktis dan mudah diterapkan. Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pengalaman langsung dalam mengolah bahan menjadi produk sekaligus melatih kemampuan yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif.
Tahap terakhir adalah Daya Niaga yang berfokus pada penguatan kewirausahaan. Peserta mendapatkan literasi keuangan serta pengalaman berjualan secara langsung. Pihak mitra juga memperoleh penguatan strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan memiliki peluang menjangkau konsumen yang lebih luas.
Keterampilan Vokasional Dikembangkan Jadi Produk
Program Mandaya berupaya menghubungkan keterampilan yang diperoleh peserta dengan peluang ekonomi. Keterampilan memasak yang diberikan dalam Daya Wirasa kemudian diarahkan untuk menghasilkan produk kuliner yang dapat memiliki nilai jual.

Proses tersebut memberikan pengalaman kepada peserta bahwa keterampilan yang dimiliki dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif. Peserta tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga diperkenalkan pada proses penjualan dan interaksi dalam kegiatan ekonomi.
Bagi Wisma Disabilitas Nusantara, pengembangan produk kuliner membuka peluang munculnya sumber pendapatan alternatif. Hal tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat keberlanjutan lembaga sekaligus mendukung kegiatan pembinaan penyandang disabilitas.
Dokumentasi pelaksanaan Program Mandaya memperlihatkan rangkaian kegiatan mulai dari Sosialisasi Mandaya, Daya Wirasa, hingga Daya Niaga. Pada tahap Daya Niaga, peserta turut terlibat dalam aktivitas penjualan produk secara langsung.
Ke depan, Tim Mandaya berharap program tersebut dapat diterapkan secara konsisten di Wisma Disabilitas Nusantara dan menjadi model yang dapat dikembangkan di lembaga sosial lain yang membina penyandang disabilitas.
Produk kuliner yang dihasilkan juga diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas melalui kerja sama dengan UMKM lokal maupun pemanfaatan platform digital. Perluasan jejaring pemasaran dapat menjadi langkah lanjutan untuk meningkatkan peluang ekonomi sekaligus memperkenalkan kemampuan penyandang disabilitas kepada masyarakat.
Melalui Program Mandaya, Universitas Brawijaya tidak hanya menghadirkan pelatihan keterampilan, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan kemampuan individu dengan peluang ekonomi. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian penyandang disabilitas sekaligus memperkuat keberlanjutan lembaga mitra di Kota Malang.(ffn)














