Kanal24, Malang – Duduk dalam waktu lama kerap membuat seseorang tidak sadar ketika posisi tubuh mulai membungkuk. Kebiasaan tersebut dapat terjadi berulang, terutama pada mahasiswa dan pekerja produktif yang menghabiskan banyak waktu di depan meja. Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa Universitas Brawijaya mengembangkan SPATCH, plester berbasis biofeedback pasif untuk membantu pengguna meningkatkan kesadaran terhadap postur tubuh.
SPATCH atau Spine Awareness Biofeedback Patch diperkenalkan dalam wawancara bersama Ketua Tim PKM Kewirausahaan SPATCH, Rizka Amalia Putri Ramadhani, di Ruang Podcast UBTV Lantai 2 Gedung Direktorat Universitas Brawijaya, Kamis (10/9/2026). Inovasi yang dikembangkan mahasiswa lintas Fakultas Teknologi Pertanian dan Fakultas Kedokteran tersebut dirancang sebagai pengingat fisik ketika pengguna mulai berada dalam posisi membungkuk.
Baca Juga:
Illustration Competition 2026, Suarakan Mental Health Lewat Ilustrasi
Berangkat dari Kebiasaan Duduk Mahasiswa
Rizka menjelaskan, gagasan SPATCH berawal dari kebiasaan mahasiswa yang banyak menghabiskan waktu dalam posisi duduk. Menurutnya, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena postur tubuh yang kurang baik dapat menjadi kebiasaan jika tidak disadari.

“Mahasiswa itu duduk dalam waktu yang lama. Kemudian banyak dari mereka itu juga yang mengalami nyeri punggung bawah,” jelas Rizka.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tim karena keluhan punggung yang berlangsung dalam waktu lama dapat berkembang menjadi masalah yang menetap. Karena itu, tim menghadirkan SPATCH untuk membantu pengguna menyadari perubahan postur secara langsung.
SPATCH menggunakan teknologi biofeedback pasif. Berbeda dari perangkat elektronik yang memberikan peringatan melalui suara atau getaran, produk ini mengandalkan respons fisik ketika posisi tubuh berubah.
“Pengguna itu dapat menyadari postur tubuhnya jika sedang bungkuk atau sedang tidak berada dalam postur yang baik akibat duduk terlalu lama,” lanjutnya.
Andalkan Sensasi Tarikan dan Tekanan
Satu kemasan SPATCH terdiri atas tiga buah plester dan satu micro pressure board. Plester digunakan satu kali, sedangkan micro pressure board dapat digunakan kembali.
Cara penggunaannya cukup sederhana. Plester ditempelkan pada bagian punggung bawah secara vertikal. Setelah itu, micro pressure board dipasang pada bagian yang telah ditandai.
Saat tubuh berada dalam posisi tegak, pengguna tidak merasakan sensasi berarti. Namun, ketika tubuh mulai membungkuk, kulit pada punggung mengalami peregangan. Kondisi tersebut memunculkan sensasi tarikan dari plester dan tekanan dari micro pressure board.
Dua sensasi tersebut berfungsi sebagai pengingat fisik agar pengguna menyadari perubahan posisi dan kembali memperbaiki posturnya.
Selain mekanisme yang sederhana, SPATCH dirancang agar praktis digunakan mahasiswa dan pekerja produktif. Produk ini tidak membutuhkan baterai maupun pengisian daya.
“SPATCH ini tanpa menggunakan alat elektronik. Jadi tanpa baterai, tanpa perlu di-charge lagi,” ujar Rizka.
Bobot SPATCH sekitar 7,12 gram. Satu kemasan yang berisi tiga plester dan satu micro pressure board dibanderol Rp35.000. Rizka menyebut harga tersebut lebih terjangkau dibandingkan perangkat koreksi postur elektronik maupun brace atau korset medis yang dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Evaluasi Konsumen dan Target Produksi Industri
Pengembangan SPATCH telah melalui proses panjang sejak penyusunan proposal pada Januari 2026. Tim kemudian melewati seleksi tingkat universitas hingga nasional dan memperoleh pendanaan dari Dikti serta Belmawa.
Setelah memperoleh pendanaan, tim kini mempersiapkan pengembangan lanjutan sekaligus target mengikuti PIMNAS 2026. Evaluasi dari pengguna menjadi salah satu tahapan penting untuk memastikan produk dapat terus disempurnakan.
“Untuk jangka pendeknya sendiri kami akan mengumpulkan evaluasi dari konsumen yang mana evaluasi ini akan kami sangat butuhkan untuk mengembangkan produk kami secara lebih detail dan secara lebih mendalam,” terang Rizka.
Dari sisi pemasaran, SPATCH saat ini dikembangkan melalui penjualan offline dan online. Produk juga dipasarkan melalui ABC Mart di Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem serta MAT Merch di Fakultas Kedokteran UB.
Ke depan, tim menargetkan pendaftaran produk ke BPOM dan pengembangan produksi dalam skala industri. Tim juga berharap SPATCH tidak hanya menjangkau sivitas akademika UB maupun masyarakat Malang.
“Kami berharap produk SPATCH ini juga tidak hanya dipasarkan di lingkup Universitas Brawijaya dan di Malang saja, tetapi juga bisa dipasarkan di nasional bahkan internasional sehingga banyak orang yang akan merasakan manfaatnya,” pungkas Rizka. (ern)














