Kanal24, Malang – Gelar doktor bukan menjadi akhir perjalanan akademik bagi Dr. dr. Editya Fukata, M.Biomed. Wisudawan terbaik Universitas Brawijaya (UB) pada prosesi wisuda di Gedung Samantha Krida UB, Sabtu (12/9/2026), itu justru menjadikan pencapaian tersebut sebagai pijakan untuk mengembangkan riset di bidang biologi seluler dan komplikasi diabetes melitus.
Editya merupakan lulusan Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) angkatan 2023. Ia menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam waktu sekitar dua setengah tahun.
Menurut Editya, kelancaran studinya tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak di lingkungan FK UB. Mulai dari dosen pembimbing, staf akademik, hingga dosen yang memberikan perkuliahan dan fasilitas pendukung selama proses pendidikan.
“Kelancaran dalam studi S3 saya ini melibatkan kontribusi dari banyak pihak, terutama dari civitas akademika FK UB,” ujar Editya.
Baca juga:
SPATCH UB, Plester Inovatif untuk Bantu Benahi Postur

Menyelesaikan Disertasi dengan Dukungan Institusi
Perjalanan menyelesaikan pendidikan doktoral diakui Editya bukan proses yang mudah. Penyusunan disertasi menjadi salah satu tahapan yang cukup menguras tenaga, pikiran, waktu, hingga biaya.
Namun, dukungan dari lingkungan akademik dan institusi membuat proses tersebut dapat dilalui hingga tuntas.
Ia menilai keberadaan support system yang baik menjadi salah satu faktor penting dalam menyelesaikan pendidikan doktoral.
“Proses disertasi ini tidaklah mudah. Ini merupakan perjalanan akademik yang cukup berat karena menguras tenaga, biaya, pikiran dan sebagainya. Dengan support system yang baik dan support dari institusi, alhamdulillah bisa menyelesaikan dengan lancar,” katanya.
Riset Komplikasi Diabetes dari Sisi Biologi Seluler
Dalam disertasinya, Editya mengangkat persoalan komplikasi yang berkaitan dengan penyakit diabetes melitus. Namun, kajian tersebut dilakukan dari perspektif biologi seluler.
Riset tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengembangan pengetahuan akademik, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung upaya pencegahan komplikasi diabetes.
“Arah ke depannya harapannya hasil ini bisa dikembangkan sebagai pengembangan terapi komplementer untuk pencegahan komplikasi dari diabetes melitus,” jelasnya.
Menurut Editya, hasil penelitian tersebut masih membuka ruang untuk pengembangan lebih lanjut, khususnya terkait mekanisme biologis yang berperan dalam penyakit diabetes dan komplikasinya.
Gelar Doktor Buka Jalan untuk Riset Baru
Setelah menyandang gelar doktor, Editya mengatakan tanggung jawab akademiknya justru semakin besar. Ia tidak ingin pencapaian tersebut menjadi titik akhir dari perjalanan penelitian yang telah dilakukan.
Baginya, gelar doktor membuka kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengembangan keilmuan, khususnya dalam bidang biologi seluler.
Dalam 10 tahun ke depan, ia berharap dapat mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan pencegahan penyakit akibat radikal bebas serta komplikasi diabetes melitus.
“Dengan saya menyandang gelar doktor ini bukan berarti sudah selesai, tetapi juga membuka jalan baru untuk saya meneruskan riset saya di bidang tersebut,” ujarnya.
Ia menargetkan pengembangan keilmuan tersebut dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi terhadap upaya pencegahan penyakit yang berkaitan dengan diabetes dan mekanisme biologisnya.
Bagi Editya, capaian sebagai wisudawan terbaik bukan sekadar penghargaan atas perjalanan akademiknya selama dua setengah tahun. Lebih dari itu, pencapaian tersebut menjadi dorongan untuk membawa hasil riset dari ruang akademik menuju pengembangan ilmu dan solusi kesehatan yang lebih luas. (nid)













