Kanal24, Malang – Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar untuk menekan kasus tuberkulosis (TBC). Di tengah tingginya beban penyakit tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) mendorong keterlibatan akademisi dan berbagai sektor melalui The 4th Brawijaya Medical Conference (BMC) International Tuberculosis Conference 2026.
Ketua Pelaksana Seminar BMC FK UB, Dr. dr. Ery Olivianto, SpA(K), mengatakan Indonesia saat ini berada di peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India.
“Indonesia ini ranking dua kasus terbanyak sedunia, satu level di bawah India,” ujar Ery saat ditemui di Lantai 2 Gedung Graha Medika FK UB, Sabtu (12/9/2026).
Data tersebut sejalan dengan laporan World Health Organization (WHO) yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Dalam laporan global terbaru, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari estimasi kasus TBC global pada 2024 dan berada di posisi kedua setelah India.
Baca juga:
Kelola Limbah Organik untuk Zero Waste, Tim UB Hadirkan SEEMS Berbasis IoT

Menurut Ery, persoalan TBC di Indonesia menjadi semakin serius karena luas wilayah dan kepadatan penduduk juga perlu diperhitungkan dalam melihat tantangan penanganannya.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, pemerintah daerah, hingga sektor lain, termasuk perguruan tinggi. Namun, Ery menilai eliminasi TBC belum dapat dituntaskan sehingga diperlukan penguatan penelitian, edukasi, serta kolaborasi lintas sektor.
“Upaya kita sudah bertahun-tahun, baik oleh Kemenkes, pemerintah daerah maupun sektor-sektor lain termasuk universitas, tetapi sampai sekarang belum tuntas,” katanya.
BMC Jadi Ruang Kolaborasi
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan FK UB menggelar BMC 2026 dengan fokus pada isu tuberkulosis. Kegiatan yang berlangsung 11–13 September 2026 tersebut merupakan agenda rutin BMC yang tahun ini diarahkan menjadi forum internasional mengenai TBC.
Rangkaian kegiatan meliputi workshop yang telah berlangsung pada 11 September, konferensi selama dua hari, serta lomba ilmiah berupa oral presentation dan poster presentation.
Konferensi ini merupakan kolaborasi FK UB dengan Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Pesertanya tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga sejumlah negara, antara lain Bangladesh, Pakistan, dan Myanmar.
Para pembicara utama berasal dari China, India, Malaysia, Australia, dan Portugal. Kehadiran para pakar tersebut diharapkan memperluas pertukaran pengetahuan mengenai penanganan TBC sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional.

Bidik Eliminasi TBC 2030
Ery mengatakan forum tersebut diarahkan untuk meningkatkan wawasan para peserta, baik dokter maupun tenaga kesehatan lainnya, sehingga dapat berkontribusi dalam sistem penanggulangan TBC secara multisektoral.
Ia berharap UB dapat mengambil peran lebih besar dalam mendukung program eliminasi TBC secara nasional.
“Tujuan kita adalah pada tahun 2030 nanti kita bisa mencapai tujuan zero TB. Tidak ada orang yang meninggal karena TB, tidak ada anak yang cacat karena TB,” ujarnya.
Menurut Ery, penanggulangan TBC juga tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Akademisi dan masyarakat perlu mengambil bagian melalui penelitian, edukasi, maupun kontribusi lainnya.
“Penanggulangan TB ini tidak bisa kita serahkan hanya kepada pemerintah, tetapi kita sebagai akademisi, sebagai masyarakat, kita harus ikut berpartisipasi aktif,” tegasnya.
Keterlibatan tersebut mencakup penanganan TBC pada orang dewasa maupun anak-anak, termasuk pasien dengan HIV positif maupun HIV negatif.
Melalui BMC 2026, FK UB berharap kolaborasi akademik dan lintas sektor dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat strategi Indonesia menuju eliminasi TBC. (nid)













