Kanal24, Malang – Topeng dalam kesenian tradisional Malang bukan sekadar benda yang digunakan dalam pertunjukan. Di balik bentuk, karakter, hingga warna yang digunakan, terdapat makna dan nilai yang menjadi bagian dari cerita serta kehidupan masyarakat. Hal tersebut dikenalkan kepada peserta Workshop Ruang Budaya melalui materi Topeng Malangan.
Pimpinan Padepokan Seni Topeng Asmoro Bangun, Tri Handoyo, menjadi pemateri dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung C Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Selasa (15/9/2026). Ia mengajak peserta mengenal karakter dalam Wayang Topeng Malang sekaligus mempraktikkan teknik pewarnaan topeng.
Baca juga:
Mencegah Karies Anak Harus Dimulai dari Deteksi Dini
Topeng Malangan Punya Banyak Karakter
Tri Handoyo menjelaskan bahwa Wayang Topeng Malang menggunakan topeng dengan berbagai karakter. Dalam cerita Panji, karakter tersebut dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok, mulai dari tokoh protagonis, antagonis, tokoh humor atau pembantu, hingga karakter yang menyerupai hewan.

Salah satu tokoh yang dikenalkan ialah Asmoro Bangun, karakter dari Jenggala yang digambarkan memiliki sifat baik dan suka membantu.
Menurut Tri Handoyo, karakter dalam Topeng Malangan juga membawa pesan kehidupan. Tokoh yang terlihat memiliki sifat buruk tidak selalu dapat dimaknai sepenuhnya sebagai sosok jahat.
“Yang jahat tidak selalu jahat,” kata Tri Handoyo.
Pesan tersebut mengajarkan bahwa hal-hal buruk dapat dikendalikan dan diarahkan menjadi sesuatu yang lebih baik. Nilai tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang dibawa melalui seni pertunjukan tradisional.
Warna Topeng Punya Makna
Tidak hanya mengenalkan karakter, Tri Handoyo juga menjelaskan makna warna yang digunakan dalam proses pewarnaan topeng.
Warna merah menggambarkan keberanian. Putih melambangkan kesucian atau kesetiaan, sedangkan kuning menggambarkan keceriaan atau kebahagiaan. Warna hijau berkaitan dengan kedamaian dan kesuburan, sementara hitam atau biru dapat menggambarkan kebijaksanaan.
Perpaduan warna juga dapat menunjukkan karakter yang lebih kompleks. Warna merah muda, misalnya, merupakan perpaduan merah dan putih yang dapat dimaknai sebagai keberanian sekaligus kesetiaan.
Pemahaman tersebut membuat proses pewarnaan tidak sekadar menentukan warna berdasarkan selera. Setiap pilihan dapat menjadi bagian dari cara menggambarkan karakter yang ingin ditampilkan.
Belajar dari Goresan Kuas
Dalam workshop, peserta juga diajak mempraktikkan proses pewarnaan topeng secara bertahap, mulai dari bagian wajah, ornamen, hingga finishing.
Tri Handoyo menekankan pentingnya memahami pakem dalam membuat karya Topeng Malangan. Peserta tidak hanya diarahkan menghasilkan topeng yang menarik secara visual, tetapi juga memahami aturan dan karakter yang menjadi dasar dalam karya tersebut.
Menurutnya, goresan kuas juga dapat memperlihatkan proses belajar seseorang. Goresan yang lebih kasar dapat menunjukkan pengalaman yang masih terbatas, sedangkan detail dan ketelitian yang lebih kuat dapat mencerminkan pengalaman yang lebih luas.
Melalui praktik tersebut, peserta diajak melihat bahwa seni tradisional tidak berhenti pada hasil akhir. Proses, ketelitian, pemahaman karakter, hingga makna warna menjadi bagian penting dalam mengenal Topeng Malangan.
Bagi Tri Handoyo, pengenalan seperti ini menjadi salah satu cara untuk mendekatkan kembali kesenian tradisional kepada generasi muda. Dengan memahami makna di balik karya, topeng tidak lagi hanya dipandang sebagai benda seni, tetapi juga sebagai media untuk mengenalkan cerita, karakter, dan nilai kehidupan. (ern)













