Kanal24, Malang – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan rompi pintar ADAPT-V yang dirancang untuk membantu mendeteksi kondisi tantrum pada anak dengan autism spectrum disorder (ASD). Rompi ini dilengkapi sistem otomatis yang dapat mendeteksi kondisi anak dan mengirimkan notifikasi melalui aplikasi.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Muhammad Nafis Khilmi, mahasiswa Program Studi Psikologi UB, bersama Emilia Soleha, mahasiswi Program Studi Teknik Elektro UB angkatan 2025. ADAPT-V diperkenalkan dalam LENSA BRAWIJAYA Rompi Pintar yang diselenggarakan UBTV di Lorong Studio UBTV, Lantai 2 Gedung Rektorat UB, Rabu (16/9/2026).
Baca Juga:
Mahasiswa UB Kembangkan Rompi Pintar Redam Tantrum Anak ASD
Berangkat dari Keterbatasan Perangkat
Muhammad Nafis Khilmi menjelaskan, pengembangan ADAPT-V berangkat dari kebutuhan terhadap perangkat pendukung bagi anak dengan ASD. Menurutnya, perangkat serupa yang dapat membantu menenangkan kondisi anak masih memiliki keterbatasan akses di Indonesia.
“Oke. Ee kalau untuk latar belakangnya karena di sini kita melihat banyak ee anak dengan di Indonesia sendiri kan terdapat 3,2 juta anak dengan autism spektrum disargarkan,” ujar Nafis.
Ia menyebut perangkat yang tersedia untuk membantu menangani kondisi tersebut masih banyak berasal dari luar negeri. Selain harganya mahal, perangkat tersebut juga dinilai memiliki keterbatasan dalam penggunaannya.
“Oleh karena itu di sini kami menginisiasi untuk menciptakan alat yang lebih murah, alat yang lebih kompatibel, alat yang lebih optimal untuk digunakan bagi teman-teman dengan autism spectrum disorder,” lanjutnya.
ADAPT-V Dibekali Sistem Otomatis
Salah satu pengembangan utama ADAPT-V terletak pada sistem otomatis yang disematkan pada rompi. Sistem tersebut dirancang untuk mendeteksi kondisi anak ketika mengalami tantrum dan mengirimkan notifikasi ke aplikasi.
“Oke, jadi untuk keunggulan utama jika dibandingkan rompi sebelumnya itu rompi kami ini itu ada sistem otomatisnya. Jadi bisa mendeteksi anak ini ketika tantrum atau tidak dan juga bisa mengirim notifikasi ke aplikasi,” kata Nafis.
Selain sistem deteksi, ADAPT-V juga memiliki sistem terapi otomatis. Fitur tersebut menjadi bagian dari pengembangan rompi untuk mendukung kebutuhan individu dengan ASD.
Masih Tahap Prototipe
Saat ini, ADAPT-V masih berada pada tahap prototipe. Tim pengembang menargetkan penyempurnaan agar rompi lebih nyaman, ringan, dan optimal digunakan sebelum dikembangkan menuju tahap komersialisasi.
“ee sejauh ini kami kan masih berfokus kepada prototype cuman untuk ke depannya kita bakal mengoptimalkan lagi supaya alatnya itu lebih nyaman, lebih ringan, lebih optimal untuk digunakan sehingga kita bisa komersialisasikan dan bisa kita berjual belikan supaya lebih bisa membantu banyak individu dengan autisme spectrum disorder,” ujar Nafis.
Pengembangan tersebut menjadi langkah lanjutan tim untuk meningkatkan kesiapan ADAPT-V sebagai perangkat pendukung bagi individu dengan ASD. Tim juga menargetkan rompi dapat dikembangkan dan diproduksi agar penggunaannya dapat menjangkau lebih banyak individu. (ndr)














