Kanal24, Malang – Epilepsi masih kerap dihadapkan pada persoalan stigma dan kurangnya pemahaman mengenai penanganan saat kejang. Untuk memperkuat literasi mengenai kondisi tersebut, Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) bersama RSUD dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang menggelar Epilepsy Smart School 2026, Sabtu (22/8/2026).
Sebanyak 115 peserta yang terdiri dari guru, orang tua, serta pelajar jenjang SD, SMP, SMA, SLB hingga Yayasan Disabilitas mengikuti kegiatan tersebut.
Mengusung tema “Turning Stories into Action: Understanding Epilepsy, Break the Stigma, Build Awareness”, Epilepsy Smart School bertujuan meningkatkan literasi masyarakat mengenai epilepsi. Edukasi difokuskan pada pemahaman pertolongan pertama saat kejang serta upaya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap penyandang epilepsi.
Baca juga: Mahasiswa UB Kembangkan Rompi Pintar ADAPT-V untuk Deteksi Tantrum Anak
Kenalkan Epilepsi hingga Pertolongan Pertama Saat Kejang
Edukasi diberikan melalui dua sesi utama. Dr. dr. Machlusil Husna, Sp.N(K) membawakan materi “Mengenal Epilepsi Lebih Dekat dan Pertolongan Pertama pada Kejang”.
Sementara itu, dr. Ria Damayanti, Sp.N(K), M.Biomed membawakan materi “Menghapus Stigma terhadap Penyandang Epilepsi: Mitos, Fakta, dan Realita”.
Peserta juga mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama kedua narasumber. Diskusi tersebut membahas berbagai pengalaman dan tantangan terkait epilepsi yang ditemui di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Pemahaman mengenai penanganan kejang kemudian diperkuat melalui workshop dan simulasi pertolongan pertama. Dalam dokumentasi kegiatan, peserta terlihat mempraktikkan langsung penanganan seseorang yang mengalami kejang dengan pendampingan pemateri.
Ajak Pelajar Lawan Stigma Epilepsi
Selain membekali peserta dengan pengetahuan mengenai epilepsi dan pertolongan pertama, kegiatan tersebut juga menyoroti stigma yang masih dihadapi penyandang epilepsi.
Peserta diajak memahami bahwa epilepsi bukan penyakit menular sehingga penyandang epilepsi tidak perlu dijauhi maupun mendapatkan perlakuan diskriminatif. Penyandang epilepsi tetap memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berprestasi, bersosialisasi, dan mengembangkan potensinya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Deklarasi Anti-Stigma Epilepsi oleh panitia, peserta, dan pemateri. Deklarasi menjadi simbol kesepakatan untuk meningkatkan pemahaman mengenai epilepsi, memberikan dukungan kepada penyandang epilepsi, serta menolak stigma dan diskriminasi.
Upaya membangun pemahaman juga dikemas melalui Lomba Poster Edukasi Anti-Stigma Epilepsi bagi pelajar SD, SMP, dan SMA. Peserta turut mengikuti Tree of Support dengan menuliskan pesan dukungan kepada penyandang epilepsi sebagai simbol kepedulian dan kesadaran bersama.

Baca juga: Green Campus Jadi Prioritas UB, Dorong Kampus Peduli Lingkungan
Dorong Lingkungan Sekolah Lebih Inklusif
Epilepsy Smart School turut menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi melalui peran FK UB dan Departemen Neurologi dalam membawa ilmu kedokteran menjadi kegiatan edukasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Pelibatan guru, orang tua, dan pelajar dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu membentuk lingkungan sekolah yang lebih peduli, inklusif, dan bebas dari stigma terhadap penyandang epilepsi.
Antusiasme peserta juga menjadi dorongan untuk kembali menyelenggarakan Epilepsy Smart School pada tahun mendatang dengan jangkauan yang lebih luas.
Peserta diharapkan tidak hanya membawa pulang pengetahuan dari kegiatan tersebut, tetapi juga meneruskan informasi mengenai epilepsi kepada keluarga, teman, sekolah, dan masyarakat. (Afr)














