Kanal24, Malang – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital membawa perubahan pada cara manusia belajar, berkomunikasi, serta memproduksi dan menyebarluaskan pengetahuan. Perubahan tersebut turut memengaruhi pembelajaran bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan. Di tengah perkembangan itu, perspektif multikultural menjadi penting agar pemanfaatan teknologi tetap memberi ruang bagi keberagaman, memperkuat literasi, dan mendorong kemampuan berpikir kritis.
Perspektif tersebut menjadi fokus dalam The 6th International Conference on Language, Literature, Education, and Culture (ICOLLEC VI) yang diselenggarakan Departemen Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) di Malang, Kamis (17/09/2026). Ketua Departemen Bahasa dan Sastra FIB UB Dr. Esti Junining, M.Pd. dan Ketua Pelaksana ICOLLEC VI Scarletina Vidyayani Eka, S.S., M.Hum. menjelaskan konferensi tersebut menjadi bagian dari rangkaian konferensi internasional FIB UB tahun 2026.
Baca juga:
AI Ubah Cara Manusia Berkarya, FIB UB Bahas Masa Depan Humaniora
ICOLLEC VI Perluas Ruang Kolaborasi
Dr. Esti Junining menjelaskan ICOLLEC merupakan agenda tahunan FIB UB yang menjadi ruang pertemuan berbagai bidang keilmuan di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya. Pada 2026, FIB UB menyelenggarakan dua konferensi internasional, yakni ICON Lateral dan ICOLLEC VI.
Sementara itu, Scarletina Vidyayani Eka mengatakan ICOLLEC VI mempertemukan akademisi, peneliti, serta penggiat ilmu dan aktivisme yang berkaitan dengan bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan.

Menurutnya, pembahasan ICOLLEC tidak hanya ditempatkan dalam batas satu bidang ilmu. Bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan dipertemukan untuk melihat bagaimana berbagai disiplin tersebut dapat saling bersinergi dalam menghadapi perubahan di era digital.
“Tidak hanya batas bidang ilmu saja, bahasa, tidak hanya batas sastra saja, tapi lebih pada bagaimana semuanya bisa bersinergi multikultural,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga membuat ICOLLEC VI tidak hanya membahas perkembangan bahasa dan sastra, tetapi turut melihat penerapannya dalam pendidikan, khususnya melalui perspektif applied linguistics.
Multikulturalisme di Tengah Perkembangan AI
Scarletina mengatakan multikulturalisme menjadi fokus utama ICOLLEC VI, terutama dalam kaitannya dengan bahasa, sastra, dan pendidikan di era AI.
Menurutnya, AI saat ini tidak hanya berfungsi sebagai teknologi pendukung, tetapi telah menjadi medium yang ikut memengaruhi proses pendidikan dan penyebaran pengetahuan. Karena itu, perkembangan teknologi perlu dibarengi dengan pemahaman terhadap keberagaman masyarakat.
Pemanfaatan platform digital juga dinilai dapat memperluas jangkauan pengetahuan. Bagi FIB UB yang memiliki dasar keilmuan di bidang literasi, perkembangan teknologi menjadi peluang untuk mendiseminasikan pengetahuan kepada masyarakat secara lebih luas.
Scarletina berharap pengetahuan yang dihasilkan dari lingkungan akademik dapat diolah dan disebarluaskan melalui media digital sehingga tidak berhenti di ruang kelas maupun forum ilmiah.
Dengan demikian, teknologi tidak hanya digunakan untuk mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat literasi dan membuka akses pengetahuan bagi masyarakat.
Ke depan, ia berharap pembahasan dalam ICOLLEC dapat semakin memperhatikan hubungan antara masyarakat dan ruang digital. Perkembangan teknologi, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan upaya membangun masyarakat yang berkelanjutan.
Mahasiswa Didorong Berpikir Kritis
Perspektif mengenai pendidikan dan kemampuan berpikir kritis juga menjadi bagian dari paparan Prof. Dr. Subhan Zein dalam ICOLLEC VI. Ia membahas framework Diversity, Equity, Inclusion, and Sustainability (DEIS) sebagai pendekatan untuk pembelajaran bahasa Inggris, sastra, dan budaya secara lebih komprehensif.

Kerangka tersebut diarahkan untuk memastikan peserta didik memperoleh akses pembelajaran yang baik dan dapat berpartisipasi secara setara. Selain itu, mahasiswa didorong memiliki kemampuan kritis dalam melihat berbagai persoalan sosial dan praktik yang berpotensi mengesampingkan suara kelompok tertentu.
Subhan menilai pembelajaran bahasa, sastra, dan budaya dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar. Karena itu, mahasiswa perlu melihat berbagai fenomena secara utuh dan tidak hanya mengandalkan satu sudut pandang.
Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi di media sosial. Misinformasi dan disinformasi dapat menyebar dengan cepat apabila informasi diterima tanpa proses verifikasi.
“Yang utama adalah mereka harus melihat segala fenomena yang terjadi secara utuh. Bukan hanya melihat dari satu sisi atau dari satu sudut pandang,” kata Subhan.
Ia menyebut tiga hal yang perlu dikembangkan mahasiswa, yakni membangun kesadaran, memiliki keberanian untuk berpikir kritis, dan berani mengambil tindakan.
Kesadaran dapat dibangun melalui kebiasaan membaca berita, mengikuti perkembangan informasi, serta memperluas wawasan melalui buku dan berbagai sumber pengetahuan. Setelah itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa dan mempertanyakan informasi yang diterima.
Tahap berikutnya adalah menerjemahkan pengetahuan tersebut dalam tindakan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami persoalan yang berkembang, tetapi juga dapat berkontribusi dalam menemukan solusi.
Melalui ICOLLEC VI, FIB UB memperluas ruang dialog mengenai hubungan bahasa, sastra, budaya, pendidikan, dan teknologi. Perkembangan AI ditempatkan sebagai bagian dari perubahan yang perlu dipahami secara kritis agar kemajuan teknologi tetap berjalan bersama penguatan literasi, keberagaman, dan nilai kemanusiaan.
Konferensi tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademisi dan peneliti dalam membaca perubahan pendidikan di era digital. Dengan pendekatan lintas disiplin, ICOLLEC VI diharapkan dapat terus menjadi forum pertukaran gagasan mengenai perkembangan bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan di tengah perubahan teknologi.(ffn)














