Kanal24, Malang – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin mengubah cara manusia memproduksi, mengonsumsi, dan mengembangkan pengetahuan. Perubahan tersebut turut menyentuh bidang bahasa, sastra, budaya, dan media, sekaligus menghadirkan pertanyaan baru mengenai proses kreatif, posisi pengarang dan pembaca, hingga pemanfaatan sumber daya budaya di tengah perkembangan teknologi.
Isu tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam The 6th Icon Literals 2026 yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) di Aula Lantai 2 Gedung A FIB UB, Malang, Rabu (16/09/2026). Sejumlah perspektif mengenai perkembangan AI dan kajian humaniora disampaikan Ketua Pelaksana The 6th Icon Literals 2026 Dr. Nurul Laili Nadhifah, S.S., M.Hum., Prof. Dr. Manneke Budiman, S.S., M.A., Ph.D., serta Dekan FIB UB Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D.
Baca juga:
Workshop Ruang Budaya HMPIP UB Kenalkan Budaya Nusantara
AI Jadi Fokus Utama Konferensi
Ketua Pelaksana The 6th Icon Literals 2026, Dr. Nurul Laili Nadhifah, S.S., M.Hum., menjelaskan konferensi tersebut berangkat dari keinginan untuk menghimpun berbagai pemikiran yang berkaitan dengan isu-isu aktual. Memasuki penyelenggaraan keenam, kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat perkembangan pemikiran dalam kajian humaniora, baik di lingkungan UB maupun dari berbagai wilayah di Indonesia hingga mancanegara.

“Awalnya kita ingin mengumpulkan pemikiran-pemikiran yang engaging dengan isu-isu yang sekarang,” ujar Nurul.
Menurutnya, perkembangan AI menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan tahun ini. Pembahasan diarahkan pada perkembangan dan pemanfaatan AI untuk kajian sastra, budaya, dan media.
Pemilihan isu tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi panitia. Sejumlah konferensi dengan bidang serupa digelar oleh universitas lain dalam waktu yang berdekatan sehingga panitia perlu menentukan celah pembahasan yang relevan dengan perkembangan keilmuan sekaligus menarik bagi peserta.
Nurul mengatakan konferensi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan keilmuan sesuai isu-isu terbaru. Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, paper yang terkumpul ditargetkan dapat dikembangkan menjadi publikasi ilmiah melalui jurnal yang telah bekerja sama, termasuk jurnal terindeks Scopus, serta book chapter.
Hilirisasi Budaya Hadirkan Refleksi Kritis
Persoalan lain yang menjadi perhatian dalam The 6th Icon Literals 2026 adalah hilirisasi budaya. Prof. Dr. Manneke Budiman, S.S., M.A., Ph.D., mengatakan istilah hilirisasi belakangan semakin banyak dibicarakan dalam berbagai sektor.

Ia memilih melihat penerapan konsep tersebut pada sumber daya budaya secara kritis, termasuk bagaimana penerapannya, konsekuensi yang mungkin muncul, serta alternatif yang dapat dikembangkan.
Menurut Manneke, sastra dan budaya semakin dituntut untuk mampu berbicara secara konkret mengenai persoalan yang berkembang di masyarakat. Salah satunya melalui pembahasan mengenai hilirisasi yang kini menjadi bagian dari percakapan di berbagai bidang.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan AI juga membawa perubahan terhadap hubungan antara pembaca dan pengarang. Menurut Manneke, batas antara keduanya semakin kabur seiring kemampuan teknologi membantu pembaca dalam menghasilkan karya.
Pengarang juga tidak lagi hanya berada pada posisi sebagai pencipta, tetapi sekaligus menjadi bagian dari proses membaca dan mengonsumsi berbagai bentuk karya. Kondisi tersebut membuat proses produksi dan konsumsi karya pada titik tertentu semakin sulit dibedakan secara tegas.
Perubahan itu menjadi tantangan bagi kajian sastra dan budaya untuk terus membaca ulang hubungan antara teknologi, kreativitas, pengarang, pembaca, dan karya.
Pembicara Empat Negara Perluas Perspektif
Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., mengatakan The 6th Icon Literals merupakan konferensi tahunan yang membahas bahasa, sastra, budaya, dan media. Pada penyelenggaraan keenam, perhatian utama diarahkan pada bagaimana AI berperan dan memengaruhi perkembangan bidang-bidang humaniora.
Menurut Sahiruddin, forum tersebut penting bagi sivitas akademika FIB karena menjadi ruang untuk memperbarui pengetahuan sekaligus mendiskusikan perkembangan bahasa, sastra, budaya, dan media di tengah perubahan teknologi.
Bagi dosen, pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal dalam menyusun arah penelitian dan pengajaran. Sementara bagi mahasiswa, diskusi yang berlangsung dapat membuka perspektif mengenai berbagai topik penelitian yang dapat dikembangkan dalam kajian bahasa, sastra, budaya, dan media.
The 6th Icon Literals 2026 juga menghadirkan pembicara dari empat negara. Sahiruddin menyebut kehadiran akademisi dari berbagai wilayah geografis penting untuk memperkaya perspektif dalam pembahasan humaniora.
Perbedaan geografis turut membawa pola perkembangan pengetahuan dan teknologi yang beragam. Karena itu, peserta dapat melihat berbagai praktik yang berkembang di belahan dunia lain untuk kemudian menjadi referensi dalam pengembangan kajian humaniora di Indonesia.
Melalui penyelenggaraan The 6th Icon Literals 2026, FIB UB berupaya menjadikan perkembangan AI dan isu-isu kontemporer sebagai bagian dari diskusi akademik. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif mengenai masa depan bahasa, sastra, budaya, dan media di tengah perubahan teknologi.
Konferensi yang memasuki penyelenggaraan keenam ini diharapkan terus berkembang sebagai ruang pertukaran gagasan sekaligus memperkuat kontribusi FIB UB dalam pengembangan kajian sastra dan budaya di Indonesia.(ffn)














