Kanal24, Malang – Hasil penelitian akademik tidak harus berhenti dalam bentuk disertasi dan publikasi ilmiah. Dr. Wahyu Widodo, S.S., M.Hum., dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), mengalihwahanakan hasil disertasinya mengenai Mas Malang Yuda menjadi film dokumenter berjudul Mencari Mas Malang Yuda.
Film dokumenter bagian pertama tersebut diputar dalam Gala Premiere di Lantai 7 Gedung A FIB UB, Selasa (29/9/2026). Film ini menjadi upaya Wahyu memperluas akses masyarakat terhadap hasil penelitian yang sebelumnya dikembangkan dalam lingkungan akademik.
Wahyu merupakan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan konsentrasi etnolinguistik. Bidang tersebut mempertemukan bahasa, budaya, dan sejarah untuk memahami berbagai persoalan.
Disertasinya dipertahankan di Leiden University pada 10 April 2025. Sepulang dari Belanda, Wahyu kemudian memikirkan cara agar penelitian tersebut dapat dikonsumsi masyarakat yang lebih luas, terutama masyarakat yang memiliki kedekatan dengan tradisi lisan dan visual.
Baca juga;
MKN UB Jakarta Bekali Mahasiswa Strategi Tembus Jurnal Ilmiah

“Harapannya melalui film ini sebuah riset tidak hanya dinikmati oleh kelompok ilmuwan di bidangnya saja, tetapi bisa dikonsumsi oleh masyarakat umum,” ujar Wahyu.
Menelusuri Jejak Mas Malang Yuda
Film Mencari Mas Malang Yuda direkonstruksi dari data manuskrip yang ditemukan dalam koleksi khusus di Leiden. Penelusuran tersebut kemudian mengantarkan Wahyu pada sosok Mas Malang Yuda, seorang pemimpin tarekat Akmaliah yang hidup pada paruh kedua abad ke-19.
Penelitian tersebut juga dilengkapi dengan penelusuran arsip di National Archives di Den Haag. Dari sana, Wahyu menemukan sejumlah berita acara atau proses verbaal yang berkaitan dengan Mas Malang Yuda.
Berbagai sumber tersebut digunakan untuk merekonstruksi kisah hidup Mas Malang Yuda pada rentang 1884 hingga 1888 dalam konteks masa kolonial Jawa.
Salah satu fokus film adalah proses pencarian jejak Mas Malang Yuda dan keluarganya. Tokoh tersebut diketahui meninggal pada 15 Desember 1888 di Pulau Buru.
Wahyu berupaya menemukan berbagai jejak yang masih dapat digunakan untuk memahami kembali peristiwa masa lalu.
Menurutnya, proses rekonstruksi tersebut menunjukkan bagaimana bukti filologis dan jejak arsip dapat menjadi sumber untuk memahami sejarah sekaligus melihat kembali kearifan masa lalu.
Riset Dibawa ke Ruang Publik
Proses produksi film dilakukan setelah penelitian akademiknya selesai. Di luar proses riset, pengerjaan film berlangsung lebih dari satu tahun, mulai Mei 2025 hingga September 2026.
Produksi melibatkan sutradara, kamerawan, soundman, editor, dan sejumlah anggota tim lainnya. Lokasi pengambilan gambar berada di beberapa wilayah, antara lain Malang, Purbalingga, Ngawi, serta sejumlah titik yang berkaitan dengan sumber penelitian di Belanda.
Bagi Wahyu, pengubahan disertasi menjadi film merupakan proses tersendiri. Materi penelitian yang sebelumnya disusun dalam bentuk akademik harus diterjemahkan menjadi cerita yang dapat dipahami melalui medium visual.
Film tersebut akhirnya menjadi salah satu bentuk diseminasi hasil penelitian kepada masyarakat. Melalui medium dokumenter, temuan yang berasal dari manuskrip dan arsip dapat diperkenalkan kepada penonton di luar lingkungan akademik.
Wahyu berharap karya tersebut dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal sejarah Mas Malang Yuda sekaligus memahami bagaimana sebuah kisah masa lalu dapat direkonstruksi berdasarkan bukti yang masih tersedia.
Menurutnya, bukti-bukti filologis dan jejak arsip yang ditemukan pada masa kini dapat menjadi modal untuk melihat kembali berbagai kearifan dari masa lalu.
Gala Premiere Mencari Mas Malang Yuda menjadi tahap awal bagi karya dokumenter yang lahir dari perjalanan penelitian tersebut. Film ini mempertemukan hasil kerja akademik dengan medium audio visual agar pengetahuan yang sebelumnya berada dalam ruang penelitian dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. (nid)















Comments 1