Kanal24, Malang – Mengubah disertasi menjadi film dokumenter membutuhkan lebih dari sekadar memindahkan isi penelitian ke dalam gambar. Sutradara Mencari Mas Malang Yuda, Taufan Agustiyan, harus menerjemahkan gagasan akademik mengenai tokoh sejarah ke dalam bahasa audio visual yang tetap berpijak pada data penelitian.
Film dokumenter tersebut merupakan hasil kerja bersama Taufan dengan Dr. Wahyu Widodo, S.S., M.Hum., dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB). Film bagian pertama itu diputar dalam Gala Premiere di Lantai 7 Gedung A FIB UB, Selasa (29/9/2026).
Taufan mengatakan dirinya mulai terlibat setelah bertemu Wahyu dan mendapatkan cerita mengenai disertasi yang telah dipertahankan di Leiden University. Dari pertemuan tersebut, keduanya kemudian mengembangkan gagasan penelitian menjadi film dokumenter.
“Di situ kami berdiskusi banyak hal, mulai dari bagaimana mengalihwahanakan gagasan yang ada dalam disertasi ke dalam bentuk audio visual,” ujar Taufan.
Baca juga:
UB Perkuat Kolaborasi Global melalui World Water Monitoring Day 2026

Delapan Bulan Menyusun Cerita
Menurut Taufan, proses pengembangan film menjadi tantangan karena bahan utama yang digunakan bukan cerita film pada umumnya, melainkan sebuah karya ilmiah.
Tim membutuhkan waktu sekitar delapan bulan untuk mengembangkan gagasan hingga menghasilkan draf skrip. Proses tersebut mencakup diskusi mengenai materi penelitian, struktur cerita, hingga cara menyampaikan temuan akademik melalui medium audio visual.
Setelah skrip dikembangkan, proses pengambilan gambar dilakukan selama sekitar tiga minggu. Tim melakukan produksi di sejumlah lokasi, termasuk wilayah Banyumas, Ngawi, dan Malang.
Tahap berikutnya adalah penyuntingan yang berlangsung hampir dua bulan. Seluruh proses tersebut dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan cerita sekaligus konsekuensi teknis produksi dokumenter.
Taufan menyebut pengalaman tersebut menjadi tantangan baru karena film ini merupakan karya dokumenter yang berangkat dari disertasi.
Visualisasi Tokoh dari Masa Lampau
Salah satu persoalan terbesar dalam produksi muncul ketika tim harus memvisualisasikan sosok dan peristiwa masa lalu yang tidak memiliki dokumentasi visual secara langsung.
Sumber yang tersedia lebih banyak berupa manuskrip dan arsip. Karena itu, tim tidak dapat begitu saja menghadirkan gambaran visual tanpa mempertimbangkan dasar bukti yang tersedia.
Taufan menjelaskan, produksi dokumenter memiliki pendekatan yang memungkinkan temuan atau data diterjemahkan ke dalam bentuk visual selama memiliki bukti pendukung yang kuat.
Tim kemudian memilih menggunakan sejumlah ilustrasi sebagai cara untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi pada masa lalu.
Proses tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Taufan harus berdiskusi dengan Wahyu mengenai detail cerita dan perjalanan sosok yang hendak ditampilkan.
“Kesulitannya satu karena kita tidak punya dokumen visual pada masa itu,” katanya.
Untuk menghasilkan visual yang sesuai dengan gagasan penelitian, tim melakukan sejumlah negosiasi kreatif dan menyesuaikannya dengan kebutuhan teknis produksi.
Dokumenter sebagai Medium Diseminasi Riset
Produksi Mencari Mas Malang Yuda juga dilakukan dengan tim yang relatif kecil. Dalam proses traveling shot, Taufan membawa sekitar lima hingga enam orang yang terdiri atas tim produksi, kamerawan, dan soundman.
Tim bahkan memilih menggunakan transportasi umum untuk mendukung mobilitas selama produksi. Strategi tersebut dilakukan agar perjalanan lebih fleksibel sekaligus menyesuaikan kebutuhan produksi di berbagai lokasi.
Setelah melalui rangkaian produksi, Taufan mengaku puas dengan hasil akhir film. Ia berharap model produksi dokumenter berbasis penelitian dapat semakin berkembang, khususnya di lingkungan Universitas Brawijaya.
Menurutnya, dokumenter dapat menjadi medium penting untuk menyampaikan hasil temuan ilmiah maupun ilmu terapan kepada masyarakat.
Ia berharap hasil penelitian tidak hanya tersimpan dalam bentuk publikasi atau berada di ruang perpustakaan, tetapi dapat didiseminasikan melalui medium yang lebih mudah diakses publik.
“Jangan sampai hasil temuan itu berhenti di rak perpustakaan, tapi bisa dideseminasikan semacam ini. Kita bisa diskusikan dan kita bisa visualisasikan,” ujar Taufan.
Melalui Mencari Mas Malang Yuda, proses penelitian dan produksi film kemudian bertemu dalam satu karya. Disertasi menjadi sumber pengetahuan, sementara dokumenter menjadi medium untuk menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam bentuk audio visual yang dapat menjangkau penonton lebih luas. (nid)














