Kanal24, Malang – Dalam sebuah hubungan, perhatian kepada pasangan merupakan hal yang wajar. Namun, ketika salah satu pihak terus-menerus menjadi pengingat, penenang, sekaligus pengelola kehidupan sosial dan emosi pasangannya, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi beban emosional yang tidak terlihat.
Fenomena itu dikenal dengan istilah mankeeping. Istilah yang dicetuskan peneliti Angelica Ferrara tersebut menggambarkan bentuk invisible emotional labor atau kerja emosional tak kasatmata yang dilakukan perempuan untuk mengelola kehidupan sosial dan emosional pasangan laki-laki.
Fenomena mankeeping menjadi sorotan karena peran tersebut kerap dianggap sebagai bagian alami dari hubungan. Padahal, ketika berlangsung terus-menerus dan menjadi tanggung jawab sepihak, beban tersebut dapat menguras energi serta memengaruhi keseimbangan relasi.
Baca juga:
Musyawarah (Syura) Digagas sebagai Paradigma Baru Pembentukan Hukum yang Dikehendaki Publik
Ketika Perempuan Menjadi “Manajer” Pasangan
Dalam kehidupan sehari-hari, mankeeping dapat muncul dalam berbagai bentuk. Perempuan, misalnya, menjadi pihak yang mengingatkan pasangan untuk menghubungi keluarga, menghadiri agenda tertentu, memeriksakan kesehatan, hingga menjaga hubungan dengan teman-temannya.
Peran tersebut juga dapat muncul dalam ranah emosional. Perempuan menjadi tempat utama pasangan ketika menghadapi tekanan pekerjaan, membantu menyusun kata-kata untuk menyampaikan pesan penting, hingga membantu pasangan memahami dan mengurai emosi yang sulit diungkapkan sendiri.
Dukungan emosional dalam hubungan tentu bukan persoalan. Yang menjadi perhatian adalah ketika dukungan tersebut berubah menjadi tanggung jawab yang terus-menerus dibebankan kepada satu pihak.
Kerja emosional yang dilakukan secara berulang juga berisiko tidak terlihat karena dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Akibatnya, energi dan waktu yang dikeluarkan perempuan untuk menjaga kondisi sosial maupun emosional pasangan dapat kurang mendapatkan pengakuan.
Faktor Sosial dan Norma Gender
Mankeeping tidak muncul dalam ruang kosong. Fenomena tersebut berkaitan dengan faktor sosial, budaya, serta pola hubungan yang berkembang dalam kehidupan pasangan.
Artikel Diajeng yang mengulas fenomena ini merujuk pada penelitian Stanford University 2024 mengenai penyempitan jaringan pertemanan laki-laki dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi yang disebut male-friendship recession dapat membuat sebagian laki-laki semakin menjadikan pasangan sebagai tempat utama untuk memperoleh dukungan emosional.
Norma gender juga menjadi salah satu faktor yang dibahas. Laki-laki sejak kecil kerap ditempatkan dalam ekspektasi sebagai sosok yang kuat sehingga kerentanan dan ekspresi emosi tidak selalu mendapat ruang yang sama.
Ketika memasuki hubungan serius atau pernikahan, kondisi tersebut dapat membuat pasangan perempuan menjadi pihak yang lebih banyak memfasilitasi kebutuhan emosional laki-laki.
Dalam situasi seperti ini, hubungan berisiko berkembang menjadi pola di mana satu pihak terus mengelola emosi sementara pihak lainnya lebih banyak menerima dukungan.
Berisiko Memicu Kelelahan Emosional
Menjadi penopang emosional seseorang secara terus-menerus dapat membuat perempuan mengalami kelelahan mental. Salah satu risikonya adalah burnout karena harus selalu siap memberikan perhatian dan menjaga suasana hati pasangan.
Ketimpangan tersebut juga dapat memunculkan kekecewaan apabila perhatian yang diberikan dianggap sebagai kewajiban biasa dan tidak mendapatkan timbal balik yang sepadan.
Dalam jangka panjang, perempuan dapat merasa harus selalu memantau perubahan emosi pasangan dan menganggap dirinya bertanggung jawab atas kesejahteraan emosional pasangannya.
Kondisi tersebut juga berpotensi membuat kebutuhan pribadi terabaikan. Fokus yang terlalu besar pada perasaan dan kebutuhan pasangan dapat mengurangi ruang bagi perempuan untuk menjalankan hobi, mengejar tujuan pribadi, maupun menjaga kehidupan sosialnya sendiri.
Membagi Kembali Beban dalam Hubungan
Menyadari adanya pola mankeeping menjadi langkah awal untuk membangun pembagian tanggung jawab yang lebih seimbang. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi pekerjaan emosional dan sosial yang selama ini dilakukan secara sepihak.
Pasangan kemudian dapat membicarakan pembagian tanggung jawab tersebut secara terbuka. Peran sebagai pengingat, misalnya, dapat dialihkan kepada sistem yang lebih mandiri seperti kalender digital atau aplikasi pengingat pribadi.
Di sisi lain, pasangan laki-laki juga dapat membangun jaringan dukungan di luar hubungan. Memelihara pertemanan, bergabung dalam komunitas, atau mencari bantuan profesional ketika diperlukan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasangan sebagai satu-satunya tempat regulasi emosi.
Pada akhirnya, dukungan emosional dalam hubungan idealnya berjalan dua arah. Hubungan tidak hanya menjadi ruang bagi salah satu pihak untuk mengelola dan menampung emosi pasangannya, tetapi menjadi ruang bersama untuk saling mendukung dengan tanggung jawab yang dibagi secara sadar. (nid)














