Kanal24, Malang – Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin mudah digunakan untuk menghasilkan gambar dan ilustrasi, jejak tangan manusia justru menjadi sesuatu yang ingin dipertahankan Ega Mawardani. Melalui karya-karyanya, visual artist tersebut menghadirkan ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses kreatif yang tidak ingin dihilangkan.
Pesan itu dibawa Ega dalam Jakarta Illustration Creative Arts Fair (JICAF) 2026 di Agora Mall, Jakarta Pusat. Pameran bertema “The World We Draw” tersebut mempertemukan 130 pelaku seni dan ilustrator dari Indonesia serta sejumlah negara, termasuk Malaysia, Singapura, Thailand, dan Cina. Pada Jumat (2/10/2026), gelaran tersebut memasuki pekan terakhir.
Baca juga:
Cocoflux Antarkan Mahasiswa UB Juara 1 SORE 2 UGM
Dari Desain Grafis hingga Dunia Seni Visual
Ketertarikan Ega pada dunia kreatif sebenarnya sudah muncul sejak kecil. Ia bahkan pernah membuat pakaian dari tisu untuk koleksi boneka Barbie. Ketertarikan itu kemudian berkembang hingga ia memilih pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan bekerja sebagai desainer grafis.
Di tengah kesibukan sebagai desainer, Ega tetap mempertahankan aktivitas melukis. Namun, pekerjaan membuat waktu untuk mengerjakan lukisan secara manual semakin terbatas. Membawa kanvas dan berbagai peralatan melukis ke tempat kerja juga bukan perkara praktis.
Situasi tersebut membuat Ega mulai menggunakan iPad sebagai medium untuk tetap berkarya di sela aktivitas profesionalnya.
“Dulu awalnya kerja sebagai graphic designer sambil painting. Tapi, aku semakin fokus ke karierku, sementara painting butuh waktu yang sangat banyak. Dan aku nggak bisa membawa-bawa lukisannya,” ujar Ega.
Keterlibatannya dalam JICAF 2024 menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan pamerannya di Indonesia. Setelah itu, Ega mulai memperluas pengalaman dengan mengikuti sejumlah pameran seni di Malaysia, Cina, Filipina, hingga Singapura.
Mengangkat Rawness of Human
Pada JICAF 2026, Ega membawa konsep Rawness of Human. Gagasan tersebut berangkat dari keresahannya terhadap semakin banyaknya karya visual yang dihasilkan dengan bantuan AI.
Alih-alih menghindari perkembangan teknologi, Ega memilih menunjukkan sisi yang berbeda melalui karya yang tetap mempertahankan proses manual. Salah satunya adalah artprint yang digambar satu per satu. Ia juga menghadirkan Planter Pot, karya keramik yang dibuat tanpa menggunakan roda putar.
Proses pembuatan secara manual membuat bekas jari dan ketidakteraturan pada permukaan karya tetap terlihat. Bagi Ega, bagian tersebut bukan cacat yang harus disembunyikan, melainkan bukti bahwa karya lahir melalui proses manusia.
“Sebenarnya aku mau menyampaikan pesan tentang ‘the rawness of human’, karena banyak hasil kreasi sekarang berasal dari AI,” kata Ega.
Selain mengeksplorasi hubungan manusia dengan teknologi, Ega banyak mengambil inspirasi dari tanaman. Dalam sejumlah ilustrasinya, tanaman diberi sepasang mata untuk memberikan kesan hidup sekaligus membangun hubungan emosional dengan penikmat karya.
“Aku memberi mata ke tanaman supaya membangun kesan bahwa mereka hidup. Tujuannya untuk memberi koneksi lebih kepada yang melihat karya-karya ini, bahwa tanaman juga makhluk hidup, bukan benda mati,” jelasnya.
Seni di Tengah Peran sebagai Ibu
Perjalanan Ega sebagai visual artist juga berjalan bersamaan dengan aktivitasnya sebagai pekerja dan ibu. Kesibukan di dunia korporasi membuatnya tidak membuka layanan commission art secara rutin. Pameran kemudian menjadi salah satu ruang baginya untuk tetap memperkenalkan karya kepada publik.
Dukungan keluarga turut membantu Ega menjaga aktivitas kreatifnya. Bersama suami, ia berbagi peran dalam mengurus anak sehingga tetap memiliki ruang untuk menjalani kegiatan seni, termasuk ketika harus mengikuti pameran di luar negeri.
Menjadi ibu juga memberi pengaruh terhadap cara Ega melihat lingkungan di sekitarnya. Berbagai hal yang sebelumnya luput dari perhatian justru menjadi sumber pengamatan baru ketika ia melihatnya melalui sudut pandang anak.
“Dalam penciptaan karya seni sebagai ibu, aku jadi lebih sering mempertanyakan diri sendiri dan melihat dunia jadi sangat berbeda. Hal-hal yang tadinya aku abaikan jadi aku notice karena anakku notice,” pungkas Ega.
Melalui JICAF 2026, Ega tidak hanya memamerkan ilustrasi dan karya visual, tetapi juga membawa gagasan tentang pentingnya mempertahankan pengalaman manusia dalam proses kreatif. Di tengah kemudahan teknologi menghasilkan karya secara instan, bekas jari, ketidakteraturan, dan proses manual justru menjadi bagian dari cerita yang ingin ia tinggalkan melalui karya. (ern)














