Kanal24, Malang – Menerima dukungan biaya pendidikan dan biaya hidup melalui beasiswa tidak hanya membutuhkan tanggung jawab dalam bidang akademik. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan mengelola keuangan agar bantuan yang diterima dapat digunakan sesuai kebutuhan dan memberi manfaat jangka panjang.
Pesan tersebut disampaikan Alifah G. Maharani, CFP., Mutual Fund Product & Campaign Specialist PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, saat memberikan materi literasi keuangan kepada penerima Beasiswa Dana Abadi Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (3/10/2026).
Alifah mengatakan, literasi keuangan penting dikenalkan sejak mahasiswa karena menjadi bekal ketika mereka mulai memasuki dunia kerja dan memiliki penghasilan sendiri. Pemahaman mengenai pengelolaan uang diharapkan membuat mahasiswa terbiasa menabung, memahami investasi, serta lebih berhati-hati terhadap berbagai tawaran keuangan yang berisiko.
“Mindset menabung dan berinvestasi itu harus dibangun. Itu merupakan sebuah habit,” ujar Alifah.
Baca juga:
Dana Abadi UB Tekankan Amanah Beasiswa, Penerima Didorong Berkontribusi untuk Kampus

Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak perlu dimulai dengan nominal besar. Mahasiswa dapat belajar menyisihkan uang dari jumlah kecil terlebih dahulu agar memiliki pola pengelolaan keuangan yang konsisten.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kemampuan tersebut menjadi penting agar pengeluaran tidak habis untuk memenuhi keinginan sementara kebutuhan utama justru terabaikan.
Living Cost Perlu Dikelola
Bagi penerima Dana Abadi UB yang mendapatkan dukungan biaya hidup, Alifah menyarankan mahasiswa mulai membuat pembagian keuangan secara sederhana.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengetahui sumber pendapatan yang dimiliki, kemudian menyusun pos pengeluaran berdasarkan prioritas.
“Pentingnya di sini literasi keuangan itu untuk kita paham cara memilah-milah mana yang masuk kategori keinginan, mana yang masuk kategori kebutuhan,” jelasnya.
Menurut Alifah, mahasiswa tidak harus menghilangkan seluruh pengeluaran untuk kebutuhan nonprimer. Namun, setiap keinginan perlu ditempatkan berdasarkan skala prioritas agar tidak mengganggu kebutuhan yang lebih penting.
Dengan pengelolaan tersebut, mahasiswa juga dapat menyisihkan sebagian uang untuk tabungan maupun tujuan keuangan lainnya.
“Jangan sampai kita mengutamakan keinginan, tapi ternyata kebutuhannya dinomorduakan,” katanya.
Bangun Kontrol Diri Sejak Mahasiswa
Alifah menilai kemampuan mengelola keuangan juga berkaitan erat dengan self-control. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan menahan diri ketika berhadapan dengan keinginan yang belum menjadi prioritas.
Terlebih, menurutnya, kondisi masa depan tidak selalu dapat diprediksi. Karena itu, memiliki dana yang disisihkan untuk kebutuhan yang lebih mendesak menjadi bagian penting dari pengelolaan keuangan.
“Dengan adanya self-control, teman-teman bisa menahan yang memang dirasa masih bisa nanti atau sebenarnya enggak penting-penting banget,” ujarnya.
Alifah menegaskan, menabung bukan berarti mahasiswa tidak boleh menikmati hasil uang yang dimiliki. Yang terpenting adalah kemampuan menentukan prioritas sehingga kebutuhan, tabungan, dan keinginan dapat dikelola secara seimbang.
“Enggak salah untuk memenuhi keinginan, tapi harus kita pilih mana yang menjadi top priority,” tuturnya.
Melalui pembekalan tersebut, penerima Dana Abadi UB diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan prestasi akademik, tetapi juga memiliki kecakapan mengelola keuangan sebagai bekal menuju kehidupan setelah lulus. (nid)














