Oleh: dr. Kresna Septiandy Runtuk, Sp.KJ, M.Biomed*
Kemajuan teknologi membuat manusia semakin mudah mencari jawaban atas berbagai persoalan, termasuk ketika berhadapan dengan kondisi psikologis. Ketika sulit tidur, mudah marah, merasa lelah, cemas, atau kehilangan semangat, kita hanya perlu mengetikkan gejala tersebut ke mesin pencarian atau chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dalam hitungan detik, berbagai kemungkinan penyebab bahkan diagnosis dapat muncul.
Kemudahan tersebut tentu memiliki manfaat. AI dapat menjadi pintu awal untuk mengenali informasi mengenai kesehatan mental. Namun, ada persoalan yang perlu kita waspadai: ketika kemudahan mendapatkan informasi membuat kita merasa mampu mendiagnosis diri sendiri.
Memahami istilah kesehatan mental tidak sama dengan memahami kondisi diri sendiri. AI dapat memproses informasi, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk merasakan emosi manusia. Karena itu, teknologi semestinya digunakan sebagai alat bantu untuk memperoleh informasi, bukan sebagai pengganti profesional kesehatan mental.
Baca juga:
Flu Bukan Sekadar Batuk dan Demam, Kenali Tanda Bahayanya

Stres Bukan Selalu Sesuatu yang Buruk
Stres merupakan bagian dari kehidupan. Ketika seseorang menghadapi tuntutan dari lingkungan maupun dirinya sendiri, muncul tekanan yang mendorong manusia memberikan respons. Karena itu, stres tidak selalu berarti sesuatu yang buruk.
Dalam kadar tertentu, stres justru dapat menjadi dorongan untuk berkembang. Ketika menghadapi ujian, misalnya, rasa tertekan dapat membuat seseorang belajar lebih serius, memperbaiki kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan. Kondisi ini dikenal sebagai eustress, yaitu stres yang masih dapat memberikan dampak positif.
Persoalan muncul ketika tekanan semakin besar dan tidak mampu dikelola. Stres yang berkepanjangan dapat berubah menjadi distress, terutama ketika beban yang dihadapi sudah melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.
Salah satu kondisi yang dapat muncul adalah burnout. Namun, burnout bukan sekadar rasa lelah karena terlalu banyak aktivitas. Ada kelelahan emosional yang membuat seseorang terus merasa kurang meskipun telah melakukan banyak hal. Pada kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat merasa seperti robot dan kehilangan rasa menjadi dirinya sendiri.
Di sinilah pentingnya membedakan stres, burnout, dan depresi. Depresi merupakan gangguan jiwa yang melibatkan berbagai faktor, mulai dari biologis dan psikologis hingga faktor keturunan pada sebagian orang. Kondisinya dapat memengaruhi konsentrasi, tidur, pola makan, energi, hingga memunculkan pikiran untuk mengakhiri hidup.
Ketiganya tidak dapat disamakan hanya karena sama-sama membuat seseorang merasa lelah atau tidak bersemangat. Label yang terburu-buru justru dapat membuat seseorang salah memahami kondisi dirinya.
Cemas Adalah Sinyal, Bukan Selalu Gangguan
Hal yang sama berlaku pada kecemasan. Tidak setiap rasa cemas berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan.
Rasa takut dan khawatir merupakan bagian dari mekanisme manusia untuk bertahan hidup. Takut biasanya memiliki objek yang lebih jelas, sementara kekhawatiran sering berkaitan dengan sesuatu yang belum pasti.
Kekhawatiran mengenai masa depan, misalnya, dapat mendorong seseorang mempersiapkan diri, menabung, atau mengurangi pengeluaran yang tidak diperlukan. Dalam kondisi seperti itu, kecemasan justru memiliki fungsi adaptif. Ia menjadi sinyal agar manusia melakukan sesuatu untuk menghadapi kemungkinan yang dianggap mengancam.
Namun, situasinya berbeda ketika kecemasan muncul secara berlebihan dan terus-menerus. Ketika seseorang merasa cemas dari pagi hingga malam, sulit tidur, sulit berkonsentrasi karena overthinking, mudah marah, bahkan mengalami serangan panik, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Karena itu, kita perlu melihat kecemasan bukan hanya dari keberadaannya, tetapi juga dari intensitas, durasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Tidak semua rasa cemas harus diberi label sebagai gangguan. Yang lebih penting adalah memahami kapan kecemasan masih menjadi respons yang adaptif dan kapan sudah mulai mengganggu fungsi kehidupan seseorang.
Jangan Biarkan AI Menggantikan Profesional
Di tengah maraknya AI, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana menggunakan teknologi, tetapi bagaimana menggunakannya secara tepat.
AI merupakan kecerdasan buatan yang bekerja berdasarkan algoritma dan informasi yang tersedia. Ia dapat mengenali pola, membandingkan informasi, dan memberikan jawaban dengan cepat. Namun, AI tidak memiliki pengalaman emosional seperti manusia.
Ketika seseorang mengatakan, āSaya capekā, misalnya, kalimat yang sama dapat memiliki banyak makna. Rasa lelah bisa berakar dari kesedihan, kemarahan, ketakutan, tekanan, kehilangan, atau pengalaman emosional lainnya.
Nuansa seperti ini tidak dapat begitu saja dipahami hanya melalui satu kalimat atau serangkaian algoritma.
Karena itu, self-diagnosis sangat tidak disarankan. Yang lebih penting adalah membangun self-awareness, yaitu kemampuan untuk menyadari bahwa kondisi diri sedang tidak baik-baik saja.
Self-awareness membuat seseorang mampu mengenali perubahan dalam dirinya tanpa terburu-buru memberikan diagnosis. Ketika muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan, langkah berikutnya adalah mencari bantuan kepada profesional.
Kita tidak perlu menunggu sampai kondisi menjadi sangat berat. Konsultasi dapat dilakukan ketika seseorang merasa membutuhkan tempat untuk bercerita, memahami kondisi dirinya, atau mencari cara menghadapi persoalan yang sedang dialami.
Namun, ada kondisi yang membutuhkan perhatian lebih segera, seperti munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup, perubahan drastis pola tidur dan makan, halusinasi, atau perawatan diri yang sudah sangat terganggu.
Pada kondisi tersebut, mencari bantuan bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, meminta pertolongan merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Menghapus Stigma, Membuka Akses
Persoalan kesehatan mental juga tidak dapat dilepaskan dari stigma. Masih ada anggapan bahwa mencari bantuan profesional berarti seseorang mengalami gangguan jiwa yang berat.
Padahal, manusia tanpa gangguan jiwa pun dapat mengalami kerentanan psikologis. Kita semua dapat mengalami tekanan, kehilangan, kecemasan, kesedihan, maupun kelelahan emosional dalam fase kehidupan tertentu.
Gangguan kecemasan dan depresi memang termasuk gangguan jiwa, tetapi kondisi tersebut dapat ditangani. Semakin cepat seseorang mendapatkan bantuan yang sesuai, semakin besar kesempatan untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Bagi mahasiswa, persoalan lain yang sering muncul adalah akses dan biaya. Namun, layanan kesehatan mental tidak selalu harus identik dengan biaya yang mahal.
Di Universitas Brawijaya tersedia layanan peer counseling melalui ULTKP. Sejumlah BEM fakultas juga telah mendapatkan pelatihan peer support untuk memberikan ruang aman dan mendampingi mahasiswa agar dapat memperoleh bantuan profesional.
Selain itu, layanan psikiatri dapat diakses melalui BPJS Kesehatan dengan memulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat 1. Jika kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien dapat memperoleh rujukan ke rumah sakit, termasuk Rumah Sakit Universitas Brawijaya.
Dengan demikian, persoalan kesehatan mental bukan hanya tentang kesadaran untuk mencari bantuan, tetapi juga tentang memastikan bahwa bantuan tersebut mudah dijangkau.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia, bukan menggantikan hubungan manusia dengan manusia.
AI dapat menjadi sumber informasi awal. Ia dapat membantu kita mengenali istilah, mencari informasi, atau memahami bahwa sesuatu yang kita rasakan mungkin perlu mendapat perhatian. Tetapi kesehatan mental membutuhkan pemahaman yang lebih utuh terhadap pengalaman, emosi, lingkungan, dan kondisi seseorang.
Kita tidak perlu menunggu sampai benar-benar jatuh untuk mengakui bahwa diri sedang lelah. Kita juga tidak perlu malu untuk meminta bantuan.
Yang perlu dibangun bukan kebiasaan mencari diagnosis dari internet, melainkan keberanian untuk mengenali diri sendiri.
Sebab, AI mungkin bisa menjawab apa yang kita ketik, tetapi hanya manusia yang dapat memahami apa yang sebenarnya kita rasakan.
*) dr. Kresna Septiandy Runtuk, Sp.KJ, M.Biomed
Penulis adalah dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) yang berpraktik di Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) Kota Malang, Jawa Timur














