Kanal24, Malang – Prestasi akademik menjadi salah satu modal penting bagi mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan. Namun, capaian akademik saja dinilai belum cukup untuk menghadapi dunia kerja yang menuntut kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, dan berinisiatif.
Pesan tersebut disampaikan alumni Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) tahun 1994, Ardantya Syahreza, saat memberikan pembekalan kepada penerima Beasiswa Dana Abadi UB dalam kegiatan Pembekalan Penerima Beasiswa Dana Abadi Semester Ganjil 2026 di Ruang Sidang Lantai 8 Gedung Rektorat UB, Sabtu (3/10/2026).
Ardantya mengatakan, penerima beasiswa tidak hanya perlu mempertahankan prestasi akademik, tetapi juga harus memanfaatkan kesempatan selama menjadi mahasiswa untuk mengembangkan karakter dan soft skill.
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi penting karena tuntutan di lingkungan akademik tidak selalu sama dengan kebutuhan di dunia kerja.
Baca juga:
Dana Abadi UB Tekankan Amanah Beasiswa, Penerima Didorong Berkontribusi untuk Kampus

“Akademis tidak selalu bisa 100 persen relevan terhadap dunia praktik di luar,” ujar Ardantya.
Ia menjelaskan, dalam proses rekrutmen di dunia kerja, perusahaan tidak hanya mempertimbangkan kemampuan akademik atau keahlian teknis seseorang. Kemauan untuk terus belajar, bekerja keras, serta kemampuan bekerja dalam tim juga menjadi pertimbangan.
“Di perusahaan kita akan lebih memilih teman-teman yang mau belajar dan mau kerja keras daripada mungkin yang sudah pintar tapi tidak bisa bekerja sama,” katanya.
Leadership dan Kepercayaan Jadi Bekal
Ardantya juga menekankan pentingnya kemampuan memimpin dan membangun kepercayaan. Menurutnya, seseorang yang memiliki keahlian tertentu tetap membutuhkan kemampuan berinteraksi dan bekerja bersama orang lain untuk dapat berkontribusi secara optimal di lingkungan kerja.
“Kita juga akan lebih memilih teman-teman yang mampu memimpin dan bisa dipercaya daripada teman-teman yang mungkin ahli dalam satu hal tapi tidak bisa bekerja sama,” tuturnya.
Karena itu, ia mendorong para penerima Dana Abadi untuk mulai membangun kemampuan sosial sejak masih berada di bangku kuliah. Pengalaman mengikuti organisasi maupun terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan dinilai dapat menjadi ruang untuk melatih kemampuan tersebut.
Ardantya menyebut pengalaman memimpin organisasi dapat menunjukkan karakter proaktif seseorang. Hal itu, menurutnya, menjadi salah satu nilai yang diperhatikan oleh pihak yang merekrut tenaga kerja.
“Kalau dia punya pengalaman sosial atau organisasi, pernah memimpin, ketua apa pun itu, itu akan jauh lebih menunjukkan bahwa dia orangnya proaktif,” ujarnya.
Tantangan Awardee, Seimbangkan Prestasi dan Karakter
Ardantya menilai penerima Dana Abadi memiliki tantangan untuk menjaga keseimbangan antara prestasi akademik dengan pengembangan diri. IPK tetap penting sebagai bagian dari perjalanan pendidikan, tetapi mahasiswa juga perlu mempersiapkan kompetensi yang akan digunakan setelah lulus.
Ia menyebut kemampuan bersosialisasi, bekerja sama, berinisiatif, serta pengalaman memimpin sebagai sejumlah keterampilan yang perlu dibangun sejak mahasiswa.
“Teamwork itu juga satu skill. Jadi kepandaian itu tidak selalu cukup, tapi juga perlu kemampuan untuk bisa bersosialisasi, kerja sama, berinisiatif dan seterusnya,” jelasnya.
Pembekalan tersebut diharapkan dapat mendorong penerima Dana Abadi untuk tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menggunakan masa perkuliahan sebagai kesempatan membangun karakter dan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. (nid)














