Kanal24, Malang – Memasuki dunia perkuliahan bukan hanya soal beradaptasi dengan tugas, jadwal kuliah, dan lingkungan baru. Kondisi mental mahasiswa juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sejak awal. Karena itu, Universitas Brawijaya (UB) mulai memperkuat tindak lanjut hasil skrining kesehatan mental mahasiswa baru agar persoalan yang teridentifikasi tidak berhenti sebagai data.
Langkah tersebut dilakukan melalui sosialisasi hasil skrining kesehatan mental mahasiswa baru kepada jajaran pimpinan universitas dan fakultas. Kegiatan yang digelar Direktorat Kemahasiswaan berlangsung di Ruang Akasia Ballroom 1 Lantai 5 Savana Hotel & Convention Malang, Rabu (7/10/2026). Hasil skrining diharapkan menjadi dasar bagi kampus untuk memberikan pendampingan dan penanganan sesuai kebutuhan mahasiswa.
Baca juga:
FEB UB Dorong Mahasiswa Pascasarjana Kuasai Metodologi Riset
Hasil Skrining Jadi Dasar Pendampingan
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa UB, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H., mengatakan hasil skrining perlu diketahui pimpinan fakultas agar dapat ditindaklanjuti selama mahasiswa menjalani pendidikan di UB.

Menurutnya, informasi hasil skrining menjadi dasar bagi pimpinan fakultas untuk memahami kondisi kesehatan mental mahasiswa sekaligus menentukan langkah pendampingan yang diperlukan.
“Sehingga dengan demikian maka diharapkan selama proses mahasiswa baru itu menjalani pendidikannya di Universitas Brawijaya nanti kesehatan mentalnya bisa dikawal,” ujar Setiawan.
Pengawalan tersebut dinilai penting karena persoalan kesehatan mental dapat berdampak terhadap keberhasilan studi mahasiswa. Karena itu, kondisi yang teridentifikasi melalui skrining perlu diikuti dengan langkah pendampingan yang tepat.
Kepala Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan UB, Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan sosialisasi dilakukan agar pimpinan memahami kondisi kesehatan mental di lingkungan UB.
Informasi yang disampaikan tidak membuka identitas mahasiswa. Data digunakan untuk melihat gambaran persoalan kesehatan mental, faktor penyebab, dampak, serta strategi pencegahan dan penanganan yang dapat dilakukan.
“Kita rahasiakan istilahnya nama-nama orangnya, tetapi lebih pada, oh ini loh ada informasi terkait dengan problem kesehatan mental yang ada di Universitas Brawijaya,” jelas Ulifa.
Pimpinan Kampus Perlu Lebih Responsif
Sosialisasi hasil skrining melibatkan berbagai unsur di lingkungan UB. Ulifa menyebut peserta berasal dari jajaran pimpinan universitas dan fakultas, termasuk wakil rektor, wakil dekan, ULT dan KSP, komite etik, Satgas, K3L hingga unsur keamanan.

Pelibatan lintas unsur tersebut dilakukan karena pendampingan kesehatan mental tidak dapat berjalan hanya melalui satu unit. Setiap bagian memiliki peran sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan situasi yang dihadapi.
Pimpinan juga perlu memahami dukungan yang dapat diberikan kepada mahasiswa. Dukungan tersebut dapat berupa fasilitas, sarana prasarana, kebijakan hingga koordinasi dengan tenaga profesional.
“Karena bagaimanapun juga terkait dengan masalah kesehatan mental ini bukan hanya diri sendiri saja ya, tetapi juga tanggung jawab dari lingkungan yang ada di Universitas Brawijaya,” kata Ulifa.
Menurutnya, peningkatan kesadaran di lingkungan kampus akan membantu mahasiswa memperoleh bantuan lebih cepat ketika menghadapi persoalan kesehatan mental. Lingkungan sekitar juga diharapkan mampu mengenali tanda-tanda ketika seorang mahasiswa membutuhkan dukungan.
Setiawan menambahkan, mahasiswa juga perlu memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan mental selama menjalani proses pendidikan.
“Karena kesehatan mental itu ternyata merupakan peran penting bagi keberhasilan mahasiswa tersebut selama studinya nanti,” ujarnya.
Dengan pemahaman tersebut, kesehatan mental diharapkan tidak lagi dipandang sebagai persoalan pribadi semata. Kampus juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung mahasiswa ketika menghadapi persoalan psikologis.
Skrining Dilanjutkan dengan Pendampingan
UB menargetkan hasil sosialisasi tersebut ditindaklanjuti melalui berbagai program. Ulifa menyebut tindak lanjut mencakup pendampingan, psikoedukasi, pencegahan hingga penanganan kesehatan mental.
Pelaksanaannya akan melibatkan berbagai unsur sesuai dengan tugas masing-masing. Satpam, misalnya, perlu memahami penanganan awal dan aspek pengamanan. Sementara ULT dan KSP dapat memperkuat layanan konseling serta mendorong peran dosen pembimbing akademik.
Di tingkat universitas, layanan dan psikoedukasi juga akan terus didorong agar kesadaran mengenai kesehatan mental dapat tumbuh di seluruh lingkungan kampus.
“Target setelah kegiatan ini terlaksana ada tindak lanjut. Yang pertama adalah tindak lanjut terkait dengan pendampingan terkait dengan kesehatan mental seperti apa. Terus ada psikoedukasi, ada juga pencegahan dan juga ada penanganan,” tutur Ulifa.
Dengan demikian, hasil skrining mahasiswa baru tidak berhenti sebagai pemetaan kondisi kesehatan mental. Data tersebut menjadi pijakan awal bagi UB untuk memperkuat sistem deteksi, pendampingan dan penanganan mahasiswa.
Upaya tersebut diharapkan membuat mahasiswa baru tidak berjalan sendiri ketika menghadapi persoalan kesehatan mental. Di sisi lain, lingkungan kampus juga dituntut semakin peka agar dukungan dapat diberikan sedini mungkin. (ern)













