Kanal24, Malang – Pengalaman belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Berinteraksi dengan masyarakat, mengenal kehidupan pedesaan, hingga memahami aktivitas sehari-hari warga menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memberikan perspektif baru bagi siswa. Pengalaman tersebut dihadirkan melalui kegiatan Brascho Nyantrik 2026 yang diselenggarakan SMA Brawijaya Smart School di Dusun Ngebrong, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
Berlangsung pada Kamis (8/10/2026), kegiatan ini mengajak siswa belajar langsung dari masyarakat sekaligus mempraktikkan pengetahuan yang telah diperoleh di sekolah. Melalui pengalaman tersebut, siswa diharapkan mampu mengembangkan empati, meningkatkan kemampuan beradaptasi, dan memahami nilai-nilai sosial sebagai bekal untuk kehidupan bermasyarakat.
Baca Juga:
Lintas Profesi, Alumni D3 FBiPK UB Dorong Kolaborasi Sektor Pangan
Nyantrik Jadi Sarana Pembelajaran Mendalam
Ketua Pelaksana Brascho Nyantrik 2026, Andrean Fahreza Nur Wicaksana, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan SMA Brawijaya Smart School yang terintegrasi dengan kurikulum pembelajaran. Program ini juga menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran mendalam melalui pengalaman langsung di lingkungan masyarakat.

Menurut Andrean, tujuan utama kegiatan ini adalah melatih soft skill siswa, terutama kemampuan membangun simpati dan empati. Melalui interaksi dengan masyarakat pedesaan, siswa diharapkan dapat mengenal kehidupan warga, memahami pekerjaan yang mereka lakukan, serta melihat secara langsung kondisi sosial yang berbeda dari keseharian di sekolah.
Selain mengenal kehidupan masyarakat, siswa juga didorong untuk menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari di kelas. Bekal tersebut digunakan untuk melakukan observasi, berdiskusi, dan menggali pengalaman warga selama mengikuti kegiatan di desa.
Dengan pendekatan tersebut, Nyantrik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan pembelajaran akademik dengan realitas sosial. Proses ini diharapkan membantu siswa memahami bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui materi pelajaran, tetapi juga melalui pengalaman, interaksi, dan keterlibatan langsung dengan lingkungan sekitar.
Interaksi Sosial Perkuat Karakter Siswa
Guru pendamping SMA Brawijaya Smart School, Serli, S.IP., menyampaikan bahwa kegiatan Nyantrik dirancang untuk memperkenalkan siswa pada kehidupan masyarakat secara langsung. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk belajar beradaptasi dengan lingkungan baru dan membangun hubungan sosial di luar lingkup sekolah.

Selama kegiatan berlangsung, nilai sopan santun dan kejujuran menjadi dua hal yang ditekankan kepada para peserta. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan ketika siswa berinteraksi dengan keluarga inang maupun masyarakat setempat.
Menurut Serli, keterbatasan sinyal di lokasi kegiatan juga membuat siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi secara langsung tanpa terlalu bergantung pada gawai. Kondisi tersebut turut membuka ruang bagi peserta untuk mempererat hubungan dengan teman-teman dari tingkat kelas yang berbeda.
Siswa kelas X dan XI yang tinggal bersama keluarga inang dapat menjalani aktivitas dalam lingkungan yang sama. Pengalaman ini menjadi bagian dari proses belajar untuk bekerja sama, menyesuaikan diri, serta menghargai kehidupan masyarakat setempat.
Kemampuan beradaptasi tersebut dinilai penting sebagai bekal bagi siswa ketika kelak terjun ke masyarakat. Melalui pengalaman Nyantrik, peserta diharapkan semakin siap menghadapi lingkungan baru, menempatkan diri dengan baik, dan membangun interaksi sosial yang positif.
Pengalaman Bermasyarakat Diharapkan Berlanjut
Melalui Brascho Nyantrik 2026, SMA Brawijaya Smart School berharap siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang dapat diterapkan setelah kembali ke lingkungan sekolah maupun keluarga masing-masing. Pembelajaran yang didapatkan dari masyarakat diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman selama kegiatan, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Andrean menjelaskan bahwa tema kegiatan tersebut mengandung semangat untuk meraih pengetahuan dari para sesepuh dan orang-orang yang memiliki pengalaman hidup. Tema “Anggayuh Kawruhing Sesepuh, Pinisepuh, lan Ajisepuh ing Dukuh Sesuluh” merefleksikan upaya siswa untuk menimba pengetahuan dari masyarakat yang menjadi tempat mereka belajar selama kegiatan berlangsung.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diamalkan di lingkungan sekitar setelah kegiatan berakhir. Dengan demikian, pengalaman belajar di desa tidak hanya memperluas wawasan siswa, tetapi juga mendorong mereka untuk lebih peduli dan menghargai kehidupan masyarakat.
Sejalan dengan tujuan tersebut, Serli berharap kemampuan siswa dalam beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan baru semakin berkembang. Keterampilan ini diharapkan dapat membantu mereka menjalani kehidupan bermasyarakat setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah.
Melalui kegiatan ini, Brascho Nyantrik 2026 menjadi salah satu upaya SMA Brawijaya Smart School dalam menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan di kelas dengan pengalaman nyata. Interaksi bersama masyarakat diharapkan mampu memperkuat karakter siswa, menumbuhkan empati, serta membekali mereka dengan kemampuan sosial yang bermanfaat dalam kehidupan mendatang. (gal)














