Kanal24, Malang – Produk seperti keripik singkong, keripik tempe, noga wijen, kue basah, kain tenun hingga berbagai aksesori khas Papua menjadi bagian dari aktivitas usaha masyarakat Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Produk tersebut menunjukkan potensi ekonomi lokal, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mengenali pasar, membangun identitas produk, dan memperkuat legalitas usaha.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pendampingan Tim 7 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya (UB) kepada lebih dari 30 pelaku UMKM di Klamono. Melalui pelatihan pemasaran dan akses pasar, pelaku usaha tidak hanya diajak melihat produk yang mereka hasilkan, tetapi juga memahami siapa calon pembelinya, bagaimana memetakan pasar, serta bagaimana membangun identitas usaha agar lebih mudah dikenali.
Baca Juga:
Lintas Profesi, Alumni D3 FBiPK UB Dorong Kolaborasi Sektor Pangan
Mengenali Pembeli Sebelum Membaca Pasar
Pendampingan yang berlangsung di Aula Kantor Distrik Klamono pada September 2026 tersebut salah satunya membahas materi “Mengenal Pembeli dan Memetakan Pasar”.

Pelaku UMKM diarahkan untuk mengidentifikasi sedikitnya lima alternatif calon pembeli dan memetakan pasar yang dapat mereka jangkau. Langkah tersebut menjadi penting karena kemampuan menghasilkan produk perlu diikuti dengan pemahaman mengenai konsumen dan jalur pemasaran.
Artha Suprayogi Widyana, S.Hut., narasumber dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Sorong, mengatakan pemahaman terhadap calon pembeli perlu menjadi dasar sebelum pelaku usaha menentukan strategi penjualan.
“Sebelum bicara harga dan volume, pelaku usaha perlu tahu lebih dulu siapa pembelinya dan di mana pasarnya. Dari situ mereka bisa menentukan ke mana produknya dijual,” kata Artha.
Pemetaan tersebut diharapkan membantu pelaku usaha menentukan pasar yang lebih sesuai dengan karakteristik produknya. Dengan demikian, pemasaran tidak hanya bergantung pada konsumen di lingkungan sekitar, tetapi dapat diarahkan secara bertahap ke pasar yang lebih luas.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Distrik Klamono Oktofianus Kolin, S.Pd.K., M.M., dan Sekretaris Distrik Klamono Handry Amike, SE.
Membangun Identitas agar Produk Lebih Dikenal
Selain memahami pasar, pelaku UMKM juga mendapatkan pendampingan mengenai nama dan identitas produk. Workshop tersebut mendorong setiap pelaku usaha untuk mulai memikirkan identitas yang dapat membedakan produknya dari produk lain.
Tim turut melihat kemungkinan nama usaha yang digunakan untuk diajukan sebagai merek. Beberapa nama yang masih terlalu umum diarahkan untuk diperbaiki agar memiliki identitas yang lebih spesifik dan berpeluang dikembangkan sebagai merek.
Hadi Saputro, S.Pd., narasumber lainnya, menilai identitas produk tidak hanya berkaitan dengan nama, tetapi juga menjadi bagian dari cara konsumen mengenali dan mengingat sebuah produk.
“Nama dan identitas yang jelas membuat produk lebih mudah dikenali dan diingat pembeli. Karena itu nama usaha perlu dipikirkan sejak awal, termasuk apakah nama itu bisa diajukan sebagai merek,” ujarnya.
Produk yang dikembangkan pelaku usaha Klamono cukup beragam. Produk pangan meliputi keripik singkong, keripik tempe, noga wijen, kue putar, dan berbagai kue basah.
Sementara itu, produk nonpangan antara lain tas dan aksesori rajut, kain tenun, mahkota etnik Papua, anting kerang, serta gantungan kunci.
Keragaman tersebut menjadi modal yang dapat dikembangkan lebih jauh melalui penguatan identitas, kemasan, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik masing-masing produk.
Pendampingan Berlanjut ke Legalitas dan Kemitraan
Penguatan UMKM tidak berhenti pada persoalan pemasaran dan branding. Legalitas usaha juga menjadi bagian dari pendampingan karena masih terdapat pelaku UMKM yang belum menyelesaikan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB).

Sebagian pelaku usaha telah mendapatkan pendampingan, sementara lainnya masih perlu melengkapi persyaratan administrasi. Legalitas tersebut menjadi salah satu bagian yang dipersiapkan agar usaha masyarakat dapat berkembang dan memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai peluang kerja sama.
Ketua Tim 7 TEP UB, Sri Palupi Prabandari, SE., MM., PhD., mengatakan potensi produk masyarakat Klamono menjadi salah satu modal yang perlu diperkuat melalui kemampuan membaca pasar dan membangun identitas.
“Pelaku usaha di Klamono punya produk yang baik. Yang kami dampingi adalah cara mengenali pembeli, membaca pasar, dan menyiapkan identitas produk agar nilainya lebih terlihat,” ujarnya.
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari program pemasaran dan akses pasar yang dijalankan dalam rangkaian TEP 17 UB 2026 di kawasan Klamono–Segun.
Hingga akhir 2026, pendampingan direncanakan berlanjut melalui sejumlah agenda, mulai dari pelatihan penawaran produk dan negosiasi harga, pembentukan kelembagaan agregasi komoditas, finalisasi kemasan dan label, hingga penjajakan kerja sama dengan calon pembeli maupun mitra.
Rangkaian tersebut diarahkan agar pelaku UMKM tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menentukan pasar, membangun identitas, memenuhi aspek legalitas, dan membuka akses terhadap calon pembeli.
Dengan pendekatan tersebut, pendampingan UMKM di Klamono tidak berhenti pada pelatihan satu kali, melainkan menjadi bagian dari proses membangun ekosistem usaha lokal yang lebih siap menghadapi pasar.(gal)













