Kanal24, Malang – Perairan Segun menjadi ruang belajar sekaligus ruang uji bagi nelayan dan Tim 7 Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya (UB). Di Muara Klasin, Klasegun, Distrik Segun, Papua Barat Daya, dua konstruksi alat tangkap rawai diuji langsung untuk melihat bagaimana kinerjanya ketika berhadapan dengan kondisi perairan yang selama ini menjadi wilayah tangkap nelayan setempat.
Dari proses setting hingga hauling, nelayan tidak hanya terlibat dalam pengoperasian alat, tetapi juga memberikan pengalaman dan masukan kepada tim. Uji coba kedua ini menjadi bagian dari proses evaluasi untuk melihat kesesuaian konstruksi rawai dengan kondisi perairan dan karakteristik ikan di wilayah Segun.
Baca Juga:
Green Market PSDKU Kediri UB Perluas Pasar UMKM Mrican
Menguji Dua Konstruksi Rawai
Uji coba dilakukan melalui proses setting pada 12 September 2026 dan dilanjutkan dengan hauling pada 13 September 2026. Dalam pengujian tersebut, Tim 7 mengoperasikan dua model rawai dengan jumlah mata kail berbeda, yakni 35 mata kail dan 30 mata kail.

Rawai dengan 35 mata kail dioperasikan sekitar pukul 17.00 WIT pada kedalaman 6,6 meter. Sementara rawai dengan 30 mata kail dioperasikan sekitar pukul 17.27 WIT pada kedalaman 10,45 meter.
Selain jumlah mata kail, tim juga mengamati perbedaan konstruksi antara rawai dasar dan rawai midwater. Rawai dasar menggunakan dua pelampung bola sebagai penanda pada kedua ujung mainline.
Sementara itu, rawai midwater menggunakan 29 pelampung busa untuk 30 mata kail. Perbedaan konstruksi tersebut menjadi bagian dari pengamatan untuk melihat respons masing-masing alat ketika dioperasikan langsung dalam kondisi perairan Segun.
Pengujian lapangan dilakukan untuk mengamati sejumlah aspek yang tidak selalu terlihat pada tahap persiapan alat. Pergerakan alat, pengaruh arus, posisi rawai di dalam air, hingga proses pengangkatan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan bagian konstruksi yang masih perlu disesuaikan.
Pengalaman Nelayan Jadi Bahan Evaluasi
Keterlibatan nelayan lokal menjadi bagian penting dalam uji coba. Pengalaman mereka dalam mengenali kondisi perairan membantu Tim 7 melihat penggunaan alat dari perspektif praktik penangkapan sehari-hari.
Interaksi selama kegiatan juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai kondisi perairan dan jenis ikan yang umum ditemukan di sekitar lokasi.
Salah satu nelayan Distrik Segun, Yulul, menyebut ikan sembilang cukup banyak ditemukan di sekitar wilayah tersebut. Namun, jenis ikan tersebut belum banyak diminati masyarakat.
“Sembilang di sini sebenarnya cukup banyak, cuma memang belum terlalu diminati masyarakat. Selain sembilang, di sekitar sini juga masih ada ikan lain seperti kakap. Jadi kalau alatnya bisa disesuaikan lagi dengan kondisi perairan dan jenis ikan yang ada, menurut saya menarik untuk dicoba,” ungkap Yulul.
Masukan tersebut menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi kesesuaian alat dengan kondisi perairan dan karakteristik ikan yang menjadi sasaran tangkapan. Dengan demikian, keberhasilan pengujian tidak hanya dilihat dari jumlah hasil tangkapan, tetapi juga dari kemampuan konstruksi alat menyesuaikan kondisi lapangan.
Tim Catat 23 Hasil Tangkapan
Dari rangkaian pengoperasian, Tim 7 mencatat 23 hasil tangkapan yang terdiri atas 21 ekor ikan sembilang, satu ekor ikan baubara, dan satu ekor kepiting

Data tersebut menjadi salah satu bahan pengamatan dalam mengevaluasi penggunaan alat tangkap di lokasi uji coba. Namun, hasil tangkapan tersebut belum dipisahkan secara spesifik berdasarkan masing-masing model rawai maupun setiap tahapan hauling.
Karena itu, angka 23 hasil tangkapan merupakan hasil keseluruhan rangkaian pengoperasian dan belum dapat digunakan sebagai perbandingan langsung antara rawai 35 mata kail dan rawai 30 mata kail.
Selain hasil tangkapan, Tim 7 mengevaluasi konstruksi alat berdasarkan kondisi saat pengoperasian. Salah satu temuan berkaitan dengan posisi rawai ketika menghadapi arus yang menjadi masukan untuk mempertimbangkan kembali penggunaan dan penempatan pemberat agar alat tetap berada pada posisi yang diharapkan.
“Secara keseluruhan konstruksinya sudah bisa digunakan dan kami bisa melihat respons alat secara langsung. Dari uji coba ini, kami jadi tahu bagian mana yang masih perlu dibenahi, terutama supaya rawai tidak mudah bergeser ketika terkena arus. Jadi, hasil di lapangan ini penting untuk menentukan perbaikan pada uji berikutnya,” kata Lukman, salah satu anggota TEP Tim 7 UB.
Uji Lapangan Jadi Dasar Pengembangan
Uji coba kedua di Muara Klasin menjadi proses untuk mempertemukan rancangan alat dengan kondisi nyata di lapangan. Pengembangan alat tangkap tidak berhenti pada pembuatan konstruksi, tetapi membutuhkan pengujian berulang, pengamatan kondisi perairan, serta evaluasi berdasarkan hasil penggunaan.
Keterlibatan nelayan turut memberikan masukan berdasarkan pengalaman mereka dengan perairan setempat. Pengetahuan tersebut menjadi pelengkap bagi pengamatan teknis tim selama proses pengujian.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan TEP 17 UB 2026 melalui kerja sama Kementerian Transmigrasi dan Universitas Brawijaya di kawasan transmigrasi Klamono-Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Tim TEP 17 UB yang diketuai Sri Palupi Prabandari, SE., MM., PhD, bersama anggota tim menjalankan rangkaian pendampingan masyarakat di kawasan tersebut. Hasil uji rawai menjadi salah satu bahan evaluasi untuk melihat kemungkinan penyesuaian dan pengembangan alat tangkap pada tahap berikutnya.
Melalui pengujian bersama nelayan, pengembangan teknologi perikanan tidak hanya bertumpu pada rancangan teknis, tetapi juga mempertemukan hasil pengamatan tim dengan pengalaman masyarakat yang sehari-hari berhadapan langsung dengan kondisi perairan Segun.(gal)













