Kanal24, Malang – Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) memperkuat edukasi kesehatan mental dan pencegahan kekerasan di lingkungan kampus melalui kampanye “Jaga Diri, Jaga Sesama”. Kegiatan yang berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 ini diikuti sekitar 1.300 mahasiswa baru sebagai bagian dari pembekalan Pengembangan Potensi Mahasiswa (PPM) FBiPK UB 2026.
Pembekalan tersebut mengangkat pentingnya kesiapan mental dalam menghadapi kehidupan perguruan tinggi, sekaligus mendorong mahasiswa membangun pergaulan yang sehat, menolak kekerasan seksual dan perundungan, serta menjauhi penyalahgunaan narkoba. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjaga diri sekaligus berperan dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman dan saling mendukung.
Baca juga:
Brawijaya Culture & Food Festival Angkat Kuliner Nusantara di Pusat Kota Malang
Kesehatan Mental Jadi Bekal Memasuki Dunia Kampus
Ketua Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan (ULTKSP) FBiPK UB, Dwi Retnoningsih, menekankan bahwa kesehatan mental merupakan salah satu fondasi penting dalam menunjang keberhasilan mahasiswa selama menempuh pendidikan tinggi.
Menurutnya, masa transisi dari sekolah menuju perguruan tinggi menghadirkan berbagai tantangan. Mahasiswa dituntut beradaptasi dengan lingkungan baru, mengelola tuntutan akademik, serta membangun kemandirian dan hubungan sosial yang sehat.
Dalam kondisi tersebut, mahasiswa perlu memiliki kesadaran untuk mengenali persoalan yang dihadapi dan memahami kapan harus mencari bantuan. Tekanan akademik maupun persoalan pribadi sebaiknya tidak dipendam sendiri hingga mengganggu keseharian.
“Ketika menghadapi permasalahan, jangan memilih diam atau memendam semuanya sendiri. Carilah bantuan, konsultasikan persoalan yang dihadapi, dan manfaatkan layanan pendampingan yang telah disediakan oleh fakultas,” tegas Dwi.
Pesan tersebut menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental bukan hanya tentang kemampuan menghadapi tekanan, tetapi juga keberanian untuk mengakui kesulitan dan mencari dukungan yang tepat.
Cegah Kekerasan Seksual dan Perundungan
Selain kesehatan mental, pembekalan juga menyoroti pentingnya pencegahan kekerasan seksual dan perundungan di lingkungan perguruan tinggi. Upaya ini membutuhkan keterlibatan seluruh warga kampus, termasuk mahasiswa sebagai bagian dari komunitas akademik.
Dwi mengingatkan pentingnya sikap saling menghormati, memahami batasan dalam berinteraksi, serta berani melaporkan tindakan kekerasan. Kesadaran tersebut diperlukan agar mahasiswa dapat membangun relasi yang sehat dan tidak menormalisasi perilaku yang merugikan orang lain.
Kampus yang aman tidak hanya ditentukan oleh keberadaan aturan, tetapi juga oleh perilaku setiap individu dalam menghormati hak dan martabat sesama.
Melalui kampanye “Jaga Diri, Jaga Sesama”, FBiPK UB mendorong mahasiswa untuk tidak menjadi pelaku maupun membiarkan tindakan kekerasan berlangsung di sekitarnya. Kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dalam membangun budaya akademik yang aman dan inklusif.
Bangun Kepercayaan Diri dan Jauhi Narkoba
Pada sesi berikutnya, Agustinus Tedja Bawana dari Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) mengajak mahasiswa membangun kepercayaan diri, menjaga pergaulan, dan berani menolak penyalahgunaan narkoba.
Ia menyoroti beragam tantangan yang dapat dihadapi mahasiswa, mulai dari kesulitan beradaptasi, tekanan pertemanan, hingga persoalan hubungan pribadi yang berpengaruh terhadap kondisi psikologis.
Agustinus menekankan bahwa ketangguhan mental tidak berarti seseorang harus selalu terlihat kuat atau mampu menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri. Kemampuan mengenali keterbatasan, menjaga hubungan yang sehat, dan mencari pertolongan ketika diperlukan justru merupakan bagian dari kedewasaan.
“Mahasiswa yang kuat bukan yang tidak pernah rapuh, melainkan tahu cara menjaga diri dan berani mencari pertolongan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa mahasiswa perlu membangun lingkungan pertemanan yang suportif. Kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan secara sehat juga menjadi bekal untuk menghadapi tekanan sosial, termasuk ajakan melakukan perilaku berisiko.
Bentuk Karakter Mahasiswa yang Peduli Sesama
Melalui pembekalan ini, FBiPK UB menegaskan bahwa pengembangan mahasiswa tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik. Kesehatan mental, integritas, kepedulian sosial, dan kemampuan membangun relasi yang sehat juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan tinggi.
Kampanye “Jaga Diri, Jaga Sesama” diharapkan dapat mendorong mahasiswa lebih terbuka dalam mencari bantuan, berani menolak kekerasan, menjauhi narkoba, serta menghormati sesama dalam kehidupan kampus.
Pembentukan karakter tersebut membutuhkan kesadaran individu sekaligus dukungan lingkungan yang memungkinkan mahasiswa merasa aman untuk menyampaikan persoalan dan memperoleh pendampingan.
Dengan melibatkan sekitar 1.300 mahasiswa baru, FBiPK UB berupaya menanamkan pemahaman bahwa menjaga diri dan peduli terhadap orang lain merupakan tanggung jawab bersama. Langkah ini diharapkan turut memperkuat terciptanya lingkungan perguruan tinggi yang sehat, aman, inklusif, dan mendukung perkembangan mahasiswa secara menyeluruh.














