Oleh: dr. Ikhwan Handirosiyanto, Sp.JP, Subsp. P.R.Kv (K)*
Kanal24, Malang – Berlari, mengikuti maraton, bermain padel, hingga mencoba olahraga berintensitas tinggi semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Olahraga tidak lagi sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi ruang sosial, sarana aktualisasi diri, bahkan tren yang mendorong banyak orang untuk ikut mencoba.
Perubahan ini patut diapresiasi. Di tengah gaya hidup sedentari dan kebiasaan duduk terlalu lama, meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas fisik merupakan perkembangan positif. Namun, ada satu hal yang kerap tertinggal di balik antusiasme tersebut: kesiapan tubuh, terutama kesehatan jantung, untuk menghadapi beban olahraga yang dipilih.
Tidak sedikit orang yang langsung mengikuti latihan intensif setelah lama tidak berolahraga. Ada pula yang menetapkan target jarak, kecepatan, atau durasi hanya karena ingin menyamai pencapaian orang lain. Padahal, kemampuan tubuh setiap orang berbeda. Aktivitas yang terasa ringan bagi seseorang belum tentu aman bagi orang lain.
Olahraga memang penting untuk kesehatan jantung. Akan tetapi, manfaatnya tidak terlepas dari cara seseorang memulai, memilih intensitas, dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kesehatannya. Semangat berolahraga perlu berjalan beriringan dengan kesadaran untuk mengenali kemampuan tubuh.
Baca juga:
https://kanal24.co.id/hpv-bukan-kiamat-mencegah-kanker-serviks-sebelum-gejala/

Mengenali Kondisi Jantung Sebelum Meningkatkan Intensitas
Salah satu persoalan dalam tren olahraga saat ini adalah kecenderungan untuk langsung mengikuti aktivitas yang sedang populer tanpa mempertimbangkan riwayat kebugaran dan kondisi kesehatan. Seseorang yang sebelumnya jarang bergerak dapat tiba-tiba mengikuti latihan berat karena ingin mencapai hasil dalam waktu singkat.
Padahal, peningkatan beban olahraga secara mendadak dapat menjadi tantangan bagi tubuh yang belum terbiasa. Risiko juga perlu diperhatikan pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular, riwayat penyakit jantung, atau keluhan yang belum pernah diperiksa.
Pemeriksaan kesiapan berolahraga atau preparticipation screening dapat membantu mengenali kondisi yang membutuhkan perhatian sebelum seseorang memulai atau meningkatkan intensitas aktivitas fisik. Penilaian awal dapat dilakukan melalui kuesioner yang menanyakan gejala, riwayat penyakit, penggunaan obat, serta pembatasan aktivitas yang pernah disampaikan tenaga medis.
Apabila ditemukan jawaban atau kondisi yang mengindikasikan risiko, pemeriksaan lanjutan perlu disesuaikan dengan hasil penilaian klinis. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan fisik, elektrokardiogram (EKG), uji latih jantung, atau pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.
Pemeriksaan tersebut tidak berarti setiap orang yang hendak berolahraga harus menjalani seluruh tes. Kebutuhannya bergantung pada kondisi individu, jenis dan intensitas olahraga, gejala yang dialami, serta faktor risiko yang dimiliki.
Bahkan, orang yang merasa sehat tetap perlu memahami bahwa tidak semua gangguan jantung menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Karena itu, mengenali riwayat kesehatan dan melakukan penilaian secara tepat menjadi bagian penting dari persiapan berolahraga, terutama sebelum menjalani aktivitas berintensitas tinggi.
Olahraga seharusnya dimulai dengan mengenali kemampuan diri, bukan sekadar mengikuti target atau pencapaian orang lain.
Nyeri Dada dan Sesak Napas Bukan Sinyal untuk Diabaikan
Kesadaran terhadap kondisi jantung tidak berhenti pada tahap persiapan. Saat berolahraga, tubuh juga memberikan sinyal yang perlu dikenali. Napas yang meningkat dan denyut jantung yang lebih cepat dapat menjadi respons normal terhadap aktivitas fisik. Namun, keluhan tertentu tidak boleh dianggap sebagai bagian biasa dari latihan.
Nyeri atau rasa tertekan di dada, terutama ketika beraktivitas, perlu mendapatkan perhatian. Nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang, terlebih jika disertai keringat dingin, sesak napas, mual, atau rasa hendak pingsan, dapat menjadi tanda kondisi serius.
Begitu pula dengan sesak napas yang tidak sebanding dengan aktivitas, jantung berdebar disertai pusing, serta kehilangan kesadaran. Gejala tersebut bukan sesuatu yang seharusnya dipaksakan untuk dilewati demi menyelesaikan target latihan.
Jika muncul keluhan yang mencurigakan saat berolahraga, aktivitas harus segera dihentikan dan pertolongan medis dicari. Nyeri dada yang berat atau menetap, terutama bila disertai gejala lain yang mengarah pada serangan jantung, merupakan kondisi darurat yang memerlukan penanganan segera di instalasi gawat darurat. Jangan menunggu gejala mereda dengan sendirinya atau mencoba kembali berolahraga untuk memastikan kondisi tubuh.
Keluhan yang berulang meskipun kemudian menghilang juga perlu diperiksa. Gejala yang mereda tidak otomatis berarti penyebabnya tidak berbahaya.
Mengenali tanda bahaya merupakan bagian dari literasi kesehatan jantung. Keberhasilan berolahraga tidak semata-mata diukur dari jarak yang ditempuh, durasi latihan, atau beratnya beban yang mampu diselesaikan. Kemampuan untuk berhenti ketika tubuh memberikan sinyal bahaya juga menunjukkan kedewasaan dalam berolahraga.
Olahraga adalah Terapi, tetapi Harus Sesuai Kemampuan
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap risiko jantung tidak seharusnya membuat masyarakat menghindari aktivitas fisik. Olahraga tetap menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular, mengendalikan faktor risiko, dan mempertahankan kualitas hidup.
Prinsip ini juga berlaku bagi pasien yang memiliki penyakit jantung. Pasien setelah serangan jantung, pemasangan stent, operasi bypass, atau yang mengalami gagal jantung tetap dapat memperoleh manfaat dari aktivitas fisik yang direncanakan secara tepat. Namun, programnya perlu disesuaikan dengan kondisi klinis dan kemampuan fungsional masing-masing pasien.
Dalam konteks tersebut, rehabilitasi jantung berperan membantu pasien kembali aktif secara bertahap dan lebih aman. Program rehabilitasi tidak hanya mencakup latihan fisik, tetapi juga pengelolaan faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kelebihan berat badan, kebiasaan merokok, dan kadar kolesterol yang tidak terkendali.
Bagi masyarakat umum, prinsip yang dapat diterapkan adalah meningkatkan aktivitas secara bertahap. Frekuensi, intensitas, jenis, dan durasi latihan perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Aktivitas aerobik seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau berlari dapat dikombinasikan dengan latihan kekuatan sesuai kemampuan.
Target aktivitas fisik mingguan dapat dibangun secara bertahap menuju rekomendasi kesehatan yang sesuai. Bagi orang dewasa yang secara medis dapat berolahraga, aktivitas aerobik intensitas sedang selama sekitar 150–300 menit per minggu merupakan salah satu acuan umum. Namun, angka tersebut bukan target yang harus langsung dicapai oleh orang yang baru mulai aktif atau sedang menjalani pemulihan penyakit jantung.
Salah satu cara sederhana menilai intensitas adalah talk test. Pada aktivitas intensitas sedang, seseorang umumnya masih dapat berbicara dalam kalimat, meskipun napas terasa lebih cepat. Jika napas terlalu berat hingga hanya mampu mengucapkan beberapa kata, intensitas perlu diturunkan. Metode ini merupakan panduan praktis, bukan pengganti penilaian medis bagi orang dengan penyakit jantung atau gejala tertentu.
Konsistensi lebih penting daripada memaksakan diri dalam satu sesi latihan. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Peningkatan beban yang bertahap memberi kesempatan bagi kebugaran untuk berkembang tanpa menjadikan pencapaian sebagai alasan mengabaikan keselamatan.
Pada akhirnya, tujuan olahraga bukan sekadar mengikuti tren, menuntaskan tantangan, atau membuktikan kemampuan kepada orang lain. Tujuan yang lebih mendasar adalah menjaga tubuh agar tetap mampu bergerak, beraktivitas, dan menjalani kehidupan dengan kualitas yang lebih baik.
Jantung yang sehat tidak dibangun melalui keberanian memaksakan diri, melainkan melalui kebiasaan bergerak yang konsisten, pemahaman terhadap kondisi tubuh, dan keputusan yang tepat ketika tanda bahaya muncul. Olahraga perlu menjadi bagian dari kehidupan, bukan kompetisi melawan kemampuan tubuh sendiri.
*) dr. Ikhwan Handirosiyanto, Sp.JP, Subsp. P.R.Kv (K),
Penulis adalah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dengan subspesialis pencegahan dan rehabilitasi kardiovaskular.














