Kanal24, Malang – Sepuluh mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mewakili Indonesia dalam ajang VI International Olympiad on Financial Security (IOFS) 2026 yang digelar di Siberian Federal University, Krasnoyarsk, Siberia, Rusia. Ajang internasional ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan akademik sekaligus memperluas pemahaman tentang keamanan finansial di tengah perkembangan teknologi digital.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan kedatangan peserta pada 26 September 2026, dilanjutkan program utama pada 27 September hingga 2 Oktober 2026. Tahun ini menjadi tahun ketiga UB berpartisipasi dalam olimpiade tersebut.
Sepuluh mahasiswa yang menjadi delegasi Indonesia terdiri atas Charles Leonard Moniaga, Meylisa Hadi Yanti, Syafrial Ibnu Rizky Yudha, Muhammad Andi, Quinto Simbolon, Cheryl Aillish, Kelvin Harefa, Najwa Azizah, Keysha Azizah, dan Kuntari Angrani. Mereka didampingi tiga dosen, yakni Prof. Aan Eko Widiarto, Ranitya Ganindha, dan Cyndiarnis Cahyaning Putri.
Baca juga:
Tujuh Ilmuwan UB Masuk Daftar Peneliti Terbaik Dunia 2026

Prof. Aan Eko Widiarto menyampaikan bahwa keikutsertaan UB dalam olimpiade ini menjadi momentum untuk memperluas pengalaman internasional mahasiswa. Selain membawa nama universitas, para peserta juga mengemban tanggung jawab sebagai perwakilan Indonesia.
“Kami berharap pengalaman ini dapat membentuk mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik yang kuat, berwawasan global, serta mampu memahami persoalan keamanan finansial dari berbagai perspektif,” ujarnya.
Bahas Keamanan Finansial hingga Ancaman AI
IOFS 2026 diikuti 700 pelajar dan mahasiswa dari 46 negara yang telah melalui tahapan seleksi untuk mencapai babak final. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kompetisi akademik, tetapi juga menghadirkan pembelajaran mengenai berbagai isu keamanan finansial, termasuk pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Pembahasan dalam olimpiade mencakup sejumlah bidang keilmuan, mulai dari keamanan informasi, hubungan internasional, ekonomi, hingga hukum. Pendekatan lintas disiplin ini memberikan ruang bagi peserta untuk memahami persoalan keamanan finansial secara lebih luas.
Selain kompetisi, penyelenggara menghadirkan lebih dari 100 kegiatan, seperti diskusi panel, kuliah, lokakarya, pameran, kegiatan olahraga, kunjungan, dan festival budaya.
Salah satu perhatian utama dalam program tahun ini adalah pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung keamanan finansial, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk melakukan kejahatan.
Dalam jadwal kegiatan, pengerjaan soal olimpiade bagi mahasiswa dilaksanakan pada 29 September 2026. Peserta juga mengikuti lokakarya mengenai identifikasi skema pencucian uang, pemanfaatan AI untuk menjaga keamanan finansial pribadi, serta pengenalan teknologi deepfake dalam lingkungan finansial.
Dosen pendamping Ranitya Ganindha menilai kegiatan di luar kompetisi memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan yang dihadapi masyarakat global.
“Mahasiswa tidak hanya belajar melalui soal kompetisi, tetapi juga melalui diskusi, lokakarya, dan interaksi dengan peserta dari berbagai negara. Mereka dapat melihat bahwa keamanan finansial berkaitan erat dengan hukum, ekonomi, teknologi, dan kerja sama internasional,” ujarnya.
Perluas Wawasan dan Jejaring Internasional
Bagi mahasiswa, keikutsertaan dalam IOFS 2026 juga menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan sekaligus memperkaya perspektif melalui interaksi dengan peserta dari berbagai negara.
Syafrial Ibnu Rizky Yudha, yang akrab disapa Ibnu, mengatakan bahwa menjadi bagian dari delegasi Indonesia merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab.
“Melalui olimpiade ini, kami memperoleh kesempatan untuk menguji kemampuan dan memahami bahwa persoalan keamanan finansial tidak berhenti pada batas satu negara. Diskusi dengan peserta lain juga memperkaya cara kami melihat berbagai persoalan yang sebelumnya dipelajari di kelas,” ungkapnya.
Pengalaman lintas budaya turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Peserta mengikuti pembukaan Olympiad Village melalui pengibaran bendera negara peserta, kegiatan membangun kekompakan tim, serta agenda Festival Olympiad in Colours.
Charles Leonard Moniaga mengungkapkan bahwa pertemuan dengan peserta dari berbagai negara memberikan pengalaman berharga dalam membangun komunikasi dan beradaptasi dengan latar belakang budaya yang berbeda.
“Kami berharap pengetahuan dan pengalaman dari Krasnoyarsk dapat kami bawa pulang dan bagikan kepada mahasiswa lain di Universitas Brawijaya,” tuturnya.
Program IOFS 2026 ditutup dengan agenda penutupan dan pemberian penghargaan pada 2 Oktober 2026. Bagi UB, partisipasi tahun ketiga ini menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman internasional mahasiswa, memperkuat pemahaman mengenai keamanan finansial, dan membangun jejaring akademik lintas negara. (nid)














