Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) mencatat peningkatan jumlah ilmuwan yang masuk dalam daftar Top 2% Researchers tahun 2026. Sebanyak tujuh peneliti UB tercatat dalam pemeringkatan tersebut, meningkat 40 persen dibandingkan tahun 2025 yang mencatat lima peneliti.
Capaian ini tidak hanya ditandai dengan bertambahnya jumlah peneliti, tetapi juga meluasnya keterwakilan bidang keilmuan. Jika pada 2025 terdapat tiga subbidang yang terwakili, pada 2026 jumlahnya bertambah menjadi lima subbidang.
Ketua Kelompok Jabatan Fungsional Data Pemeringkatan Berbasis Web UB, Mahdin Rohmatillah, S.T., M.Sc., M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa perluasan tersebut menunjukkan beragamnya bidang penelitian yang berkontribusi dalam pemeringkatan ilmiah internasional.
“Keterwakilan bidang keilmuan juga meluas dari tiga subbidang pada 2025 menjadi lima subbidang pada 2026,” ujar Mahdin.
Baca juga:
Puluhan Ribu Hektare Terbakar, Karhutla Ancam Ekosistem Papua

Tujuh Peneliti UB di Lima Subbidang Keilmuan
Tujuh ilmuwan UB yang masuk dalam daftar Top 2% Researchers 2026 berasal dari berbagai disiplin ilmu. Mereka adalah dr. Jonny Karunia Fajar, Sp.PD.; Ir. Nurul Huda, M.Sc., Ph.D.; Raden Adharyan Islamy, S.Pi., M.P.; Dr. dr. Nur Samsu, Sp.PD., KGH.; Prof. Dr. Ir. Femiana Gapsari Madhi Fitri, S.T., M.T.; Prof. Sujarwoto, S.IP., M.Si., Ph.D.; serta Danung Nur Adli, S.Pt., M.Sc., M.Pt.
Kelima subbidang yang terwakili meliputi General & Internal Medicine, Food Science, Fisheries, Materials, serta Dairy & Animal Science.
Pada subbidang General & Internal Medicine, terdapat Jonny Karunia Fajar, Nur Samsu, dan Sujarwoto. Sementara itu, Nurul Huda tercatat dalam Food Science, sedangkan Femiana Gapsari Madhi Fitri masuk pada bidang Materials.
Dua peneliti yang melengkapi daftar tahun ini adalah Raden Adharyan Islamy dari subbidang Fisheries dan Danung Nur Adli dari Dairy & Animal Science.
Perluasan keterwakilan tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi penelitian UB berasal dari bidang kesehatan, pangan, perikanan, material, hingga peternakan.
Sejumlah Peneliti Catat Perbaikan Peringkat
Dalam daftar 2026, Jonny Karunia Fajar menempati posisi pertama di lingkungan UB dengan peringkat dunia ke-77.639.
Perbaikan posisi juga dicatatkan Femiana Gapsari Madhi Fitri. Peringkatnya meningkat dari posisi ke-273.515 pada 2025 menjadi ke-161.679 pada 2026. Sementara itu, Nur Samsu naik dari posisi ke-139.228 menjadi ke-116.295.
Perubahan peringkat tersebut menjadi bagian dari capaian para peneliti UB dalam pemeringkatan tahun ini. Meski demikian, peringkat peneliti perlu dipahami berdasarkan metodologi dan indikator bibliometrik yang digunakan dalam pemeringkatan, bukan sebagai satu-satunya ukuran kualitas maupun dampak penelitian.
Penelitian Perikanan Diarahkan pada Kebutuhan Budidaya
Bagi Raden Adharyan Islamy, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB, pemeringkatan bukanlah tujuan utama dalam menjalankan penelitian. Ia memandang publikasi ilmiah sebagai bentuk pertanggungjawaban atas penelitian sekaligus sarana agar hasilnya dapat dikembangkan dan dimanfaatkan lebih luas.
Penelitiannya berfokus pada nutrisi ikan dan lingkungan perairan. Kajian tersebut mencakup pemanfaatan bahan baku alternatif serta teknologi fermentasi untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan kecernaan pakan.
Selain itu, Adharyan mengembangkan penelitian mengenai pengelolaan kualitas air dan lingkungan budidaya. Ia juga mengkaji potensi tanaman introduksi, termasuk tanaman invasif, sebagai bahan alternatif pakan ikan.
Penelitian tersebut berpotensi mendukung pengembangan budidaya perikanan melalui pemanfaatan sumber daya alternatif dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
“Harapan saya ke depan penelitian-penelitian tersebut tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memiliki manfaat praktis dan dapat dikembangkan menjadi inovasi yang relevan untuk budidaya ikan,” ujar Adharyan.

Danung Nur Adli Kembangkan Riset Berbasis Kecerdasan Buatan
Sementara itu, Danung Nur Adli, dosen Fakultas Animal Science and Technology (FAST) UB, mengembangkan penelitian di bidang peternakan dengan memanfaatkan pendekatan analisis data dan kecerdasan buatan.
Dalam penelitiannya, Danung menggunakan meta-analysis, machine learning, deep learning, serta explainable artificial intelligence (XAI). Pendekatan tersebut digunakan untuk menganalisis dan mengolah temuan penelitian yang telah tersedia agar dapat menghasilkan pemahaman yang lebih terstruktur.
Ia memanfaatkan perangkat lunak RStudio dan Python untuk mendukung proses analisis. Penggunaan metode komputasi tersebut membuka peluang pengembangan penelitian peternakan yang lebih berbasis data.
Penerapan risetnya juga menjangkau masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan teknologi sensor suhu dan kelembapan bagi masyarakat di Bojonegoro.
Danung mengapresiasi dukungan UB yang membantu pengembangan penelitian dan pencapaian akademiknya.
“Saya apresiasi, terima kasih, karena salah satu saya bisa seperti ini karena disupport oleh UB,” ujar Danung.
Masuknya tujuh ilmuwan UB dalam daftar Top 2% Researchers 2026 menjadi capaian bagi pengembangan penelitian di lingkungan kampus. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil riset semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat, pengembangan teknologi, dan penyelesaian berbagai persoalan di bidang masing-masing. (nid/fim)















Comments 1