Kanal24, Malang – Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Rabu (14/10/2026) di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Harga minyak mentah Brent menembus US$106 per barel setelah Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan potensi berlanjutnya keterbatasan pasokan solar hingga 2027.
Mengutip CNBC, Kamis (15/10/2026), harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik 37 sen menjadi US$ 106,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 95 sen ke posisi US$ 95,09 per barel.
Penguatan harga minyak terjadi ketika pelaku pasar mencermati risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Kekhawatiran tersebut meningkat setelah fasilitas administrasi milik perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Baca juga:
Bimbingan UKEN 2026, FH UB Perkuat Kesiapan Calon Notaris
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan serangan terjadi di Dhahran, kota di pesisir timur negara tersebut. Tidak ada korban luka yang dilaporkan dalam insiden itu.
Perkembangan ini menambah tekanan terhadap pasar energi global yang sebelumnya telah menghadapi ketidakpastian akibat konflik regional dan potensi gangguan jalur perdagangan minyak.
IEA Peringatkan Pasokan Solar hingga 2027
Dalam laporan pasar minyak edisi Oktober yang dirilis Rabu, IEA memperingatkan bahwa keterbatasan pasokan solar berpotensi berlanjut hingga 2027. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena solar merupakan bahan bakar penting bagi transportasi, logistik, dan aktivitas industri.
Risiko pasokan semakin besar ketika ketegangan geopolitik mengancam produksi maupun distribusi energi. Serangan terhadap fasilitas energi dan gangguan jalur pelayaran dapat meningkatkan biaya pengiriman serta mempersempit pasokan yang tersedia di pasar internasional.
Konflik di Timur Tengah juga melibatkan kelompok Houthi yang didukung Iran dan Arab Saudi. Dalam perkembangan terkait, laporan Al Jazeera menyebut terminal energi dan cadangan bahan bakar milik Houthi di Yaman menjadi sasaran serangan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Ketegangan tersebut berlangsung di tengah hubungan Amerika Serikat dan Iran yang masih memanas. Situasi ini membuat pelaku pasar terus memperhitungkan kemungkinan gangguan lebih luas terhadap pasokan energi dunia.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Perdagangan Minyak
Selat Hormuz menjadi salah satu titik strategis yang turut diperhatikan pasar energi. Jalur pelayaran yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan lintasan penting bagi perdagangan minyak internasional.
Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan ini berpotensi menghambat pengiriman minyak dari negara-negara produsen di Teluk menuju pasar global. Dampaknya dapat meluas ke biaya transportasi, harga energi, dan ketersediaan bahan bakar di negara pengimpor.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) membantah klaim komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran yang menyatakan Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
Ketidakpastian mengenai keamanan jalur pelayaran menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga minyak. Semakin besar risiko gangguan distribusi, semakin tinggi pula perhatian pasar terhadap ketersediaan pasokan dalam jangka pendek.
Investor Perkirakan Harga Minyak Bisa Naik Lagi
Tekanan geopolitik juga mendorong sebagian investor memperkirakan harga minyak masih memiliki ruang untuk menguat. Manajer hedge fund sekaligus investor komoditas Paul Tudor Jones menilai harga minyak berpotensi naik US20hinggaUS25 per barel akibat konflik Iran.
“Saya mengambil posisi beli minyak… optimistis terhadap minyak… Saya pikir harganya bisa naik lagi US20atauUS25,” ujar pendiri sekaligus kepala investasi Tudor Investment tersebut dalam program Squawk Box CNBC.
Jones juga menilai peluang meredanya konflik dalam waktu dekat semakin terbatas. Pandangan tersebut mencerminkan kekhawatiran sebagian pelaku pasar terhadap risiko geopolitik yang dapat mengganggu pasokan energi.
Meski demikian, proyeksi kenaikan harga tersebut merupakan pandangan investor dan bukan kepastian bahwa harga minyak akan mencapai level yang lebih tinggi.
Pergerakan harga selanjutnya akan bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah, kondisi produksi dan distribusi minyak, serta upaya meredakan ketegangan di kawasan.
Bagi negara pengimpor energi, kenaikan harga minyak dunia perlu dicermati karena dapat meningkatkan biaya impor bahan bakar dan menambah tekanan terhadap perekonomian. Jika kenaikan berlangsung berkepanjangan, dampaknya berpotensi merambat ke biaya transportasi, produksi barang, dan inflasi.
Dengan demikian, perkembangan konflik geopolitik dan prospek pasokan energi global akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga minyak dalam beberapa waktu mendatang.













