Kanal24, Malang – Menulis buku di tengah padatnya aktivitas perkuliahan menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Tuntutan mengikuti kelas, menjalani praktikum, dan berorganisasi membutuhkan kemampuan mengatur waktu. Namun, aktivitas tersebut tidak menutup kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan menjadi karya tulis melalui kolaborasi dengan dosen.
Pengalaman tersebut ditunjukkan mahasiswa Teknik Industri Universitas Brawijaya (UB) melalui penyusunan buku Manajemen Risiko K3 Burnout dengan Metode HIRARC. Proses penulisan buku ini dibahas dalam kegiatan Bedah Buku yang diselenggarakan UB Press bekerja sama dengan Divisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) UB serta Perpustakaan UB, Rabu (14/10/2026). Kegiatan berlangsung di Ruang Pertemuan 1, Gedung UPT Perpustakaan UB lantai 1 dan memperkenalkan proses penyusunan buku referensi tentang manajemen risiko burnout.
Baca Juga:
Workshop K3L UB Perkuat Budaya Keselamatan di Laboratorium
Berawal dari Diskusi dan Penentuan Topik
Kepala Divisi K3L UB sekaligus dosen Teknik Industri UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, Amd.Hyp., ST., M.Kes., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa penyusunan buku berawal dari diskusi bersama mahasiswa yang bersedia terlibat dalam penulisan. Proses tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari penentuan topik hingga penyusunan kerangka buku.
Setelah topik ditentukan, mahasiswa mencari referensi yang relevan dari jurnal ilmiah, buku elektronik, dan sumber hukum. Bahan tersebut kemudian digunakan untuk mengembangkan isi buku sesuai kerangka yang telah disepakati bersama.
Prof. Qomariyatus menilai kemampuan menulis menjadi hal penting yang perlu dikembangkan mahasiswa di tengah aktivitas akademik. Menurutnya, keterlibatan dalam penyusunan buku memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengolah pengetahuan sekaligus menghasilkan karya yang dapat dibaca masyarakat.
“Semua bisa menjadi mahasiswa tapi tidak semua mahasiswa bisa menulis,” ungkap Prof. Qomariyatus.
Ia menjelaskan bahwa proses penulisan membutuhkan komitmen waktu dan diskusi berulang. Mahasiswa perlu menyesuaikan jadwal bersama dosen agar proses penyusunan buku dapat berjalan di tengah kegiatan perkuliahan.
Mengkaji Burnout melalui Metode HIRARC
Buku tersebut mengangkat manajemen risiko burnout melalui metode Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC). Metode ini mencakup identifikasi bahaya, penilaian tingkat risiko, dan penentuan langkah pengendalian. Pendekatan tersebut digunakan untuk membantu memahami risiko secara sistematis, termasuk faktor yang berpotensi memicu persoalan dalam aktivitas sehari-hari.
Mahasiswa Teknik Industri UB, Nabil Ramzi Rabbani, menjelaskan bahwa metode HIRARC dipilih karena memiliki tahapan analisis yang terstruktur. Menurutnya, metode ini membantu mengidentifikasi persoalan hingga ke akar penyebabnya, bukan hanya melihat gejala yang tampak.
“Metodenya terstruktur, jadinya kita juga bisa mengidentifikasi sampai root cause-nya, enggak cuma surface-nya aja,” jelas Nabil.
Ia menambahkan bahwa penilaian menggunakan matriks risiko membantu menentukan persoalan yang perlu diprioritaskan. Hasil penilaian tersebut kemudian menjadi dasar untuk merumuskan langkah pengendalian yang sesuai.
Sementara itu, Muhammad Fadhil, mahasiswa Teknik Industri UB, mencontohkan bahwa persoalan K3 dapat ditemukan dalam kehidupan mahasiswa. Tekanan ketika mengerjakan tugas dan konflik dalam kerja kelompok dapat menjadi sumber stres yang perlu diperhatikan.

“Stres yang berlebihan itu bisa masuk ke dalam risiko itu sendiri,” ujar Fadhil.
Kolaborasi Menyusun Isi Buku
Mahasiswa Teknik Industri UB, Muhammad Ghifary, menjelaskan bahwa proses penulisan dilakukan bersama sejak pengembangan gagasan hingga penyusunan isi setiap subbab. Diskusi dengan dosen menjadi bagian penting untuk menyepakati kerangka dan arah pembahasan sebelum materi dikembangkan lebih lanjut.

“Jadi dari awal sampai akhir itu kita kerjanya sama-sama terkait dari kerangkanya sampai isinya per subbabnya itu semuanya sama-sama,” jelas Ghifary.
Buku ini dirancang sebagai referensi dengan bahasa yang lebih umum agar dapat dipahami pembaca dari berbagai latar belakang. Dengan demikian, pembahasannya tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa Teknik Industri, tetapi juga dapat menjadi bahan pengenalan mengenai manajemen risiko K3 bagi pembaca umum.
Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa terlibat dalam proses pengembangan gagasan, pencarian referensi, dan penyusunan materi. Pengalaman ini mempertemukan pembelajaran akademik dengan praktik penulisan buku yang membutuhkan ketelitian, diskusi, dan kerja sama. (ndr)













