Kanal24, Malang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi di Tanah Papua mencapai sekitar 33.787 hektare sepanjang Januari–Juli 2026. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan, Papua Selatan menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 25.838,53 hektare.
Kabupaten Merauke menjadi daerah paling terdampak dengan luas kebakaran mencapai 25.035,87 hektare. Luasan karhutla Papua Selatan meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 2025 yang tercatat sebesar 8.107,91 hektare. Kondisi ini menempatkan Papua Selatan sebagai titik perhatian dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Baca Juga:
Asap Karhutla Meluas hingga Malaysia dan Singapura, Kualitas Udara Jadi Sorotan
Papua Selatan Mendominasi Luas Karhutla
Data SiPongi+ mencatat Papua Tengah mengalami karhutla seluas 2.519,88 hektare, disusul Papua Barat sebesar 2.486,39 hektare. Sementara itu, Papua Pegunungan mencatat 1.681,43 hektare, Papua Barat Daya 716,70 hektare, dan Provinsi Papua 544,61 hektare. Akumulasi enam provinsi tersebut mencapai 33.787,54 hektare.
Di Papua Selatan, setelah Merauke, Kabupaten Mappi mencatat kebakaran seluas 784,45 hektare dan Kabupaten Asmat sebesar 18,21 hektare. Adapun Kabupaten Boven Digoel tidak mencatat karhutla pada periode tersebut. Besarnya luasan di Merauke membuat wilayah ini menjadi kontributor terbesar kebakaran di Tanah Papua.
Titik Panas Terdeteksi di Sejumlah Wilayah
Pemantauan SiPongi+ pada Selasa (13/10/2026) pukul 17.00 WIB menunjukkan titik panas masih terdeteksi di sejumlah provinsi Papua. Di Papua Selatan, satelit NASA-Terra/Aqua mendeteksi 105 titik panas, sedangkan NASA-NOAA20 mendeteksi 1.118 titik. Angka tersebut merupakan hasil deteksi masing-masing satelit, bukan jumlah kejadian kebakaran yang telah terkonfirmasi.
Papua Tengah juga tercatat memiliki satu titik panas melalui Terra/Aqua dan 36 titik melalui NOAA20. Di Papua Barat, masing-masing satelit mendeteksi empat dan 37 titik panas. Deteksi satelit perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi aktual serta menentukan langkah penanganan.
Karhutla Ancam Ekosistem dan Kesehatan
Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan hilangnya tutupan vegetasi, tetapi juga ancaman terhadap ekosistem lahan basah dan ruang hidup masyarakat adat. Kerusakan lingkungan berpotensi mengganggu aktivitas sosial, budaya, serta mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada alam.
Di sisi kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Manokwari Alexander Takdare melaporkan 707 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga minggu ke-39 tahun 2026. Ia menjelaskan perkembangan kasus pada beberapa pekan sebelumnya.
“Kasus sempat naik jadi 628 pada minggu ke-36, kemudian turun jadi 626 pada minggu ke-37, sebelum kembali meningkat jadi 658 pada minggu ke-38,” terang Alexander Takdare, dikutip Tirto dari Antara Papua Tengah pada 9 Oktober 2026.
Meski demikian, data tersebut belum membuktikan bahwa peningkatan kasus ISPA di Manokwari disebabkan langsung oleh karhutla. Pencegahan pembakaran lahan, pemantauan wilayah rawan, dan verifikasi titik panas menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran berulang serta melindungi masyarakat dan ekosistem Papua. (ndr)













