Kanal24, Malang – Ekspor tenun ikat Indonesia meningkat 150 persen pada semester I 2026, dari US 34.000 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini membuka peluang bagi kain tradisional, termasuk ulos khas Batak, untuk memperluas pasar internasional dan meningkatkan nilai ekonomi bagi perajin.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong diversifikasi produk ulos menjadi busana siap pakai, aksesori fesyen, dekorasi interior, hingga cenderamata. Langkah tersebut diharapkan memperluas konsumen sekaligus menjaga keberlanjutan industri tenun tradisional. Dorongan ini disampaikan dalam pembukaan Pameran Tenun Ulos di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Baca Juga:
Kadin Ingatkan Aturan Ketenagakerjaan Tak Hambat Perekrutan Pekerja
Ekspor Meningkat, Peluang Pasar Terbuka
Sarmuji menilai pelestarian ulos perlu berjalan beriringan dengan pengembangan nilai ekonominya. Kain tradisional tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berpotensi mendukung penghidupan masyarakat perajin.
“Kita tidak cukup hanya menjaga agar ulos tetap ada, tetapi juga harus memastikan agar ulos tetap hidup, digunakan, berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya,” ujar Sarmuji.
Nilai ekspor tenun ikat Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar US$28.000. Capaian tersebut menjadi salah satu dasar untuk mendorong pengembangan industri tenun melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar. Namun, kenaikan ekspor secara keseluruhan tidak serta-merta menunjukkan peningkatan ekspor ulos secara khusus.
Diversifikasi Produk Perkuat Daya Saing
Pengembangan ulos menjadi produk fesyen dan aksesori dapat menjangkau konsumen yang lebih beragam, termasuk generasi muda. Diversifikasi juga membuka peluang bagi industri kecil dan menengah (IKM) untuk meningkatkan nilai tambah produk tanpa meninggalkan identitas budaya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020 mencatat terdapat 43 sentra tenun ulos di Sumatera Utara. Sentra tersebut tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Tapanuli Utara, Toba, Samosir, dan Simalungun. Keberadaan sentra produksi ini menjadi modal untuk memperkuat kapasitas usaha dan memperluas pemasaran.
Regenerasi Perajin Jadi Tantangan
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita menyebut keberlanjutan keterampilan menenun, regenerasi perajin, inovasi desain, dan kualitas produk masih menjadi tantangan industri tenun tradisional.
“Kementerian Perindustrian berkomitmen penuh untuk terus memperkuat ekosistem industri ulos melalui sejumlah program pengembangan dan pembinaan, seperti penguatan SDM dan kewirausahaan melalui pelatihan, webinar, talkshow, serta penumbuhan wirausaha baru IKM,” kata Reni.
Pemerintah juga mendorong perlindungan kekhasan produk melalui sertifikasi Indikasi Geografis. Salah satu produk yang telah memperoleh sertifikat tersebut ialah Tenun Ulos Ragidup Silindung dari Tapanuli Utara. Upaya ini diharapkan memperkuat identitas produk sekaligus meningkatkan daya saing ulos di pasar nasional dan internasional. (ndr)













