Kanal24, Malang – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Paparan asap dapat memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia. Kondisi ini membuat ketersediaan masker dan layanan kesehatan darurat menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat terdampak.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menginstruksikan pengiriman tambahan 500 ribu masker untuk setiap provinsi terdampak karhutla. Instruksi tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat koordinasi penanganan karhutla bidang kesehatan di Jakarta, Sabtu (17/10/2026). Pemerintah juga memperkuat ketersediaan konsentrator oksigen, obat-obatan, dan layanan rumah oksigen untuk menangani dampak kesehatan akibat kabut asap.
Baca Juga:
Puluhan Ribu Hektare Terbakar, Karhutla Ancam Ekosistem Papua
Kemenkes Percepat Distribusi Bantuan Medis
Penambahan masker menjadi salah satu langkah pemerintah untuk melindungi masyarakat dari paparan asap karhutla. Kemenkes juga menyiapkan oxygen concentrator (OC) atau alat konsentrator oksigen serta obat-obatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah.
Budi Gunadi Sadikin meminta distribusi bantuan medis dilakukan segera agar kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak dapat terpenuhi. Pemerintah daerah juga dilibatkan untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran.
“Kirimkan segera 500 ribu masker tambahan untuk setiap provinsi terdampak, beserta oxygen concentrator, dan pasokan obat-obatan yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan daerah,” tegas Budi dalam keterangan resmi Kemenkes.
Selain masker dan peralatan medis, ketersediaan obat untuk menangani infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare menjadi perhatian. Kedua jenis gangguan kesehatan tersebut termasuk dalam masalah yang perlu diantisipasi selama penanganan dampak karhutla.
Upaya ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Perlindungan kesehatan masyarakat juga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko akibat paparan asap yang berkepanjangan.
Tujuh Provinsi Perkuat Koordinasi Penanganan
Rapat koordinasi tersebut melibatkan tujuh provinsi terdampak karhutla, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Pertemuan itu diikuti kepala dinas kesehatan tingkat provinsi dan kabupaten/kota, kepala puskesmas, serta kepala unit pelaksana teknis (UPT) Kemenkes. Koordinasi dilakukan untuk memetakan kondisi masyarakat sekaligus memastikan bantuan medis tiba tepat waktu.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sugiono, menekankan pentingnya respons darurat terpadu antara pemerintah pusat dan daerah.
“Pemenuhan kebutuhan medis dan logistik harus dieksekusi sesegera mungkin. Kita semua harus bergerak bersama mengambil langkah cepat dan sigap untuk mengatasi ancaman kesehatan yang dihadapi masyarakat terdampak Karhutla,” ujar Sugiono.
Koordinasi lintas wilayah diperlukan agar penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Pemerintah juga menerjunkan kembali tim Pusat Krisis Kesehatan untuk memantau distribusi bantuan, operasional rumah oksigen, dan kondisi kesehatan masyarakat.
Kelompok Rentan Mendapat Perhatian Khusus
Kemenkes meminta seluruh puskesmas di wilayah terdampak membuka layanan rumah oksigen dan memastikan ketersediaan obat-obatan. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat akses masyarakat terhadap pertolongan medis selama kondisi kabut asap berlangsung.
Anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia menjadi kelompok yang mendapat perhatian khusus. Kemenkes bersama pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan tenaga kesehatan setempat menyiapkan penjangkauan layanan Posyandu dari rumah ke rumah.
Layanan tersebut diharapkan membantu kelompok rentan tetap memperoleh pelayanan kesehatan meskipun aktivitas masyarakat di luar rumah perlu dibatasi. Tenaga kesehatan juga diminta memberikan pertolongan kepada petugas pemadam kebakaran yang membutuhkan layanan medis saat bertugas di lapangan.
Selain dukungan pemerintah, masyarakat perlu mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan dinas kesehatan setempat. Mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap pekat serta segera mencari pertolongan medis ketika mengalami sesak napas menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kesehatan.
Melalui distribusi masker, penyediaan obat-obatan, dan penguatan layanan kesehatan, pemerintah berupaya menekan dampak karhutla terhadap masyarakat. Kecepatan penyaluran bantuan dan kesiapan fasilitas kesehatan menjadi faktor penting dalam melindungi warga di wilayah terdampak. (ndr)














