Kanal24, Malang – Perjalanan panjang di laboratorium, pengujian teknis berulang, hingga penyempurnaan sistem menjadi bagian dari perjuangan Tim Atyabrama Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) dalam menembus persaingan Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026. Kerja keras tersebut akhirnya berbuah prestasi dengan diraihnya Juara 2 pada Divisi Technology Development (TD) di tingkat nasional.
Tim Atyabrama mengembangkan AkashaNetra, sebuah sistem pemetaan spasial tiga dimensi yang dirancang untuk mendukung pemantauan wilayah, terutama daerah terdampak bencana alam. Inovasi ini menjadi bukti upaya mahasiswa UB dalam mengembangkan teknologi robotika yang tidak hanya kompetitif di ajang nasional, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Babak final KRTI 2026 berlangsung pada 21–25 September 2026 di Institut Teknologi Kalimantan dan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Kompetisi yang diselenggarakan melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut diikuti 94 tim dari 43 perguruan tinggi di Indonesia.
Baca juga:
Dosen FH UB Tekankan Pentingnya Mengenali Diri untuk Jaga Kesehatan Mental

AkashaNetra, Inovasi Pemetaan Tiga Dimensi
AkashaNetra merupakan sistem pemetaan spasial tiga dimensi berbasis Rotating LiDAR 2D yang dirancang sebagai perangkat modular atau payload untuk diintegrasikan dengan wahana udara tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) jenis hexacopter.
Sistem tersebut mampu menghasilkan rekonstruksi lingkungan tiga dimensi secara real-time ketika wahana beroperasi di udara. Pengembangannya difokuskan untuk mendukung misi pemantauan wilayah bencana alam secara cepat dan mandiri.
Salah satu keunggulan AkashaNetra terletak pada kemampuannya menyesuaikan resolusi spasial melalui variasi kecepatan putaran motor atau RPM. Fitur ini memungkinkan sistem digunakan untuk pemetaan area yang luas maupun inspeksi struktur secara lebih terperinci sesuai kebutuhan misi.
Melalui inovasi tersebut, Tim Atyabrama berupaya menghadirkan alternatif teknologi pemetaan tiga dimensi yang lebih terjangkau dan adaptif dibandingkan penggunaan sensor LiDAR 3D komersial.
Perjuangan Panjang Menuju Final KRTI 2026
Keberhasilan Tim Atyabrama mencapai babak final tidak diraih secara instan. Tim terlebih dahulu melewati seleksi proposal pada Juni 2026, kemudian melanjutkan perjuangan melalui Seleksi Tahap II berupa penilaian kemajuan dan wilayah.
Kelolosan ke babak final ditetapkan melalui surat resmi Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Nomor 3180/DST/B2/DT.01.02/2026 yang diterbitkan pada 20 Agustus 2026.
Tim yang terdiri atas 15 mahasiswa lintas program studi FILKOM UB tersebut dipimpin Zaskia Fitri Nur Azizah dari Program Studi Teknik Komputer angkatan 2024. Dalam persiapannya, tim mendapatkan bimbingan intensif dari Eko Setiawan, S.T., M.T., M.Eng., Ph.D.
Berbagai tahapan pengembangan dilakukan untuk memastikan sistem dapat beroperasi dengan baik saat kompetisi. Persiapan tersebut meliputi pemodelan, perakitan mekanik, pengembangan algoritma pemrosesan data, hingga serangkaian pengujian terbang atau flight test.
Rangkaian pengujian tersebut menjadi bagian penting dalam mengevaluasi keandalan AkashaNetra sebelum dihadapkan pada penilaian dewan juri. Proses ini sekaligus mengasah kemampuan mahasiswa dalam rekayasa sistem, pemecahan masalah, dan kolaborasi tim.
Raih Juara 2 dan Berpeluang Dikembangkan Lebih Lanjut
Kerja keras tersebut mengantarkan Tim Atyabrama meraih Juara 2 Divisi Technology Development pada KRTI 2026. Tim EFRISA dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya menempati posisi pertama dalam divisi tersebut.

Ketua Tim Atyabrama, Zaskia Fitri Nur Azizah, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian yang diraih bersama seluruh anggota tim. Menurutnya, penghargaan tersebut memiliki arti penting setelah melalui proses pengembangan dan perjuangan yang panjang.
“Alhamdulillah, kami bersyukur atas hasil yang kami dapatkan. Setelah melalui proses dan perjuangan yang panjang, Juara 2 ini menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi kami. Semoga AkashaNetra bisa terus kami kembangkan dan memberikan manfaat ke depannya,” ungkap Zaskia.
Pembimbing Tim Atyabrama, Eko Setiawan, turut mengapresiasi kerja keras dan dedikasi mahasiswa selama proses pengembangan hingga kompetisi. Ia berharap inovasi AkashaNetra dapat terus disempurnakan sehingga memiliki manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Capaian ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi robotika di lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji gagasan sekaligus menghasilkan inovasi yang aplikatif. Ke depan, AkashaNetra berpotensi dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pemetaan dan pemantauan wilayah, khususnya dalam penanganan bencana.
Prestasi Tim Atyabrama sekaligus memperkuat kontribusi FILKOM UB dalam pengembangan industri, inovasi, dan infrastruktur melalui teknologi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (nid)














